HARGA SEBUAH NAFSU
Kontemplasi atas Ketenangan dan Konflik: Antara Kesederhanaan dan Hegemoni
Kesederhanaan adalah epistemologi sejati menuju ketenangan batin (ataraksia), sementara kekuasaan adalah pusaran dilema yang melahirkan konflik abadi.
Dua, tiga atau sepuluh rakyat jelata dapat berbagi satu hamparan tikar tanpa benih iri atau sengketa karena kebutuhan mereka terbatas pada esensi dan hati mereka telah mencapai kelapangan (magnanimity). Mereka belajar sebuah dialektika penyesuaian diri, berbagi ruang, dan menerima kontingensi keadaan tanpa menuntut hal yang superfluous (berlebihan). Dengan demikian, harmoni terjaga abadi, bahkan dalam keterbatasan material.
Sebaliknya, dua pemegang tampuk otoritas (raja) dalam satu jurisdiksi akan sulit menemukan kohesi atau ketentraman. Kekuasaan memantik api ambisi yang tak terpadamkan, dorongan untuk mengatur (regulasi), dan perlombaan untuk dominasi hegemonik. Setiap keputusan bukan lagi soal kebutuhan substansial, melainkan tentang klaim otoritas dan ekspansi pengaruh. Ketika dua kehendak untuk memimpin berbenturan di satu arena eksistensi, benturan kepentingan (clash of interests) menjadi keniscayaan historis, dan ketenangan tereduksi menjadi utopia.
Dari antitesis ini, kita dapat menarik aksioma bahwa kedamaian (pax) tidak diukur oleh akumulasi kapital atau privilese status, melainkan oleh kemurnian hati dan kapasitas untuk penerimaan.
Sesungguhnya, di hadapan eksistensi kemanusiaan itu sendiri, sepuluh pengemis dan dua raja adalah entitas yang setara (paritas). Tidak ada diferensiasi esensial di antara mereka.
Perbedaan hakiki hanyalah ilusi yang diciptakan oleh dorongan internal (pathos) yang disebut nafsu, hasrat untuk memiliki, mengatur, dan mendominasi. Nafsu inilah satu-satunya faktor yang mampu memecah kesamaan fundamental manusia menjadi hierarki dan konflik.
Bagi jiwa yang lapang, ruang yang sempit adalah kosmos yang luas. Bagi jiwa yang ambisius, dunia yang luas hanyalah penjara sesak yang membatasi. Hanya mereka yang berhasil mendisiplinkan ego dan mengendalikan dorongan keinginan yang menemukan eudaimonia (kenyamanan/kebahagiaan sejati) dalam hidup, bukan melalui penaklukan territorial atau perolehan mandat kekuasaan.

Komentar
Posting Komentar