Sebuah ironi insan manusia yang dloif bilakah saatnya banyak orang memujanya maka berkata Tuhan memulyakan dan juga bila diberi limpahan kekayaan harta Tuhan sedang memulyakannya.
Kalau kita banyak yg hormat dan banyak kekayaan bahwa Allah swt memulyakan kita manusia... apakah benar apakah kita tahu Allah swt sedang memukyakan kita.... ??!! Pertanyaan yang menyentuh inti dari pandangan Islam tentang kemuliaan manusia, kehormatan, dan kekayaan.
Apakah benar kehormatan dan kekayaan selalu berarti Allah memuliakan kita?
Jawabannya adalah tidak selalu.
Dalam Islam, kemuliaan sejati di sisi Allah SWT tidak diukur dari seberapa banyak kehormatan (penghormatan dari manusia) atau kekayaan yang dimiliki seseorang di dunia, melainkan diukur dari ketakwaan dan keimanan seseorang.
Kekayaan, kehormatan, jabatan, dan kesenangan dunia lainnya adalah ujian atau cobaan dari Allah SWT, bisa jadi merupakan tanda kasih sayang (nikmat yang perlu disyukuri) atau justru merupakan penundaan siksa atau hukuman (disebut istidraj) bagi mereka yang jauh dari Allah.
Berikut adalah dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang relevan:
Dalil tentang Kemuliaan Manusia yang Sesungguhnya (Ketakwaan)
Allah SWT menjelaskan bahwa standar kemuliaan hakiki di sisi-Nya adalah ketakwaan.
1. Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 13)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Transliterasi: Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min zakarīw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ūbaw wa qabā'ila lita'ārafū, inna akramakum 'indallāhi atqākum. Innallāha 'alīmun khabīr.
Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa kemuliaan (akramakum) di sisi Allah ('indallāhi) adalah karena ketakwaan (atqākum), bukan karena keturunan, kekayaan, atau jabatan.
Dalil tentang Kekayaan dan Kesenangan Dunia sebagai Ujian
Allah SWT juga menjelaskan bahwa kekayaan/kesenangan dunia bisa membuat manusia salah sangka, mengira itu adalah kemuliaan, padahal itu adalah ujian.
2. Al-Qur'an (QS. Al-Fajr: 15-16)
Ayat ini secara spesifik membahas salah paham manusia mengenai ujian kekayaan dan kemiskinan:
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Transliterasi: Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhū fa akramahū wa na''amahū fa yaqūlu rabbī akraman. Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara 'alaihi rizqahū fa yaqūlu rabbī ahānan.
Artinya: "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Namun, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku.'"
Penjelasan: Ayat ini mengkritik pandangan manusia yang keliru; mereka menganggap kelapangan rezeki (fa akramahū wa na''amahū) sebagai tanda dimuliakan (rabbī akraman), dan kesempitan rezeki (fa qadara 'alaihi rizqahū) sebagai tanda dihinakan (rabbī ahānan). Padahal, keduanya (kekayaan dan kemiskinan) adalah bentuk ujian (mabtalāhu) dari Allah.
Dalil tentang Istidraj (Jebakan Kenikmatan Duniawi)
Dalam kasus tertentu, kelapangan rezeki dan kesenangan duniawi justru diberikan kepada orang-orang yang durhaka sebagai hukuman yang ditangguhkan. Ini disebut istidraj.
3. Al-Qur'an (QS. Al-An'am: 44)
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
Transliterasi: Fa lammā nasū mā żukkirū bihī fatahnā 'alaihim abwāba kulli syai'in ḥattā iżā fariḥū bimā ūtū, akhażnāhum bagtatan fa iżā hum mublisūn.
Artinya: "Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah disampaikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu semua kesenangan untuk mereka; sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa."
Penjelasan: Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah memberikan kenikmatan duniawi (fatahnā 'alaihim abwāba kulli syai'in) kepada orang-orang yang melupakan peringatan, dan ini adalah jebakan, di mana siksaan datang secara tiba-tiba (akhażnāhum bagtatan) saat mereka sedang lalai dan bangga.
Kesimpulan
Berdasarkan dalil-dalil di atas, dapat disimpulkan:
• Kemuliaan hakiki dari Allah SWT adalah Ketakwaan (Inna akramakum 'indallāhi atqākum - QS. Al-Hujurat: 13).
• Kehormatan dan kekayaan dunia adalah bagian dari ujian (ibtila') dari Allah, bukan otomatis tanda kemuliaan di akhirat (QS. Al-Fajr: 15-16).
• Kita tidak dapat memastikan bahwa Allah memuliakan kita hanya karena kita banyak dihormati atau berharta. Kita hanya bisa tahu bahwa Allah memuliakan kita jika kita senantiasa dalam keadaan takwa, bersyukur saat diberi, dan sabar saat diuji.

Komentar
Posting Komentar