Postingan

RESENSI BUKU : Darurat Salafisme di Muhammadiyah

Gambar
Book Club Menjaga Nalar Berkemajuan di Tengah Arus Salafisme Judul Buku  : Darurat Salafisme di Muhammadiyah Penulis          : Dr. Sholihul Huda, M.Fil.I. Penerbit       : Galena Press Cetakan        : I, 2026 Tebal             : xiv + 200 halaman Peresensi : Maulida Pujiayu Kristanti, S.Keb. (Ketua Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Masangan Wetan Sidoarjo dan Bidan RS PKU Muhammadiyah Surabaya) Buku Darurat Salafisme di Muhammadiyah karya Dr. Sholihul Huda hadir sebagai diskursus krusial di tengah pergeseran peta ideologi Islam kontemporer di Indonesia. Karya ini bukan sekadar catatan kritis, melainkan sebuah alarm intelektual bagi organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, untuk meninjau kembali arah kompas ideologisnya. Penulis memotret fenomena penetrasi paham Salafisme yang mulai merambah ruang-ruang dakwah Muhammadiyah, yang jika dibiarkan berpotensi meng...

MENGALIHKAN CERITA (NYLIMBRUNG)

Kecerdasan Sejati di Tengah Panggung Ego Media Sosial Di era media sosial, setiap orang memiliki panggung. Dengan beberapa ketukan jari dan tombol kirim, seseorang dapat tampil sebagai ahli, pengamat, pemikir, bahkan hakim atas berbagai persoalan. Namun, kemudahan berbicara tidak selalu sejalan dengan kedalaman berpikir. Justru di ruang-ruang inilah sering terlihat perbedaan antara kecerdasan yang sesungguhnya dan kecerdasan yang hanya tampak di permukaan. Salah satu ciri kecerdasan yang dangkal adalah kebutuhan terus-menerus untuk terlihat benar. Orang seperti ini lebih sibuk mempertahankan citra daripada mencari kebenaran. Ketika berhadapan dengan pendapat yang berbeda, fokusnya bukan memahami, melainkan memenangkan perdebatan. Ia membangun otoritas melalui volume suara, panjangnya argumen, atau posisi sosial yang dimiliki, bukan melalui ketepatan logika dan kerendahan hati intelektual. Dalam kondisi seperti itu, kalimat sederhana seperti, "Bukan itu maksudku," dapat m...

Mengatasi Kedangkalan Materialisme

Gambar
  Mengatasi Kedangkalan Materialisme: Rekonstruksi Kebahagiaan dan Orientasi Eksistensial Manusia dalam Perspektif Al-Qur'an Pendahuluan Dalam kajian humaniora, pertanyaan mengenai tujuan hidup dan hakikat kebahagiaan merupakan tema sentral yang terus diperdebatkan. Manusia senantiasa mencari orientasi yang dapat memberi makna pada eksistensinya. Namun, modernitas sering kali menjebak manusia dalam sudut pandang yang reduksionistik, di mana kesuksesan dan kemuliaan diukur secara eksklusif melalui pencapaian materi, kekayaan, dan status sosial. Fenomena ini melahirkan krisis spiritual dan eksistensial, di mana manusia merasa hampa di tengah kelimpahan fasilitas duniawi. Al-Qur'an sebagai kitab petunjuk memberikan analisis psikologis dan sosiologis yang tajam mengenai kecenderungan ini. Melalui QS. Al-Baqarah: 200–202 dan QS. Al-Fajr: 15–17 , Islam melakukan dekonstruksi terhadap pandangan materialistik tersebut dan menawarkan rekonstruksi konsep kebahagiaan yang integral, s...

KAJIAN AHAD PAGI : Tanda Diterimanya Ibadah Hambanya

Gambar
Masjid At-Taqwa Ajibarang Ustadz Zakaria Achmad, L.C. Riyadhus shalihin Kemrajen Kajian Tafsir QS. Al-Baqarah 200–202 Disusun Oleh : edinarco Doa, Penerimaan Amal, dan Hikmah Allah dalam Kehidupan Hamba Pendahuluan QS. Al-Baqarah ayat 200–202 menjelaskan perbedaan orientasi hidup manusia. Ada yang hanya mengejar dunia, dan ada yang memohon kebaikan dunia sekaligus akhirat. Dalam tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman , Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat-ayat ini mengajarkan keseimbangan antara usaha duniawi dan persiapan menuju akhirat, serta hubungan antara doa, amal, dan balasan Allah. Teks Al-Qur'an QS. Al-Baqarah Ayat 200 ﴿ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ﴾ "Di antara manusia ada yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,' padahal baginya di akhirat tidak ada bagian sedikit pun." Ayat ini menggambarkan manusia yang hanya menjadikan dunia...

KAJIAN JUM'AT PAGI : Sorga Yang Dirindukan

Gambar
Masjid Al-Ikhlas Pasar Ajibarang Muhammad Aminudin, S.Ag, M.Pd . SORGA YANG DIRINDUKAN Empat Amalan Hamba yang Dirindukan Surga Disusun oleh: edinarco Kajian Al-Qur'an dan As-Sunnah تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku." Pendahuluan Setiap mukmin mendambakan surga, tempat penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Dalam sebuah riwayat yang masyhur disebutkan bahwa surga merindukan empat golongan manusia, yaitu: pembaca Al-Qur'an, penjaga lisan, pemberi makan orang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan sanad riwayat tersebut, makna dari keempat amalan ini didukung oleh banyak ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits sahih. Keempatnya merupakan pilar penting dalam membe...

TAHLILAN : Menjaga Kemurnian & Tradisi

Gambar
  Islam Kaffah, Tradisi Kematian, dan Tahlilan Menjaga Kemurnian Syariat di Tengah Keragaman Tradisi Pendahuluan Allah SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan." (QS. Al-Baqarah: 208) Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan beberapa orang Yahudi yang telah memeluk Islam, di antaranya Abdullah bin Salam r.a. Setelah masuk Islam, mereka masih ingin mempertahankan sebagian praktik syariat sebelumnya, seperti mengagungkan hari Sabat dan beberapa ketentuan ibadah yang pernah mereka jalankan. Mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai hal tersebut. Maka Allah menurunkan perintah agar kaum mukmin memasuki Islam secara kaffah, menyeluruh, serta menjadikan syariat Nabi Muhammad ﷺ sebagai pedoman yang sempurna dan terakhir. Pesan ini sejalan dengan firman Allah: وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ "Dan janganlah kamu c...

TAHLILAN: Tradisi Peringatan Kematian

Gambar
  PERINGATAN KEMATIAN DALAM TRADISI PITRA YADNYA HINDU: TINJAUAN HISTORIS DAN TEOLOGIS ✕ TEKAN : Keterangan Lebih Lanjut .. Abstrak Kematian merupakan peristiwa yang selalu memperoleh perhatian khusus dalam berbagai tradisi keagamaan. Di Nusantara dikenal berbagai peringatan pascakematian seperti hari ke-7, ke-40, ke-100, satu tahun (mendak pisan), dua tahun (mendak pindo), hingga seribu hari (nyewu). Tradisi tersebut sering dijumpai dalam masyarakat Jawa dan memiliki akar sejarah yang panjang. Dalam tradisi Hindu, penghormatan kepada leluhur diwujudkan melalui rangkaian upacara yang dikenal sebagai Pitra Yadnya . Tulisan ini membahas landasan teologis Pitra Yadnya serta hubungannya dengan tradisi peringatan kematian yang berkembang di Nusantara. Kata kunci: Pitra Yadnya, leluhur, kematian, Hindu Jawa, tradisi Nusantara. Pendahuluan Kematian dalam pandangan agama-agama besar bukanlah akhir dari eksistensi manusia. Dalam t...

TAHLILAN : Penyerderhanan Tradisi Kebutuhan Sosial

Gambar
  Penyederhanaan Tahlilan: Antara Syariat, Tradisi, dan Kebutuhan Sosial Masyarakat ✕ Pendahuluan Tradisi tahlilan merupakan salah satu praktik keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Muslim Nusantara, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Dalam pelaksanaannya, tahlilan sering dikaitkan dengan peringatan kematian pada hari ke-7, ke-40, ke-100, mendak pertama, mendak kedua, hingga seribu hari (nyewu). Namun dalam beberapa dekade terakhir, banyak masyarakat mulai melakukan penyederhanaan terhadap pelaksanaan tahlilan. Perubahan ini bukan semata-mata karena berkurangnya penghormatan kepada orang yang telah meninggal, melainkan karena adanya perubahan pemahaman agama, kondisi sosial, ekonomi, serta dinamika kehidupan masyarakat modern. Membedakan Tahlil dan Tahlilan Sebelum membahas penyederhanaan, perlu dibedakan antara tahlil dan tahlilan. Tahlil adalah dzikir yang diajarkan dalam Islam: لَا إِلٰهَ إِلَّا الله "Laa ilaaha il...

KABUPATEN AJIBARANG 1831-1832

Gambar
✕ Ketuk : Baca Penjelasan selengkapnya .. Kabupaten Ajibarang dalam Reorganisasi Pemerintah Tahun 1831 Latar Belakang: Banyumas Pasca Perang Diponegoro Sebelum tahun 1830, wilayah Banyumas merupakan bagian dari Kadipaten Mancanegara Kulon yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram dan kemudian Kasunanan Surakarta. Dalam sistem pemerintahan tradisional Jawa, hubungan antara pusat dan daerah berlangsung melalui pola patron-klien, di mana para bupati bertindak sebagai wakil raja di daerah dan bertanggung jawab kepada penguasa Surakarta. Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830) menjadi titik balik penting dalam sejarah politik Jawa. Kekalahan pihak pribumi menyebabkan pemerintah kolonial Hindia Belanda mengambil alih wilayah-wilayah Mancanegara Kulon yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Kasunanan Surakarta. Sejak 22 Juni 1830, wilayah Banyumas secara resmi berada di bawah kontrol langsung Pemerintah Hindia Bela...