TAHLILAN KEMATIAN : Tak Ada Di Kauman
Antara Prinsip dan Kerukunan: Pelajaran dari Kauman tentang Kematian, Tradisi, dan Kedewasaan Beragama Di tengah maraknya perdebatan mengenai tahlilan, kendurian kematian, haul, dan peringatan hari ke-7, 40, 100 hingga mendhak, terdapat pelajaran berharga dari kehidupan masyarakat Kauman yang mungkin jarang diangkat. Pelajaran itu bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana prinsip keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan kerukunan sosial. Sejak puluhan tahun lalu, bahkan menurut penuturan para sesepuh sejak pra kemerdekaan, masyarakat Kauman telah terbiasa tidak melaksanakan kendurian kematian maupun peringatan hari-hari tertentu setelah wafatnya seseorang. Ketika ada keluargyang hendak mengadakan kendurian, para orang tua biasanya hanya berpesan: "Tidak usah. Doa bisa dilakukan kapan saja." ✕ Bukan karena membenci tradisi tersebut, bukan pula karena ingin memutus hubungan dengan masyarakat sekitar. Ya...