Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Hijaunya Rumput di Halaman Masjid

Gambar
  Tajuk Hijaunya Rumput di Halaman Masjid Ada gagasan besar tentang pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Angkanya fantastis. Potensinya disebut mencapai triliunan. Jika ditata secara nasional terintegrasi, terdata, tersentralisasi katanya akan lebih optimal dan merata. Terdengar indah. Rumput Halaman Masjid tampak menghijau, rapi, lagi asri dari kejauhan,  Namun izinkan kami bercerita dari ruang sempit bernama  grumbul  bagian kecil dari kampung yang bahkan tak cukup disebut blok. Di sana, zakat bukan angka statistik. Ia adalah wajah tetangga. Ia adalah janda yang dikenal namanya. Ia adalah anak yatim yang setiap hari melintas di depan rumah. Di sana, bendahara bukan pejabat struktural. Ia dipercaya bukan karena gelar, tetapi karena rekam jejaknya. Mungkin ia bukan profesor ekonomi syariah. Tetapi ia tahu siapa yang benar-benar lapar dan siapa yang sekadar pandai mengeluh. Ia tahu rumah mana yang lampunya redup bukan karena hemat, melainkan karena tak mampu membeli...

Teologi Momentum dalam Islam

Gambar
  Teologi Momentum dalam Islam: Analisis Normatif dan Maqāṣid atas Konsep Kesempatan Abstrak Tulisan ini menganalisis konsep momentum dalam Islam melalui pendekatan tafsir klasik dan maqāṣid al-syarī‘ah. Dengan merujuk pada Surah Al-‘Ashr, Surah Al-Jumu‘ah ayat 9–11, serta hadis “lima sebelum lima”, artikel ini berargumen bahwa Islam membangun etika pengelolaan waktu berbasis kesadaran keterbatasan dan orientasi kemaslahatan. 1. Waktu sebagai Struktur Evaluatif Eksistensi Allah bersumpah dengan waktu dalam Surah Al-‘Ashr. Para mufasir klasik memahami sumpah ini sebagai penegasan urgensi nilai waktu dalam kehidupan manusia. Menurut, sumpah ilahi menunjukkan kemuliaan objek dan besarnya kandungan makna di dalamnya.¹ Waktu menjadi parameter kerugian dan keselamatan manusia. Sementara menafsirkan al-khusr sebagai kebinasaan menyeluruh kecuali bagi mereka yang memenuhi empat syarat keselamatan: iman, amal saleh, dakwah kebenaran, dan kesabaran.² Dengan demikian, struktur Surah Al-‘As...

Tasamuh: Mengelola Perbedaan, Menjaga Peradaban

Gambar
  KHGT dan Tasamuh: Mengelola Perbedaan, Menjaga Peradaban Perbedaan awal Ramadan atau bulan Hijriyah bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat Islam. Ia lahir dari perbedaan metodologi, batas geografis matla’ serta pendekatan fikih terhadap rukyat dan hisab. Namun di era digital, perbedaan itu sering kali berubah menjadi perdebatan terbuka, bahkan ejekan. Di tengah dinamika tersebut, seruan tasamuh dari Ketua Umum  menjadi relevan dan strategis. Tasamuh bukan sekadar sikap lunak, melainkan kedewasaan dalam mengelola perbedaan. Teguh Tanpa Menyerang Dalam isu penetapan awal Ramadan maupun gagasan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah berdiri pada metodologi hisab yang konsisten dan terbuka secara ilmiah. KHGT sendiri merupakan ikhtiar menuju kesatuan sistem waktu umat Islam secara global sebuah gagasan peradaban, bukan sekadar teknis astronomi. Namun yang menarik bukan hanya konsistensi metodologi itu, melainkan sikap sosial warganya. Ketika ejekan tidak ...

KHGT dalam Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah

Gambar
  Kalender Hijriah Global dalam Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah dan Mazhab Syafi‘i: Rekonstruksi Ijtihad Kontemporer Abstrak Artikel ini menganalisis legitimasi penyatuan kalender Hijriah global dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah dan khazanah mazhab Syafi‘i. Perdebatan hisab dan rukyat selama ini cenderung dipahami sebagai dikotomi metodologis, padahal keduanya merupakan instrumen (wasā’il) dalam mencapai tujuan syariat. Dengan pendekatan normatif-analitis terhadap literatur klasik ushul fikih dan fikih Syafi‘iyyah, artikel ini berargumen bahwa penyatuan kalender Hijriah global memiliki dasar maqāṣidiyah dan mazhabiyah sepanjang dibangun melalui ijtihad jamā‘ī dan mempertimbangkan maslahat ‘āmmah. Kata kunci: maqāṣid al-syarī‘ah, mazhab Syafi‘i, hisab, rukyat, kalender Hijriah global, ijtihad jamā‘ī. Pendahuluan Perbedaan penentuan awal bulan Hijriah di berbagai negara Muslim menunjukkan adanya problem metodologis dan otoritatif dalam hukum Islam kontemporer. Di Indonesia, ...

Evolusi Metodologi Hisab Muhammadiyah dalam Perspektif Epistemologi Bayani–Burhani

Gambar
Evolusi Metodologi Hisab Muhammadiyah dalam Perspektif Epistemologi Bayani–Burhani Penguatan Kerangka Teoretis Dalam membaca dinamika rukyat dan hisab, pendekatan deskriptif-historis saja belum cukup. Diperlukan kerangka epistemologis untuk menjelaskan pergeseran cara berpikir yang terjadi. membagi tradisi nalar Islam ke dalam tiga paradigma besar: Bayani – berbasis teks, otoritas riwayat, dan analogi bahasa. Burhani – berbasis rasionalitas demonstratif dan logika ilmiah. ‘Irfani – berbasis intuisi dan pengalaman spiritual. Dalam konteks penentuan awal bulan qamariah, perdebatan rukyat–hisab dapat dibaca sebagai pergeseran dominasi dari paradigma bayani menuju burhani. 1. Rukyat sebagai Manifestasi Epistemologi Bayani Metode rukyat bertumpu pada hadis Nabi tentang melihat hilal secara langsung. Otoritasnya bersandar pada teks normatif dan transmisi riwayat. Dalam kerangka al-Jabri, ini merupakan ciri khas nalar bayani : Teks menjadi pusat legitimasi. Realitas dipaham...

Koperasi Jangan Terlambat Bangun

Gambar
Koperasi Jangan Terlambat Bangun Di banyak desa, kita masih bisa melihat bangunan koperasi yang tersisa sebagai monumen optimisme yang tak tuntas. Papan nama pudar, pintu terkunci, halaman dipenuhi rumput liar. Modal sudah habis, pengurus berganti, semangat tinggal cerita. Siklusnya hampir selalu sama: dibentuk dengan harapan besar, berjalan sebentar, lalu meredup tanpa jejak perbaikan. Sementara itu, jaringan ritel modern seperti dan tumbuh bak jamur di musim hujan. Dari kota hingga kecamatan, mereka hadir dengan sistem yang rapi, logistik yang disiplin, dan manajemen berbasis data. Tidak ada romantisme. Yang ada adalah efisiensi dan konsistensi. Masalah koperasi bukan pada gagasan “usaha bersama”. Secara konsep, koperasi justru sangat relevan bagi masyarakat desa. Namun dalam praktik, koperasi sering dikelola dengan pola organisasi sosial, bukan entitas bisnis profesional. Keputusan lambat, evaluasi kabur, dan akuntabilitas cair. Ketika usaha rugi, tanggung jawab terasa kolekti...

PELAJARAN DARI KEBIJAKAN KHALIFAH UMAR

Gambar
Pelajaran dari Kebijakan Khalifah Umar 1. Mencegah Ghurur (Kesombongan) pada Pemimpin Seperti yang Anda sebutkan, kekuasaan yang tak tergoyahkan dan kemenangan yang terus-menerus bisa menimbulkan kesombongan (ghurur) pada diri pemimpin, betapapun ikhlasnya ia. Khalifah Umar ingin memastikan bahwa setiap pemimpin, termasuk Khalid, selalu sadar bahwa kekuatan dan kemenangan sejati datangnya dari Allah SWT, bukan dari kehebatan strategi pribadi semata. Pencopotan jabatan adalah pengingat keras bahwa posisi dan kekuasaan hanyalah amanah yang bisa diambil kapan saja. 2. Mencegah Syirik Asghar (Pengkultusan) pada Bawahan Khalifah Umar sangat khawatir akidah umat tercemar. Pentingnya Tauhid: Bagi Umar, menjaga kemurnian akidah (tauhid) umat jauh lebih penting daripada memenangkan satu atau dua pertempuran. Pergantian Panglima: Dengan mengganti Khalid dengan Abu Ubaidah bin Jarrah yang juga seorang sahabat mulia dan panglima hebat. KhalifahUmar membuktikan kepada umat bahwa kemenangan akan tet...

PENGGANTIAN PANGLIMA KHALID BIN WALID

Gambar
  Penggantian Panglima Khalid bin Walid  Begitu heibatnya khalid bin walid kenapa halifah umar bin khatab menurunkan dg mengganti panglima Keputusan Khalifah Umar bin Khattab untuk mencopot Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang dan menggantinya dengan Abu Ubaidah bin Jarrah adalah salah satu keputusan yang paling terkenal dan kontroversial dalam sejarah Islam. Alasan utama di balik keputusan tersebut bukanlah karena kegagalan militer Khalid, melainkan demi menjaga kemaslahatan akidah (tauhid) umat Islam. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai alasan Khalifah Umar:  1.  Menghindari Pengkultusan Individu (Syirik Asghar) Ini adalah alasan yang paling masyhur dan mendasar. Khalid bin Walid, yang dijuluki Saifullah (Pedang Allah), tidak pernah kalah dalam pertempuran yang ia pimpin, baik sebelum maupun sesudah memeluk Islam. Kekhawatiran Umar: Khalifah Umar mengamati bahwa masyarakat dan bahkan sebagian pasukan Muslimin mulai terlalu menyandarkan kemenangan mere...

WARISAN fan KETELADANAN KHALID BIN WALID

Gambar
  Warisan dan Keteladanan Simbol keberanian, kecerdikan, dan loyalitas tanpa pamrih. Meskipun gagah dan kuat, ia rendah hati dan tunduk kepada pemimpin. Bahkan ketika Umar bin Khattab menggantinya dari jabatan panglima, ia tetap taat dan berjuang sebagai prajurit biasa. Kehebatan Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang tak terkalahkan (dijuluki Saifullah atau Pedang Allah) bersumber dari beberapa faktor kunci: Faktor Kemenangan Khalid bin Walid Keimanan dan Keberanian: Setelah memeluk Islam, Khalid bin Walid berperang dengan keikhlasan, semangat jihad yang tinggi, dan keberanian luar biasa yang memotivasi pasukannya. Keahlian Militer Mumpuni: Ia memiliki ide-ide cemerlang, keperkasaan, dan keahlian tempur yang sangat baik, termasuk dalam menunggang kuda dan menggunakan senjata, bahkan mampu menggunakan dua pedang sekaligus. Keahlian ini sudah teruji sejak masa sebelum Islam. Kecerdasan Strategis dan Taktik Jitu: Khalid dikenal sebagai ahli strategi yang mampu memanfaatkan kek...

TAKLID KOLONIAL AGAMA DAN KEMISKINAN

Gambar
  Agama, Kemiskinan, dan Taklid Kolonial Pembuka Kolonialisme paling berhasil bukan ketika ia menguasai tanah dan sumber daya, melainkan ketika ia berhasil membentuk  cara berpikir . Penjajahan sejati terjadi saat akal berhenti bekerja dan kepatuhan diterima sebagai kebajikan. Dalam konteks inilah istilah  taklid kolonial  menemukan maknanya: suatu kondisi di mana rakyat tunduk tanpa bertanya, patuh tanpa nalar, dan menerima ketimpangan sebagai kehendak Tuhan. Taklid kolonial bekerja lintas zaman dan lintas baju. Ia bisa hadir dalam bentuk kepatuhan feodal kepada priyayi, dalam pembungkaman kritik atas nama stabilitas negara, maupun dalam taklid keagamaan baik yang dibungkus kharisma kiai maupun yang mengeras dalam literalitas salafisme. Perbedaannya hanya pada simbol; esensinya sama:  akal disingkirkan, kesadaran dikunci . Sejak awal membaca bahaya kritik terhadap mistikisme, fatalisme, dan taklid bukanlah serangan terhadap agama, melainkan perlawanan terhadap ...

Pendidikan yang Membebaskan

Gambar
  Pendidikan yang Membebaskan: Pelajaran dari Para Ulama Besar I. Spirit Kehausan Ilmu: Model Imam Nawawi bukan produk kurikulum yang ketat, melainkan buah dari  kerinduan intelektual  yang mendalam. Ia belajar hingga dua belas disiplin dalam sehari bukan karena tekanan administratif, tetapi karena dorongan batin yang tak terpuaskan. Dalam waktu sekitar empat setengah bulan, ia telah menghafal  Al-Tanbih , lalu meluaskan penguasaannya ke berbagai bidang: fikih, hadits, ushul, bahasa, hingga logika. Tema utama: Pendidikan sejati lahir dari gairah mencari kebenaran, bukan dari sistem kredit semester. Model pendidikan seperti ini menempatkan guru sebagai pusat transmisi otoritatif ilmu  talāqqī  langsung, bukan sekadar konsumsi materi visual yang dangkal. Relasi personal guru-murid membentuk kedalaman, bukan sekadar kelulusan. II. Transformasi Jiwa: Pendidikan menurut Dalam karyanya  Ayyuhal Walad , Al-Ghazali tidak berbicara tentang angka atau ijazah. Ia...

KHGT: Keberanian Keluar dari Status Quo

Gambar
  Dari Hisab Dahlan ke KHGT: Keberanian Keluar dari Status Quo Kalender Hijriyah bukan sekadar soal tanggal. Ia menyentuh otoritas, tradisi, identitas, dan keberanian moral. Dalam setiap fase pembaruan, dalil selalu hadir. Ayat dikutip, hadis dibacakan, argumentasi disusun rapi. Namun pertanyaannya: apakah dalil menjadi cahaya yang membimbing, atau kosmetik yang melindungi status quo? Sejarah Islam di Indonesia pernah mengalami momen serupa. Ketika pada awal abad ke-20  (1914)  memperkenalkan metode hisab untuk menentukan waktu ibadah, langkah itu bukan sekadar teknis. Ia adalah lompatan epistemologis. Di tengah masyarakat yang sangat bergantung pada rukyat tradisional, penggunaan perhitungan astronomi dianggap asing, bahkan berani. Namun KHA Dahlan memahami satu hal mendasar: esensi syariat tidak berubah hanya karena instrumennya berkembang. Waktu shalat tetap wajib. Awal Ramadan tetap ditentukan. Yang berubah hanyalah cara membaca langit. Pada masanya, resistensi ...

Awal Ramadan, KHGT, dan Rukyat: Menimbang Ijtihad Muhammadiyah, Prof. Tono Saksono, dan NU

Gambar
  Awal Ramadan, KHGT, dan Rukyat: Menimbang Ijtihad Muhammadiyah, Prof. Tono Saksono, dan NU Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah kembali mengemuka seiring terjadinya Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026. Peristiwa ini menandai ijtimak (konjungsi), yakni momen astronomis ketika Matahari dan Bulan berada pada satu garis bujur ekliptika. Dalam tradisi kalender Hijriah, ijtimak dipahami sebagai syarat awal pergantian bulan. Namun, bagaimana ijtimak diposisikan dalam penetapan hukum syar‘i ternyata tidak tunggal. Perbedaan pendekatan antara Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diadopsi Muhammadiyah, pandangan saintifik Prof. Dr. Tono Saksono, dan manhaj rukyat Nahdlatul Ulama (NU) memperlihatkan bahwa satu data astronomi dapat melahirkan kesimpulan hukum yang berbeda. Secara historis, Muhammadiyah dikenal dengan kriteria wujudul hilal. Dalam kerangka ini, awal bulan ditetapkan jika dua syarat terpenuhi: ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam dan pada saat matahari ter...

Penentuan Awal Bulan Hijriah dalam Perspektif Astronomi dan Ijtihad Keagamaan

Gambar
  Penentuan Awal Bulan Hijriah dalam Perspektif Astronomi dan Ijtihad Keagamaan Abstrak Makalah ini membahas problem penentuan awal bulan Hijriah yang hingga kini masih memunculkan perbedaan di kalangan umat Islam. Fokus kajian diarahkan pada konsep hisab, rukyat, ijtima’, dan hilal, serta penerapannya dalam kriteria regional MABIMS dan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dengan pendekatan astronomi dan fikih, makalah ini menegaskan bahwa seluruh metode penentuan awal bulan pada dasarnya berbasis hisab, sementara perbedaan yang terjadi merupakan wilayah ijtihad teknis, bukan persoalan akidah. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif dan proporsional bagi kalangan akademik maupun masyarakat luas. Kata kunci: Kalender Hijriah, hisab, rukyat, ijtima’, hilal, MABIMS, KHGT. I. Pendahuluan Penanggalan Hijriah memiliki fungsi fundamental dalam kehidupan keagamaan umat Islam, terutama dalam penentuan waktu-waktu ibadah mahdhah seperti puasa Ramadan, Id...

Stigma “Wahabi” dan Politik Tafsir di Indonesia

Gambar
  Stigma “Wahabi” dan Politik Tafsir di Indonesia Stigma keagamaan tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dalam relasi kuasa, bekerja melalui bahasa, dan berfungsi mengatur siapa yang boleh berbicara serta siapa yang harus diam. Tuduhan “Wahabi” terhadap Muhammadiyah adalah salah satu contoh paling jelas bagaimana agama dipolitisasi bukan melalui dalil, melainkan melalui  penamaan . Tuduhan itu bukan hasil dialog teologis yang jujur. Ia lebih merupakan reaksi terhadap kegelisahan ketika iman mulai diajak berpikir, ketika tradisi diminta memberi alasan, dan ketika otoritas tidak lagi cukup disangga oleh simbol. Dalam konteks ini, stigma bekerja bukan untuk menjelaskan, tetapi untuk  menghentikan percakapan . Muhammadiyah sejak awal memang memilih jalan yang tidak selalu nyaman. Agama tidak diperlakukan sebagai warisan sosial yang diterima begitu saja, melainkan sebagai tanggung jawab intelektual dan etis. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah bukan nostalgia ke masa la...

Tak Ada Makan Siang Gratis

Gambar
  “Tak Ada Makan Siang Gratis”: Perut, Kemiskinan, dan Mekanisme Pelanggengan Kekuasaan Abstrak Artikel ini mengkaji praktik distribusi pangan dan bantuan sosial sebagai instrumen kekuasaan dalam perspektif teori politik, filsafat sosial, dan etika keagamaan. Dengan pendekatan analitis-reflektif, tulisan ini berargumen bahwa “makan siang gratis” bukan fenomena netral, melainkan teknik biopolitik untuk mengelola loyalitas, memelihara ketergantungan, dan melanggengkan kekuasaan. Melalui dialog antara teori Barat (Foucault, Bourdieu, Polanyi), ajaran Islam, dan filosofi Jawa, artikel ini menunjukkan bahwa eksploitasi kemiskinan melalui politik perut berpotensi mengaburkan keadilan struktural dan melemahkan kesadaran kritis masyarakat. Kata kunci : biopolitik, kekuasaan, kemiskinan, bantuan sosial, etika Islam, filosofi Jawa Pendahuluan Ungkapan  “there is no free lunch”  sering dipahami sebagai prinsip ekonomi rasional. Namun dalam praktik politik, ungkapan ini memiliki makn...