PENGGANTIAN PANGLIMA KHALID BIN WALID

 


Penggantian Panglima Khalid bin Walid 

Begitu heibatnya khalid bin walid kenapa halifah umar bin khatab menurunkan dg mengganti panglima

Keputusan Khalifah Umar bin Khattab untuk mencopot Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang dan menggantinya dengan Abu Ubaidah bin Jarrah adalah salah satu keputusan yang paling terkenal dan kontroversial dalam sejarah Islam.

Alasan utama di balik keputusan tersebut bukanlah karena kegagalan militer Khalid, melainkan demi menjaga kemaslahatan akidah (tauhid) umat Islam.

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai alasan Khalifah Umar:

 1. Menghindari Pengkultusan Individu (Syirik Asghar)

Ini adalah alasan yang paling masyhur dan mendasar. Khalid bin Walid, yang dijuluki Saifullah (Pedang Allah), tidak pernah kalah dalam pertempuran yang ia pimpin, baik sebelum maupun sesudah memeluk Islam.

Kekhawatiran Umar: Khalifah Umar mengamati bahwa masyarakat dan bahkan sebagian pasukan Muslimin mulai terlalu menyandarkan kemenangan mereka kepada sosok Khalid bin Walid secara pribadi, seolah-olah kemenangan pasti terjadi jika ada Khalid.

Tujuan Tindakan: Umar khawatir keyakinan ini akan mengarah pada syirik kecil (syirik asghar) atau setidaknya mengurangi keikhlasan tauhid, di mana fokus pujian dan penyandaran hati bergeser dari Allah SWT sebagai penentu kemenangan, menjadi kepada kemampuan seorang manusia (Khalid).

Perkataan Umar: Umar menjelaskan, "Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid."


2. Pertimbangan Siyasah (Kebijakan Administrasi)

Beberapa pendapat ulama juga menyebutkan alasan administrasi dan kebijakan, meskipun alasan tauhid tetap menjadi yang utama:

Sifat Kepemimpinan: Khalifah Umar dikenal sangat tegas dan tegas dalam semua urusan. Sementara itu, Khalid juga dikenal berwatak keras, pemberani, dan memiliki kemandirian operasional yang tinggi. Umar berpendapat bahwa yang lebih cocok menjadi pemimpin umum militer di Syam (menggantikan Khalid) adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, yang dikenal lebih lembut, penyayang, dan sangat ditaati. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan dalam roda kepemimpinan.

Masalah Pembagian Harta: Ada juga kasus-kasus lama yang diungkit, seperti kebijakan Khalid yang memberikan hadiah atau infak dalam jumlah besar kepada tokoh tertentu (Al-Asy'ats bin Qais) dari harta rampasan perang. Umar melihat ini sebagai kebijakan yang melanggar batas kewenangan panglima, dan mengkhawatirkan munculnya fitnah.


Reaksi Khalid bin Walid bin Walid

Terlepas dari kehebatannya, sikap Khalid bin Walid saat dicopot menunjukkan keikhlasan dan keteladanan yang luar biasa:

Keikhlasan: Ia menerima keputusan tersebut dengan lapang dada dan tetap berjuang di medan perang sebagai tentara biasa, bukan lagi sebagai panglima.

Pernyataan Tauhid: Khalid berkata, "Aku bertempur dan berjuang tidak karena Khalifah Umar, akan tetapi aku berjuang karena Allah semata!"

Keputusan Umar bin Khattab ini dianggap sebagai langkah yang sangat berani dan bijaksana demi menyelamatkan akidah umat dari pengkultusan individu, dan menegaskan bahwa kemenangan adalah milik Allah, bukan milik manusia.

Memang, keputusan Khalifah Umar bin Khattab untuk mencopot Khalid bin Walid seringkali dilihat sebagai pelajaran agung tentang Tauhid (keesaan Allah) dan Kepemimpinan Etis dalam Islam.


Baca lainnya ....

Pelajaran dari Kebijakan Khalifah Umar

Penggantian Panglima Khalid-bin-walid

Warisan dan Keteladanan Khalid-bin-Walid

Belajar dari Khalid bin Walid

Komentar