Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Perbedaan dan Keteladanan Ulama

Gambar
                        Perbedaan dan Keteladanan Ulama: Membaca Ulang Warisan Ulama di Tengah Polarisasi Sosial Pendahuluan Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan dalam kehidupan manusia, terlebih dalam masyarakat yang majemuk secara sosial, budaya, dan keagamaan. Dalam khazanah Islam, perbedaan bahkan dipandang sebagai ruang ijtihad yang memperkaya perspektif. Namun, realitas kontemporer menunjukkan gejala sebaliknya: perbedaan tidak lagi dikelola sebagai kekayaan intelektual, melainkan berubah menjadi sumber konflik terbuka. Fenomena ini menandai adanya krisis etika dalam menyikapi perbedaan. Tulisan ini berupaya merefleksikan kembali praktik keteladanan ulama melalui kisah yang pernah diangkat oleh. KH Abdurahman Wahid, dengan menyoroti interaksi  antara KH. Hasyim As'ari dan Kyai Faqih Maskumambang pada tahun 1928. Kerangka Historis: Perbedaan sebagai Etika, Bukan Konflik Pada tahun 1928, mengeluarkan fatwa ya...

PENDIDIKAN AKADEMIK: : Pembentukan Karakter

Gambar
  Pengaruh Pendidikan Akademik terhadap Pembentukan Karakter: Tinjauan Humaniora dan Pendidikan Islam Abstrak Pendidikan akademik sering diasumsikan sebagai faktor utama dalam pembentukan karakter individu. Namun, berbagai kajian dalam menunjukkan bahwa karakter tidak semata-mata dibentuk oleh pendidikan formal, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor bawaan, lingkungan, pengalaman hidup, dan kesadaran diri. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pendidikan akademik berpengaruh terhadap karakter, serta menempatkannya dalam kerangka yang lebih luas, termasuk perspektif pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan akademik berperan signifikan dalam membentuk aspek kognitif dan ekspresi sosial individu, namun memiliki keterbatasan dalam mengubah struktur karakter dasar yang terbentuk sejak usia dini. Oleh karena itu, pendidikan keluarga dan lingkungan awal tetap menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter. Kata kunci: karakte...

PENDIDIK (GURU) TERJEBAK WARISAN

Gambar
Pendidik yang Terjebak dalam Warisan Pendidikan hari ini tidak kekurangan konsep, tidak kekurangan metode, bahkan tidak kekurangan regulasi. Yang hilang justru hal paling mendasar: keberanian untuk berpikir dan bertindak sebagai pendidik . Pendidik dilatih, disertifikasi, difasilitasi, tetapi pada saat yang sama diposisikan sebagai pelaksana. Dalam ruang yang seperti itu, lahirlah generasi pendidik yang terbiasa menjawab dengan satu kalimat: “siap dilaksanakan”  sebuah bentuk modern dari sendiko dawuh . Masalahnya sederhana tetapi serius: pendidikan tidak bisa hidup dari kepatuhan. Di ruang kelas, hal ini terlihat jelas. Pertanyaan “faham?” dijawab serempak “faham”, tetapi tidak pernah diuji. Siswa mampu mengerjakan soal, tetapi tidak memahami konsep. Nilai tinggi menjadi indikator keberhasilan, sementara proses berpikir tidak pernah benar-benar terjadi. Ini bukan kegagalan siswa. Ini bukan pula semata kelemahan pendidiik/guru. Ini adalah kegagalan sistem yang membiasakan r...

Antara Guru dan Biyung

Gambar
Antara Guru dan Biyung Di Mana Pendidikan Sebenarnya Hidup? Ada sesuatu yang ganjil dalam dunia pendidikan kita. Semakin banyak orang yang berbicara tentang pendidikan, tetapi semakin sedikit yang benar-benar menghadirkannya dalam hidup. Kita tidak kekurangan teori. Nama-nama besar seperti,  dan sudah meletakkan fondasi yang nyaris utuh: pendidikan sebagai jalan pembebasan, sebagai proses menuntun manusia, dan sebagai kesatuan antara ilmu dan amal. Masalahnya bukan di sana. Masalahnya ada pada satu hal yang lebih sunyi: kita berhenti menghidupi apa yang kita pahami. Ketika Pendidikan Menjadi Profesi, Bukan Laku Hidup Di ruang kelas, seorang guru bisa tampil sebagai sosok ideal: sabar, sistematis, penuh metode. Namun di rumah, tidak jarang yang tersisa hanya kelelahan. Relasi dengan anak berubah menjadi instruksi: “Belajar!” “Jangan begitu!” “Harus begini!” Tidak ada yang sepenuhnya salah. Tapi ada yang hilang: ruh pendampingan . Di titik ini, pendidikan diam-diam berg...

HARGA MAHAL SEBUAH GENERASI

Gambar
  DayCare Yogyakarta HARGA MAHAL SEBUAH GENERASI Dialektika Pengasuhan, Ekonomi, dan Amanah dalam Perspektif Islam Abstrak Tulisan ini mengkaji ketegangan antara tuntutan ekonomi modern dan tanggung jawab pengasuhan anak dalam keluarga Muslim. Dengan pendekatan reflektif dan normatif, artikel ini menyoroti bagaimana pergeseran pola pengasuhan dari relasi langsung menuju delegasi (pengasuh, daycare, bahkan teknologi) berimplikasi pada pembentukan generasi. Dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadits, serta pandangan ulama, tulisan ini menegaskan bahwa pengasuhan bukan sekadar aktivitas domestik, melainkan investasi peradaban yang bernilai tinggi namun sering tak terlihat. Pendahuluan Modernitas menghadirkan paradoks: di satu sisi membuka peluang ekonomi, di sisi lain menggeser struktur pengasuhan anak. Banyak keluarga kini menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan stabilitas ekonomi atau menjaga intensitas kehadiran dalam pengasuhan. Fenomena ini melahirkan praktik: delegasi...

AUM KEMANDIRIAN EKONOMI MUHAMMADIYAH

Gambar
  Amal Usaha, Usaha Dewek, dan Kapital: Mencari Jalan Tengah yang Memanusiakan Lirik lagu keroncong Swadesi “ baju lurik kain tenun buatan bangsalah sendiri ” bukan sekadar nostalgia, melainkan jejak kesadaran ekonomi: bahwa bekerja dengan tangan sendiri adalah cara manusia menegakkan martabatnya. Dalam bahasa yang lebih teoretis, pernah menegaskan bahwa kerja pada hakikatnya adalah proses pemanusiaan; manusia mengekspresikan diri, kreativitas, dan makna hidup melalui kerja. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam sistem kapitalisme, kerja dapat berubah menjadi mekanisme yang mengasingkan manusia tereduksi menjadi bagian kecil dari mesin produksi.[^1] Di sisi lain, kapitalisme justru membuktikan kemampuannya membangun skala, efisiensi, dan distribusi yang luas. Sejak analisis tentang pembagian kerja, kita memahami bahwa spesialisasi mampu meningkatkan produktivitas secara drastis.[^2] Tetapi kekuatan ini membawa konsekuensi: relasi antara pemilik modal dan pekerja cenderung hie...

EKOSISTEM PENGASUHAN ANAK USIA DINI

Gambar
  EKOSISTEM PENGASUHAN ANAK USIA DINI: Integrasi Kognitif, Bahasa, Lingkungan, dan Nilai dalam Perspektif Humaniora Abstrak Perkembangan anak usia dini sering dipahami secara parsial melalui indikator kognitif seperti kemampuan membaca, berhitung, atau berbicara lebih cepat. Tulisan ini bertujuan mengkaji perkembangan anak dalam sebuah ekosistem pengasuhan yang terintegrasi, meliputi aspek bahasa, kognitif, sosial, pola makan, lingkungan, serta nilai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-naratif berbasis observasi keseharian dan refleksi lintas generasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsistensi interaksi, minimnya distraksi digital, lingkungan sosial yang aktif, serta internalisasi nilai melalui keteladanan menghasilkan perkembangan yang relatif lebih maju dan seimbang. Pendekatan ini diperkuat oleh prinsip yang menekankan pengalaman konkret, serta teori dan mengenai konstruksi kognitif dan sosial. Sebaliknya, pola umum masyarakat cenderung menekankan hafalan abstr...

“Tumbuh Kembang Anak sebagai Ekosistem Terintegrasi”

Gambar
  “Tumbuh Kembang Anak sebagai Ekosistem Terintegrasi” Perkembangan anak sering kali dipahami secara parsial: kemampuan bicara yang cepat dianggap kecerdasan, disiplin dini dianggap keberhasilan pola asuh, dan kepatuhan dianggap indikator keberhasilan pendidikan. Namun dalam realitas keseharian, tumbuh kembang anak tidak pernah berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari sebuah  ekosistem hidup  yang melibatkan bahasa, interaksi sosial, pola makan, nilai, serta konsistensi lingkungan. Kasus yang diamati dalam narasi ini menunjukkan suatu model pengasuhan yang relatif utuh: anak tumbuh dalam lingkungan keluarga inti yang terjaga, dengan intensitas interaksi tinggi, minim distraksi digital, serta didukung oleh lingkungan sosial komunitas yang aktif. Dalam kerangka , kondisi ini mencerminkan keterpaduan antara stimulasi kognitif, afeksi emosional, dan internalisasi nilai. Bahasa sebagai Cermin Kognisi Kemampuan anak dalam menyusun kalimat lebih dari empat kata pada usia sekitar...

Ijtihad, HPTM, dan Godaan Relasi

Gambar
Ijtihad, HPTM, dan Godaan Relasi Ada anggapan yang sering tidak disadari: fikih sudah selesai . Mazhab dianggap telah menjawab semua persoalan, sehingga tugas generasi sekarang hanya mengikuti. Pandangan ini problematis. Realitas terus berubah, sementara teks tetap. Di sinilah ijtihad menjadi kebutuhan, bukan pilihan. فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” Ayat ini menegaskan bahwa agama berjalan melalui proses berpikir, bukan sekadar pengulangan. Dari Ijtihad Individual ke Kolektif Dalam sejarah, ijtihad sering dilakukan secara individual oleh tokoh seperti Imam Syafi'  dan Imam Abu Hanifa. Namun kompleksitas zaman menuntut pendekatan baru. menjawabnya melalui ijtihad kolektif dalam Majelis Tarjih dan Tajdid: keputusan lahir dari musyawarah, kajian dalil, dan verifikasi bersama. Ini bukan penolakan terhadap ulama klasik, tetapi kelanjutan metodologinya dalam bentuk yang lebih relevan. K...

BELAJAR CARA IBNU SINA

Dari Ibnu Sina ke Neurosains Modern:  Rekonstruksi Epistemologi Pembelajaran dalam Kerangka Reflektif-Analitis Abstrak Narasi mengenai kemampuan dalam memahami teks hanya melalui satu kali pembacaan sering dipahami secara simplistik sebagai fenomena kejeniusan individual. Artikel ini bertujuan merekonstruksi pemahaman tersebut melalui pendekatan interdisipliner antara filsafat klasik Islam dan neurosains modern. Dengan metode kualitatif berbasis studi literatur dan analisis reflektif, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut merupakan hasil dari internalisasi struktur logika, bukan sekadar kapasitas memori. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran efektif bersifat reflektif-analitis, di mana menghafal merupakan konsekuensi dari pemahaman mendalam. Artikel ini juga mengajukan kritik terhadap sistem pendidikan berbasis hafalan dan menawarkan kerangka epistemologis alternatif yang lebih kontekstual dan transformatif. Kata kunci: Ibnu Sina, epistemologi, neurosains, pe...

Apakah Kita Menyembah Tuhan, atau Bayangan Tuhan?

Gambar
  Apakah Kita Menyembah Tuhan, atau Bayangan Tuhan? Ada satu kalimat yang terlalu jujur untuk disukai banyak orang: kita sering beribadah, tapi tidak selalu bertemu Tuhan. Kita shalat, tapi pikiran kita di pasar. Kita berdzikir, tapi hati kita sibuk menghitung untung-rugi dunia. Kita menyebut nama Allah, tapi yang kita kejar sebenarnya adalah rasa aman, status sosial, atau sekadar ketenangan psikologis. Lalu pertanyaannya menjadi tidak nyaman: yang kita sembah itu Tuhan, atau bayangan Tuhan dalam kepala kita sendiri? Dunia yang Diperebutkan Seperti Bangkai Pernah melihat dunia dengan cara yang membuat banyak orang tersinggung: seperti bangkai yang diperebutkan. Al-Qur’an sebenarnya sudah lama memberi peringatan: وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185) Masalahnya bukan pada dunia. Masalahnya adalah ketika dunia menjadi pusat kesadaran kita , bahkan saat kita seda...

ANTARA OTORITAS DAN FRAGMENTASI: Ketika Waktu Umat Tidak Pernah Sama

Gambar
  ANTARA OTORITAS DAN FRAGMENTASI: Ketika Waktu Umat Tidak Pernah Sama Ada sesuatu yang jarang kita pertanyakan: mengapa waktu dalam terasa begitu pasti? Tanggal berganti pada pukul 00.00. Di satu belahan dunia sudah masuk hari baru, sementara di tempat lain masih hari sebelumnya. Namun perbedaan itu tidak pernah menjadi konflik. Tidak ada perdebatan panjang, tidak ada klaim kebenaran yang saling meniadakan. Dunia menerima satu hal sederhana: sistemnya satu, meskipun waktunya tidak serentak . Di balik itu, berdiri kesepakatan global yang ditopang oleh standar seperti . Manusia sepakat untuk tidak lagi menggantungkan penentuan waktu pada pengalaman langsung terhadap langit, tetapi pada sistem yang disusun bersama. Waktu, dalam pengertian ini, bukan lagi sekadar fenomena, melainkan konstruksi yang disepakati. Berbeda halnya dengan kalender Hijriah . Di sini, waktu masih berdenyut bersama langit. Awal bulan dikaitkan dengan kemunculan sebuah tanda yang halus, tipis, dan serin...

MUHAMMADIYAH DIMATA ANAK MUDA

Gambar
Tajuk Muhammadiyah di Mata Anak Muda: Dipercaya, Bergeser, dan Menemukan Momentum Baru Di tengah riuhnya perdebatan identitas keagamaan, temuan dari menghadirkan gambaran yang lebih jernih tentang posisi di mata generasi muda. Sebanyak 91 persen responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari itu, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya, 89,3 persen menilainya sebagai pemersatu bangsa, 87,3 persen melihatnya sebagai panutan dalam politik nasional, dan 82,6 persen menilai pejabat publik dari Muhammadiyah berkinerja baik. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah indikator bahwa Muhammadiyah masih memiliki legitimasi sosial yang kuat. Namun yang lebih penting bukanlah besarnya angka itu, melainkan pergeseran cara pandang yang terjadi di baliknya . Anak muda hari ini tidak lagi terutama mengenal Muhammadiyah dari simbol-simbol yang dulu kerap diperdebatkan. Hanya 17,1 persen yang mengaitkannya dengan “lebaran lebih dulu”, dan bahkan hanya 3,5 persen dengan “t...

TUDUHAN MUHAMMADIYAH ASAL BEDA

Gambar
Ibadah, Kebiasaan, dan Perubahan Sosial: Membaca Ulang Muhammadiyah dalam Bingkai Tajdid Abstrak Tulisan ini mengkaji kesalahpahaman terhadap Muhammadiyah yang berakar pada resistensi terhadap perubahan kebiasaan keagamaan dan cara memahami otoritas dalam Islam. Dengan pendekatan normatif-historis dan analisis ushul fikih, artikel ini menunjukkan bahwa tuduhan seperti “pembangkangan” atau “tidak taat” lebih disebabkan oleh kekeliruan dalam memahami konsep ijtihad dan batas ketaatan. Muhammadiyah diposisikan sebagai gerakan tajdid yang berupaya menjaga kemurnian ajaran sekaligus berkontribusi dalam kehidupan sosial. Kata kunci: Muhammadiyah, tajdid, ijtihad, ketaatan, hisab, perubahan sosial Pendahuluan Dalam dinamika Islam di Indonesia, perbedaan praktik keagamaan seringkali tidak hanya dipahami sebagai variasi ijtihad, tetapi juga ditarik ke ranah loyalitas dan ketaatan. kerap menjadi objek tuduhan “berbeda”, bahkan “membangkang”. Padahal, jika ditelusuri secara ilmiah, pers...

PENDIDIKAN : Berhala Hafalan Yang Dipertonoltonkan

Gambar
   Menggugat Berhala Hafalan: Menemukan Kembali Logika Ibnu Sina Oleh: edinarco Dunia pendidikan kita sering kali terjebak pada pemujaan terhadap "berhala hafalan". Sejak bangku sekolah dasar, ukuran kecerdasan dipaku pada angka-angka di atas kertas rapor yang memotret seberapa kuat seorang anak merekam teks. Padahal, sejarah mencatat bahwa pemikir besar sekelas Ibnu Sina tidak pernah sekadar menghafal. Ia memetakan. Ada jurang yang dalam antara menghafal dan memahami. Menghafal adalah proses mekanis seperti merekam lagu tanpa tahu arti liriknya. Sebaliknya, memahami adalah proses arsitektural. Ibnu Sina dikenal mampu menguasai isi buku hanya dengan sekali baca bukan karena ia memiliki "mutasi genetik" pada daya ingatnya, melainkan karena ia sudah memiliki peta logika yang utuh di kepalanya. Begitu informasi baru masuk, ia langsung tahu di mana letak "batu bata" itu harus diletakkan dalam bangunan pemikirannya. Tragedi "Si Rapor Jeblok" Banyak in...