MUHAMMADIYAH DIMATA ANAK MUDA



Tajuk

Muhammadiyah di Mata Anak Muda: Dipercaya, Bergeser, dan Menemukan Momentum Baru

Di tengah riuhnya perdebatan identitas keagamaan, temuan dari menghadirkan gambaran yang lebih jernih tentang posisi di mata generasi muda.

Sebanyak 91 persen responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari itu, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya, 89,3 persen menilainya sebagai pemersatu bangsa, 87,3 persen melihatnya sebagai panutan dalam politik nasional, dan 82,6 persen menilai pejabat publik dari Muhammadiyah berkinerja baik.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah indikator bahwa Muhammadiyah masih memiliki legitimasi sosial yang kuat.

Namun yang lebih penting bukanlah besarnya angka itu, melainkan pergeseran cara pandang yang terjadi di baliknya.

Anak muda hari ini tidak lagi terutama mengenal Muhammadiyah dari simbol-simbol yang dulu kerap diperdebatkan. Hanya 17,1 persen yang mengaitkannya dengan “lebaran lebih dulu”, dan bahkan hanya 3,5 persen dengan “tarawih 11 rakaat”.

Sebaliknya, 44,1 persen justru mengingat Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan berkualitas, dan 42,3 persen sebagai organisasi Islam yang modern dan rasional.

Di titik ini, kita melihat perubahan mendasar:
Muhammadiyah tidak lagi dibaca sebagai simbol, tetapi sebagai manfaat.

Ia hadir bukan dalam perdebatan, tetapi dalam pengalaman hidup melalui sekolah, kampus, rumah sakit, dan kerja-kerja sosial yang nyata. Tak heran jika 88,1 persen responden menilai pendidikan Muhammadiyah layak, 86,1 persen menilai layanan kesehatannya sangat baik, dan 80,5 persen menganggapnya terjangkau.

Namun pergeseran ini tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada perubahan yang lebih dalam: perbedaan cara generasi memahami agama.

Generasi tua tumbuh dalam tradisi sanad, guru, dan lisan di mana kebenaran dijaga melalui otoritas dan kesinambungan. Sementara generasi muda hidup dalam dunia literasi terbuka, digital, dan komparatif di mana kebenaran diuji, dibandingkan, dan diverifikasi secara mandiri.

Dari sinilah lahir perbedaan cara pandang.
Yang tua menjaga stabilitas, yang muda mencari relevansi.

Maka tidak tepat jika generasi tua disalahkan. Sikap mereka sering kali lahir dari upaya menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas dan keyakinan hidup. Namun di sisi lain, generasi muda juga tidak keliru. Mereka hanya menggunakan perangkat zaman yang berbeda untuk memahami hal yang sama.

Di antara dua arus inilah, Muhammadiyah berdiri dan justru menemukan momentumnya.

Survei juga menunjukkan bahwa 89,4 persen responden menilai Muhammadiyah adaptif terhadap perubahan zaman, dan 87,8 persen melihatnya ramah terhadap seni dan media populer. Ini menjadi sinyal bahwa Muhammadiyah mulai berhasil menjembatani dua dunia: tradisi dan modernitas.

Namun kepercayaan itu bukan tanpa batas. Ketika bersentuhan dengan isu konsesi tambang, muncul penolakan hingga 46 persen. Di sektor pendidikan, sekitar 31 persen responden di wilayah perkotaan mulai meragukan keterjangkauan biaya.

Artinya jelas:
kepercayaan itu ada, tetapi bersyarat.

Dan di sinilah tantangan sekaligus peluang itu muncul terutama di ruang media.

Di celah pergeseran generasi ini, media tidak lagi sekadar alat, tetapi menjadi arena utama pembentukan persepsi. Dalam beberapa waktu terakhir, Muhammadiyah tampak semakin aktif di ruang digital lebih komunikatif, lebih terbuka, dan lebih adaptif dalam menyampaikan gagasan.

Menariknya, apresiasi tidak hanya datang dari internal, tetapi juga dari netizen lintas kalangan. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah mulai dilihat sebagai kekuatan sosial yang relevan bagi publik luas.

Namun kehadiran saja tidak cukup.

Media perlu dikelola secara rapi, terstruktur, sistematis, dan masif. Tanpa itu, narasi hanya akan bersifat sporadis muncul sesaat, lalu hilang tanpa membentuk persepsi jangka panjang.

Yang dibutuhkan bukan sekadar konten, tetapi arsitektur narasi:

  • pesan yang jelas
  • penyampaian yang konsisten
  • distribusi yang luas

Tanpa kehilangan satu hal paling penting: kedalaman substansi.

Sebab kekuatan Muhammadiyah sejak awal bukan pada sensasi, tetapi pada ketertiban berpikir dan kerja nyata. Maka di era digital, tantangannya bukan menjadi viral, tetapi tetap bermakna.

Pada akhirnya, survei ini memberi satu pelajaran penting. Muhammadiyah hari ini tidak lagi diperdebatkan seperti dulu. Ia sedang dinilai, diuji, dan sejauh ini masih dipercaya.

Namun posisi itu tidak final.

Di mata anak muda, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi. Ia adalah harapan tentang bagaimana agama hadir secara rasional, membumi, dan memberi manfaat nyata.

Dan seperti semua harapan, ia hanya akan bertahan jika terus dijaga:
dalam nilai, dalam karya, dan kini dalam cara ia bercerita tentang dirinya sendiri.

Komentar