PENDIDIK (GURU) TERJEBAK WARISAN


Pendidik yang Terjebak dalam Warisan

Pendidikan hari ini tidak kekurangan konsep, tidak kekurangan metode, bahkan tidak kekurangan regulasi. Yang hilang justru hal paling mendasar: keberanian untuk berpikir dan bertindak sebagai pendidik.

Pendidik dilatih, disertifikasi, difasilitasi, tetapi pada saat yang sama diposisikan sebagai pelaksana. Dalam ruang yang seperti itu, lahirlah generasi pendidik yang terbiasa menjawab dengan satu kalimat: “siap dilaksanakan” sebuah bentuk modern dari sendiko dawuh.

Masalahnya sederhana tetapi serius:
pendidikan tidak bisa hidup dari kepatuhan.

Di ruang kelas, hal ini terlihat jelas. Pertanyaan “faham?” dijawab serempak “faham”, tetapi tidak pernah diuji. Siswa mampu mengerjakan soal, tetapi tidak memahami konsep. Nilai tinggi menjadi indikator keberhasilan, sementara proses berpikir tidak pernah benar-benar terjadi.

Ini bukan kegagalan siswa. Ini bukan pula semata kelemahan pendidiik/guru.
Ini adalah kegagalan sistem yang membiasakan reproduksi, bukan refleksi.

Dalam kerangka, praktik ini adalah bentuk reproduksi habitus: guru mengajar sebagaimana dulu dia diajar. Tanpa kesadaran kritis, pola ini akan terus berulang, lintas generasi.

Sementara itu, kritik tentang banking education menemukan relevansinya: siswa tidak diajak berpikir, tetapi diisi. Mereka tidak diajak memahami, tetapi dilatih mengulang.

Ironisnya, di tengah kritik global tersebut, kita sebenarnya telah memiliki fondasi yang kuat dari tokoh sendiri:

  • menekankan keahlian sebagai alat pembebasan,
  • menegaskan pendidikan sebagai proses menuntun,
  • mengajarkan ilmu yang berbuah amal.

Namun, ketiganya berhenti sebagai rujukan normatif, bukan praktik hidup.

Di sinilah letak masalahnya:
pendidik kita bukan tidak tahu apa yang benar, tetapi tidak menjalankan apa yang sudah diketahui.

Selama pendidik masih:

  • merasa cukup dengan mengajar, bukan memastikan siswa memahami,
  • puas dengan nilai, bukan proses berpikir,
  • dan nyaman dalam kepatuhan, bukan refleksi,

maka perubahan apapun kurikulum, metode, atau sistem tidak akan menyentuh inti persoalan.

Penegasan Akhir

“Masalah pendidikan bukan pada kekurangan kurikulum, methode ataupun konsep, tetapi pada keberanian untuk keluar dari warisan turun temurun yang jadi kebiasaan pendidik.”

“Selama pendidik tidak berubah cara berpikirnya, siswa hanya akan mewarisi cara lama dengan istilah yang baru.”

 .

Komentar