Tasamuh: Mengelola Perbedaan, Menjaga Peradaban

 


KHGT dan Tasamuh: Mengelola Perbedaan, Menjaga Peradaban

Perbedaan awal Ramadan atau bulan Hijriyah bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat Islam. Ia lahir dari perbedaan metodologi, batas geografis matla’ serta pendekatan fikih terhadap rukyat dan hisab. Namun di era digital, perbedaan itu sering kali berubah menjadi perdebatan terbuka, bahkan ejekan.

Di tengah dinamika tersebut, seruan tasamuh dari Ketua Umum  menjadi relevan dan strategis. Tasamuh bukan sekadar sikap lunak, melainkan kedewasaan dalam mengelola perbedaan.

Teguh Tanpa Menyerang

Dalam isu penetapan awal Ramadan maupun gagasan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah berdiri pada metodologi hisab yang konsisten dan terbuka secara ilmiah. KHGT sendiri merupakan ikhtiar menuju kesatuan sistem waktu umat Islam secara global sebuah gagasan peradaban, bukan sekadar teknis astronomi.

Namun yang menarik bukan hanya konsistensi metodologi itu, melainkan sikap sosial warganya. Ketika ejekan tidak dibalas, ketika perbedaan tidak direspons dengan sindiran, maka konflik menjadi bertepuk sebelah tangan.

Di sinilah tasamuh bekerja sebagai kekuatan sunyi.

Perbedaan adalah Keniscayaan Ijtihad

Penetapan awal bulan Hijriyah berada dalam wilayah ijtihad. Selama kriteria dan pendekatan berbeda, hasilnya pun mungkin berbeda. Itu bukan pembangkangan, melainkan konsekuensi metodologis.

Seruan untuk bertasamuh berarti:

  • Menghormati keputusan pemerintah.
  • Tidak memaksakan metode kepada pihak lain.
  • Tidak membangun narasi superioritas.
  • Menjaga ukhuwah di atas perbedaan teknis.

Sikap ini selaras dengan ajaran Al-Qur’an untuk membalas dengan cara yang lebih baik (QS. Fussilat: 34) dan menjadikan sabar sebagai kemuliaan (QS. Asy-Syura: 43).

KHGT sebagai Proyek Peradaban

Kalender Hijriyah Global Tunggal bukan sekadar soal tanggal puasa atau hari raya. Ia menyentuh aspek integrasi umat, kepastian waktu global, serta simbol kesatuan lintas negara.

Namun gagasan besar hanya dapat diterima jika dibangun di atas kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari akhlak.

Jika gagasan disampaikan dengan arogansi, ia ditolak.
Jika disampaikan dengan tasamuh, ia dipertimbangkan.

Kemenangan yang Sunyi

Di era media sosial, respons emosional memperpanjang umur konflik. Ketika satu pihak memilih menahan diri, ruang provokasi menyempit. Buzzer kehilangan bahan bakar.

Mungkin inilah makna terdalam dari nasrun minallah wa fathun qarib pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat. Kemenangan tidak selalu berupa keseragaman, tetapi kemampuan menjaga hati dan persaudaraan di tengah perbedaan.

Peradaban tidak dibangun oleh mereka yang paling keras bersuara, tetapi oleh mereka yang paling matang dalam bersikap.

Perbedaan awal Ramadan boleh terjadi.
Perbedaan menuju KHGT boleh diperdebatkan secara ilmiah.

Namun tasamuh adalah fondasi agar perbedaan itu tidak berubah menjadi perpecahan.

Dan mungkin di situlah kemenangan sejati umat:
teguh dalam prinsip, tenang dalam sikap, ikhlas dalam niat.




Komentar