TAHLILAN KEMATIAN : Tak Ada Di Kauman

 


Antara Prinsip dan Kerukunan:

Pelajaran dari Kauman tentang Kematian, Tradisi, dan Kedewasaan Beragama

Di tengah maraknya perdebatan mengenai tahlilan, kendurian kematian, haul, dan peringatan hari ke-7, 40, 100 hingga mendhak, terdapat pelajaran berharga dari kehidupan masyarakat Kauman yang mungkin jarang diangkat. Pelajaran itu bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana prinsip keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan kerukunan sosial.

Sejak puluhan tahun lalu, bahkan menurut penuturan para sesepuh sejak pra kemerdekaan, masyarakat Kauman telah terbiasa tidak melaksanakan kendurian kematian maupun peringatan hari-hari tertentu setelah wafatnya seseorang. Ketika ada keluargyang hendak mengadakan kendurian, para orang tua biasanya hanya berpesan:

"Tidak usah. Doa bisa dilakukan kapan saja."

Bukan karena membenci tradisi tersebut, bukan pula karena ingin memutus hubungan dengan masyarakat sekitar. Yang ingin dijaga adalah keyakinan bahwa doa kepada Allah tidak terikat oleh hitungan hari tertentu. Orang tua yang wafat dapat didoakan setiap saat, dan doa anak yang saleh merupakan salah satu amal yang terus mengalir manfaatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Karena itu, doa tidak harus menunggu hari ketujuh, keempat puluh, atau keseratus. Doa dapat dilakukan setiap selesai salat, setiap malam, setiap kali seorang anak teringat kepada kedua orang tuanya.

Namun menariknya, warga Kauman tidak menjadikan pilihan tersebut sebagai alasan untuk memusuhi orang yang berbeda.

Masyarakat sekitar sudah mengetahui bahwa warga Kauman tidak mengadakan kendurian kematian. Akan tetapi tidak pernah muncul kampanye untuk mencela tetangga yang melaksanakannya. Tidak ada kegemaran melabeli orang dengan istilah bid'ah, sesat, atau musyrik. Sikap yang muncul justru sederhana:

"Monggo."

Sebuah kata pendek yang mengandung penghormatan terhadap pilihan orang lain.

Allah berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

"Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah: 256)

Dan juga:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik." (QS. Fussilat: 34)

Dalam praktiknya, warga Kauman lebih memilih menunjukkan keyakinannya melalui teladan daripada perdebatan.

Yang lebih menarik lagi adalah tradisi sosial yang berkembang ketika terjadi kematian. Alih-alih keluarga yang berduka menyiapkan makanan untuk tamu, justru warga sekitar bergotong royong menyediakan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah.

Hal ini sejalan dengan tuntunan Rasulullah ﷺ ketika wafatnya Ja'far bin Abi Thalib:

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

"Klik DISINI : Penjelasan Selengkapny.. "

"Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika beralasan sedekah (shadaqah) jimpitan beras dan infaq  untuk PKO pada.setiap.jum'at sore ada petugas mendatangi tiap rumah warga. Pembangunan madrasah, mushala, infaq untuk para guru dan iuran hal biasa sudah jadi tradisi. Seperti pembangunan SMP 1952 saat itu tiap Kepala Keluarga berinfaq 1 gram emas.

Di sinilah tampak bahwa substansi ajaran lebih diutamakan daripada simbol-simbolnya.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Sebagian warga Kauman bahkan ejekan:

"Mati kok seperti kucing."

Ucapan itu muncul karena tidak adanya kendurian, tahlilan, atau keramaian sebagaimana lazim dilakukan masyarakat sekitar.

Tetapi mereka memilih tidak membalas. Mereka tetap datang ketika tetangga mempunyai hajatan, tetap membantu ketika ada kematian, tetap menjaga silaturahmi.

Sikap seperti ini mengingatkan pada ajaran para sufi.

Imam Al-Ghazali menulis bahwa salah satu tanda kematangan jiwa adalah tidak sibuk menuntut penghormatan dari manusia. Yang dicari adalah ridha Allah, bukan pengakuan masyarakat.

Jalaluddin Rumi berkata:

"Di luar benar dan salah, ada sebuah tempat. Di sanalah aku akan menemuimu."

Ungkapan ini bukan menafikan kebenaran, melainkan mengingatkan bahwa persaudaraan sering kali dapat dipelihara meskipun manusia berbeda pandangan.

Menariknya, sikap ini juga memiliki kemiripan dengan filsafat Stoik.

Epictetus mengajarkan:

"Yang mengganggumu bukanlah peristiwa, melainkan penilaianmu terhadap peristiwa itu."

Ejekan orang lain tidak harus dibalas dengan kemarahan. Yang berada dalam kendali kita adalah sikap kita sendiri.

Marcus Aurelius menulis dalam Meditations:

"Ketika seseorang berbuat salah kepadamu, pikirkanlah bahwa ia bertindak sesuai pemahamannya."

Karena itu, orang yang mencela tidak selalu harus dimusuhi. Bisa jadi ia hanya memahami agama dan tradisi dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam kenyataan masyarakat, terdapat tiga kelompok yang sama-sama memiliki alasan.

Kelompok pertama tidak melaksanakan kendurian kematian karena meyakini doa tidak terikat waktu tertentu.

Kelompok kedua melaksanakan karena hidup di lingkungan sosial yang menghendaki demikian dan ingin menjaga hubungan kemasyarakatan.

Kelompok ketiga melaksanakan karena meyakini adanya dasar-dasar keagamaan yang membolehkan atau menganjurkannya.

Masing-masing memiliki argumentasi dan latar belakangnya sendiri.

Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan itu, melainkan ketika perbedaan berubah menjadi kesombongan.

Padahal Allah telah mengingatkan:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

"Klik DISINI : Penjelasan Selengkapnya.... "

"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati." (QS. Al-Furqan: 63)

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Kauman bukanlah soal ada atau tidak adanya kendurian kematian.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa seseorang dapat tetap teguh memegang keyakinannya tanpa harus memusuhi tetangganya. Seseorang dapat menolak sebuah praktik untuk dirinya sendiri tanpa harus merendahkan orang yang memilih jalan berbeda.

Mungkin inilah makna kebijaksanaan yang diwariskan para orang tua dahulu: beragama dengan prinsip yang kokoh, tetapi berhati lapang kepada sesama manusia.


Komentar

Bacaan Populer

KAJIAN AHAD PAGI : Tanda Diterimanya Ibadah Hambanya

KAJIAN JUM'AT PAGI : Sorga Yang Dirindukan

Kebohongan : Awal Runtuhnya Martabat Manusia

TAHLILAN : Menjaga Kemurnian & Tradisi

Mengatasi Kedangkalan Materialisme

KABUPATEN AJIBARANG 1831-1832

TALANGAN HAJI RESMI : Hanya 625 Ribu / Bulan

PANDUAN DO'A SAFAR (Haji/Umroh)

CATATAN SEORANG "GURU HONORER"

PANITIA (COMMITE)