QURBAN : Makna Terlupakan

 



Menyembelih Ego: Makna Kurban yang Sering Terlupakan

Hari raya kurban bukan sekadar tentang siapa yang mampu membeli kambing paling besar atau sapi paling mahal. Kurban sejatinya adalah pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, dan penghancuran ego di hadapan Allah. Banyak orang mampu menyembelih hewan, tetapi gagal menyembelih kesombongan dalam dirinya.

Kisah seorang pria yang merasa paling berilmu dan paling benar dalam beragama adalah cermin yang sangat dekat dengan kehidupan hari ini. Ia sibuk menilai ibadah orang lain, gemar mengoreksi, mudah menyalahkan, dan diam-diam menikmati perasaan lebih suci dibanding sesamanya. Namun ketika Allah mengujinya dengan kemiskinan hingga tak mampu berkurban, runtuhlah semua kebanggaan yang selama ini ia bangun.

Di titik itulah ia mulai memahami bahwa ibadah bukan panggung kesalehan untuk meninggikan diri. Sebab Allah tidak membutuhkan daging dan darah kurban manusia. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dan kebersihan hati.



Allah berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian".QS. Al-Hajj:37

Betapa banyak manusia yang mampu membeli hewan kurban, tetapi lisannya masih tajam merendahkan orang lain. Masih gemar memamerkan amal, merasa paling lurus, paling sunnah, paling alim, paling berjasa bagi agama. Padahal kesombongan adalah penyakit pertama yang menghancurkan makhluk mulia.

Iblis tidak jatuh karena kurang ibadah. Ia jatuh karena merasa lebih baik.

Kesombongan dalam agama jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan harta. Orang miskin masih bisa dekat kepada Allah dengan kerendahan hati, tetapi orang sombong sering tertutup dari hidayah karena merasa dirinya sudah benar. Ia sulit menerima nasihat, sulit menghormati perbedaan, dan selalu ingin menjadi hakim atas iman orang lain.

Pesan yang dinisbatkan kepada Jalaludfin Rumi  itu sesungguhnya sangat dalam:
"Aku tak punya kambing, tapi aku menyembelih egoku setiap hari agar cinta Tuhan bisa masuk."

Inilah kurban yang paling berat: menyembelih “aku”.

Menyembelih rasa paling benar.
Menyembelih keinginan dipuji.
Menyembelih hasrat merendahkan orang lain.
Menyembelih kesenangan menghakimi.
Menyembelih ujub atas ilmu dan amal sendiri.

Sebab terkadang tanduk kesombongan dalam dada manusia jauh lebih berbahaya daripada tanduk kambing di tempat penyembelihan.

Hari ini, ada orang yang tidak mampu membeli hewan kurban, tetapi ia menjaga lisannya, memuliakan tetangga, membantu orang susah, tidak merasa lebih suci dari siapa pun, dan tetap bersyukur kepada Allah. Bisa jadi nilai ketakwaannya lebih tinggi daripada mereka yang berkurban tetapi penuh riya dan kesombongan.

Kurban sejati bukan hanya apa yang disembelih oleh tangan, tetapi apa yang dihancurkan di dalam hati.

Karena itu, jika tahun ini belum mampu menyembelih kambing atau sapi, jangan sampai kehilangan makna Idul Adha. Jadikan momen ini untuk menyembelih sifat angkuh, iri, riya, dan merasa paling benar. Sebab hati yang rendah lebih dicintai Allah daripada dada yang penuh kebanggaan spiritual.

Pada akhirnya, Allah tidak melihat seberapa besar hewan kurban kita,  masih belum mampu menahan lisan dari kesombongan, menahan hati dari merasa paling benar, dan menahan diri dari merendahkan orang lain, maka barangkali yang lelah hanyalah tubuh, sedangkan jiwa belum benar-benar bersujud. 


Wallahu a'lam bishawab

Komentar

Bacaan Populer

KAJIAN AHAD PAGI : Tanda Diterimanya Ibadah Hambanya

KAJIAN JUM'AT PAGI : Sorga Yang Dirindukan

Kebohongan : Awal Runtuhnya Martabat Manusia

TAHLILAN : Menjaga Kemurnian & Tradisi

Mengatasi Kedangkalan Materialisme

KABUPATEN AJIBARANG 1831-1832

TALANGAN HAJI RESMI : Hanya 625 Ribu / Bulan

PANDUAN DO'A SAFAR (Haji/Umroh)

CATATAN SEORANG "GURU HONORER"

PANITIA (COMMITE)