Pemilihan pengurus, penentuan dan keterapan pengurus harian sampai bagian di bawahnya oleh team yang disebut formatur. Formatur terpilih dari jumlah suara (voote) dari rangking 1 sd 12. Pemilihan berdasar kolektif kolegial, tapi praktik di lapangan masih dikuasai figur Batara Guru yang otoriter dan manipulatif. Hal ini biasa terjadi jika orang super power ingin selalu berkuasa dan mempengaruhi keputusan, hal ini di banyak situasi adalah senior atau incomben.
Kalau kita kaitkan dengan 48 Laws of Power, sebenarnya sedang berhadapan dengan kombinasi:
Law 1 – Jangan mengungguli atasan → Senior merasa takut kalah wibawa dari Anda.
Law 33 – Cari titik lemah orang → Titik lemahnya: mereka takut kehilangan dominasi.
Law 23 – Konsentrasikan kekuatan → Mereka memonopoli ruang keputusan kecil (formatur).
Law 27 – Mainkan kebutuhan orang akan keyakinan → Mereka jual citra “kita butuh figur senior” agar massa manut.
Strategi Cerdas Menghadapi Otoritarianisme Senior
Bukan frontal lawan, tapi mengelilingi. Beberapa siasat yang bisa Anda mainkan:
1. Masuk Lewat Kolektif, Bukan Individu
Gunakan Law 11 (Buat orang tergantung pada Anda).
Bangun soliditas dengan sesama formatur/anggota lain → jangan biarkan keputusan seolah hanya suara senior.
Jika formatur lain merasa suara mereka tak dihargai, satukan mereka → senior akan terisolasi.
2. Gunakan Posisi “Majelis” Sebagai Panggung
Jangan pandang sebelah mata posisi “simbolis”.
Law 31 (Kontrol opsi): jadikan majelis sebagai ruang framing ide → Anda bisa mengarahkan opini massa tanpa harus duduk di eksekutif.
Senior pikir mereka “menggeser” Anda, padahal sebenarnya memberi panggung lebih luas (karena posisi majelis biasanya lebih bebas bicara).
3. Mainkan Simbol Keberlanjutan
Law 45 (Khotbahkan perubahan pelan-pelan).
Jangan langsung benturkan “yang muda vs yang tua”. Bungkus dengan bahasa kesinambungan: “Regenerasi bukan berarti menyingkirkan senior, tapi meneruskan perjuangan mereka.”
Ini membuat publik sulit menolak argumen Anda tanpa terlihat egois.
4. Buka Jalur Informal
Law 18 (Jangan buat benteng terlalu tinggi).
Jangan hanya fokus pada rapat resmi → bangun pengaruh di luar forum (WAG, pengajian, pertemuan kecil).
Saat Muscab, dukungan massa diam sudah terbentuk, sehingga otoriter sulit bertahan.
5. Bangun Reputasi Tak Tergoyahkan
Law 5 (Reputasi adalah segalanya).
Walau masih ada yang lebih kompetitif dari senior, orang itu maka reputasi itu akan jadi fakta sosial.
Lama-lama senior hanya mempermalukan dirinya sendiri jika terus menghapus nama yang jelas didukung.
Contoh Narasi Strategis
Dengan narasi:
“Alhamdulillah, saya ditempatkan di majelis. Artinya, tugas saya menjaga agar keputusan pimpinan tetap lurus dan berorientasi pada maslahat jamaah. Majelis adalah tempat nilai, bukan sekadar posisi. Dan saya percaya, organisasi progresif ini bukan milik satu-dua orang, tapi milik kita bersama.”
Efeknya:
Batara Guru tidak bisa menyerang Anda (karena bicara elegan).
Anggota lain merasa suara mereka tetap terwakili.
Reputasi Anda makin menguat sebagai sosok bernas dan bijak, bukan haus jabatan.
Jadi intinya, walaupun secara formal Anda “digeser”, sebenarnya posisi itu bisa Anda putar jadi senjata. Senior bisa menghapus nama dari daftar, tapi tidak bisa menghapus reputasi dan opini massa yang sudah Anda tanam.

Komentar
Posting Komentar