"Robohnya surau melukai akal; lalu takdir dikubur menjadi mitos suci sebagai alibi keterbatasan manusia yang takut disebut ingkar"
Kalimat itu tidak sekadar puitik. Ia adalah tuduhan sosial. Ia menampar satu kebiasaan lama: ketika kegagalan manusia diberi jubah ilahi agar tak ada yang perlu dimintai pertanggungjawaban.
Dalam dua lapis pembacaan, maknanya segera terbuka.
Pertama, secara faktual: rakyat yang terbiasa berpikir kritis, analitis, dan berani bertanya tidak mudah digiring. Mereka menimbang, bukan sekadar mengikuti. Mereka bertanya mengapa, bukan hanya siapa dan apa.
Kedua, secara politis: di situlah ketakutan klasik kekuasaan otoriter berakar. Sejarah mencatat, dari kolonialisme hingga rezim modern, pendidikan kritis selalu dicurigai. Ia dianggap berbahaya karena melahirkan warga yang sulit ditaklukkan oleh propaganda, simbol suci, atau janji kosong.
Maka lahirlah satu rumus kekuasaan yang sederhana tapi efektif:
Jika rakyat tidak berpikir, kekuasaan akan berpikir untuk mereka.
Berpikir sebagai Tindakan Politik
Berpikir tidak pernah netral. Ia selalu punya konsekuensi sosial dan politik. Rakyat yang terbiasa berpikir kritis, analitis, dan berani bertanya akan sulit digiring oleh propaganda, simbol-simbol suci, atau janji kosong.
Di titik inilah berpikir menjadi tindakan pembebasan. Bukan karena setiap orang harus menjadi aktivis, tetapi karena nalar yang hidup membuat manusia menjadi subjek atas hidupnya sendiri, bukan sekadar pengikut arus.
Rakyat yang berpikir menimbang sebelum patuh, bertanya sebelum percaya, dan menguji sebelum menerima. Dan itulah sebabnya mengapa kebiasaan berpikir selalu dianggap berbahaya oleh kekuasaan yang rapuh.
Mengapa Rakyat Mudah Dikendalikan?
Ada sebab-sebab struktural dan kultural yang membuat masyarakat mudah diarahkan tanpa perlawanan berarti.
1. Warisan Historis: Kekuasaan yang Memerintah, Bukan Mendidik
Berabad-abad hidup di bawah sistem perintah membunuh keberanian untuk bertanya. Masyarakat dibiasakan patuh, bukan memahami. Pertanyaan mengapa dianggap pembangkangan, bukan tanda kedewasaan.
Dalam kondisi semacam ini, kekuasaan tidak perlu meyakinkan cukup memerintah.
2. Kebiasaan Kultural: Taklid dan Penyerahan Akal
Ketika kepercayaan diwariskan tanpa pemahaman, akal perlahan disingkirkan. Otoritas dianggap kebenaran. Pemimpin dipuja bukan karena tanggung jawabnya, tetapi karena simbol dan citra yang disakralkan.
Budaya ini melahirkan masyarakat yang lebih gemar memuja daripada mengawasi.
3. Pendidikan yang Menghafal, Bukan Membebaskan
Pendidikan yang hanya menekankan kepatuhan dan hafalan tidak melahirkan manusia merdeka. Ia mencetak individu yang terampil mengikuti instruksi, tetapi gagap menghadapi persoalan.
Selama pendidikan tidak melatih nalar kritis, rakyat akan terus berada di posisi objek, bukan pelaku sejarah.
Ketidaktahuan, Kenyamanan, dan Kepatuhan
Ketika ketidaktahuan bertemu kenyamanan semu, lahirlah kepasrahan yang rapi.
"Yang penting masih bisa hidup".
Kalimat ini terdengar wajar, tapi berbahaya. Ia menandai normalisasi ketidakadilan. Selama dapur masih mengepul, akal diminta diam. Kekuasaan memahami betul logika ini: perut yang tidak sepenuhnya lapar jarang melawan.
Di sinilah politik paling efektif bekerja bukan lewat kekerasan, tetapi lewat rasa aman yang cukup untuk membuat manusia berhenti bertanya.
Ketidakpedulian politik bukan sikap netral. Ia adalah penyerahan kuasa.
Robohnya Surau: Simbol yang Terus Hidup
A.A. Navis melalui Robohnya Surau Kami telah lama memberi peringatan. Surau yang runtuh bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol runtuhnya tanggung jawab manusia.
Kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial melahirkan agama yang pasif dan fatalistik. Kesalahan manusia disulap menjadi takdir. Kelalaian ditutup doa. Tragedi disucikan agar tak perlu diaudit.
Maka ketika mushala roboh, pesantren ambruk, atau nyawa melayang lalu kita berkata, “Ini sudah kehendak Tuhan,” barangkali yang sebenarnya roboh bukan dinding melainkan akal sehat.
Penutup
Takdir bukan alasan untuk berhenti berpikir. Iman bukan dalih untuk menolak tanggung jawab.
Setiap kali kesalahan manusia disucikan, setiap kali akal diminta tunduk demi kenyamanan, di situlah surau pertama-tama runtuh di dalam pikiran.
Dan ketika akal roboh, kekuasaan tak perlu memukul. Ia cukup menunggu rakyat berhenti bertanya.

Komentar
Posting Komentar