PENGURUS MUHAMMADIYAH KURU-KURU



ULAMA DAN PIMPINAN MUHAMMADIYAH KURU-KURU — KELAKAR GUS DUR 


Urunan dari harta sendiri. Bikin pesantren, universitas, rumah sakit, sekolah, bait amal setelah besar di wakafkan ke Muhammadiyah. Apa ada yang seberani itu .. ? apa ada yang senekat


 itu ? — Pengurus dan Pimpinan Muhammadiyah itu kuru-kuru, karena nggak punya apa-apa, kata Gus Dur di sebuah kajian interdisipliner di Aula Perpustakaan Kampus besar terbaik se dunia bernilai puluhan triliun, Universitas Muhammadiyah Malang tahun 1993 silam. 

Pesantren di Muhammadiyah bukan milik kyai bukan pula milik keluarga, tapi milik Persyarikatan Muhammadiyah, 

Universitas Muhammadiyah bukan milik Rektor atau badan hukum sendiri yang dibuat para pendirinya. Tapi milik Persyarikatan Muhammadiyah.

Semua aset Muhammadiyah dari mushala kecil d kampung terpencil hingga masjid besar pinggir jalan raya adalah milik Persyarikatan Muhammadiyah

Klinik bersalin hingga rumah sakit modern bertaraf internasional adalah milik Persyarikatan Muhammadiyah beralamat di kantur Pusat PP Muhammadiyah Jogjakarta. 

Para Ulama. Pimpinan dan Pengurus Muhammadiyah bekerja keras, berkhidmah siang malam dengan harta, jiwa, tenaga dan pikiran, semua tercurah, tidak ada niat memiliki pribadi, apalagi diwariskan ke anak cucu. 

Butuh iklas dobel saya bilang, tidak semua ulama atau kyai seberani dan senekat itu. Mana ada kyai berani mewakafkan pesantren yang sudah dibangun dengan susah payah kepada organisasinya ? 

Di Muhammadiyah bukan hanya berani tapi sudah menjadi tradisi dan kebiasan mewakafkan harta untuk Persyarikatan Muhammadiyah. 

Kader dan aktifis Muhammadiyah Jendral Besar Sudirman pendiri ABRI pernah berkata: Jika bimbang dan ragu menjadi kader Muhammadiyah lebih baik pulang.. !

Pada suatu malam ketika Ibrahim bin Adham Raja Balkh yang masyhur karena luas kekuasaannya, tertidur di kamar istananya, tiba-tiba langit-langit kamar berderak-derik, seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan berseru: “Siapakah itu?”

“Seorang sahabat”,' terdengar sebuah sahutan, “untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap ini …’

“Goblok, engkau hendak mencari unta di atas atap?”, seru Ibrahim.

“Hai manusia! Siapa yang goblok? Kau atau aku ? Engkau benar-benar manusia yang lalai”, suara itu menjawab, “Apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutera dan tidur di atas ranjang emas?”. 

Jawaban ini membuat Ibrahim bin Adham tercenung--dan memutuskan pergi meninggalkan istana. Ia hidup sendirian--hidup esoteris. 

Lantas Bagaimana bisa disebut wali, Kemana-mana mengagungkan kitab Ihya’ kampanye hidup zuhud dan wara’ tapi tangannya menggenggam erat kunci mobil alphard ….  ? 🙏🏻🙏🏻❤️


@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Komentar