DR SUPOMO apa itu pemilu gak.perlu...banyak orang bodoh lebih banyak dari orang pinter nanti orang bodoh yang kuasa.... orang jahat lebih banyak dari orang baik ...
Pertanyaaan sangat menarik karena memang ada beberapa tokoh besar Indonesia yang kritik terhadap demokrasi, termasuk Dr. Supomo yang disebut itu. Mari kita urai pelan-pelan biar jelas konteksnya:
1. Pandangan Dr. Supomo
Dr. Supomo (ahli hukum, perancang UUD 1945) bukan penggemar demokrasi liberal ala Barat. Dalam sidang BPUPKI (1945), ia menolak gagasan demokrasi Barat karena dianggap tidak cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia yang bersifat kolektivistik dan kekeluargaan.
Kutipan terkenal dari pemikirannya:
"Negara Indonesia bukan negara perseorangan, bukan pula negara golongan, melainkan negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya seperti suatu keluarga.”
Artinya, Supomo mengusulkan “negara integralistik”, yaitu: Negara dianggap satu tubuh dengan rakyat (tidak ada oposisi rakyat vs pemerintah. Tidak perlu sistem partai dan pemilu seperti di Barat, karena bisa menimbulkan perpecahan.
Pemimpin dianggap sebagai bapak rakyat yang memimpin secara bijaksana, bukan dipilih lewat kompetisi politik.
Supomo tidak terlalu percaya pada pemilu yang memberi suara sama kepada semua orang, karena menurutnya “kehendak rakyat” harus diwakili oleh semangat persatuan, bukan oleh pertarungan antar kepentingan.
2. Tokoh lain yang juga skeptis terhadap demokrasi
Beberapa tokoh besar lain, baik di Indonesia maupun dunia, juga punya pandangan serupa:
Soekarno
Awalnya pro-demokrasi, tapi kemudian menganggap demokrasi liberal (1950–1959) gagal karena banyak partai dan konflik.
Lalu menggagas “Demokrasi Terpimpin” (1959–1965) — rakyat dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan pemimpin revolusi.
“Demokrasi kita bukan demokrasi liberal, tapi demokrasi dengan pimpinan, dengan gotong royong.”
Plato (filsuf Yunani)
Dalam The Republic, Plato juga menolak demokrasi, karena menurutnya:
“Demokrasi memberi kekuasaan kepada orang banyak yang tidak tahu bagaimana memerintah.”
Ia khawatir orang bodoh bisa memilih pemimpin jahat atau demagog (tukang janji).
Winston Churchill
Bahkan Churchill, pendukung demokrasi, mengakui dengan sarkastik:
“Democracy is the worst form of government — except for all the others that have been tried.”
(Demokrasi adalah bentuk pemerintahan terburuk, kecuali dibanding semua bentuk lain yang pernah dicoba.)
3. Kesimpulan
Dr. Supomo tidak menolak rakyat, tapi menolak sistem demokrasi kompetitif (pemilu, partai) karena:
Menurutnya, bisa dikuasai oleh orang bodoh atau jahat (seperti yang kamu kutip).
Ia ingin sistem di mana pemimpin lahir dari kebijaksanaan, bukan suara terbanyak.
Pandangan ini melahirkan gagasan Negara Integralistik — yang lebih mirip sistem paternalistik (berbasis kekeluargaan).
Kutipan Pidato Dr. Supomo di Sidang BPUPKI
Berikut ini kutipan langsung dari pidato Dr. Supomo dalam Sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, saat membahas dasar negara. Ini diambil dari Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI (Sekretariat Negara, 1995):
Kutipan Dr. Supomo – 31 Mei 1945
“Negara yang kita dirikan bukanlah negara untuk seorang, bukan pula negara untuk golongan, tetapi negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, seperti suatu keluarga besar.”
“Negara Indonesia jangan didirikan atas dasar individualisme seperti di Barat. Di sana rakyat berjuang melawan negara; di sini, negara bersatu dengan rakyat. Negara Indonesia harus berdasar paham kekeluargaan.”
“Sistem demokrasi Barat menimbulkan pertentangan antara golongan dan perorangan; hasilnya, bukan persatuan, melainkan pertikaian. Di negeri kita, yang penting adalah persatuan seluruh bangsa.”
“Kalau kita ikut sistem demokrasi Barat, dengan partai-partai dan pemilihan umum, kita akan kehilangan semangat gotong-royong. Rakyat tidak memerlukan partai, melainkan pimpinan yang bijaksana.”
Penjelasan konteksnya
Dalam sidang itu, Supomo berdebat dengan Muhammad Yamin dan Soepomo (pada giliran lain juga dengan Soekarno).
Yamin dan Soekarno lebih menekankan kedaulatan rakyat dan demokrasi (walau versi Soekarno akhirnya juga “terpimpin”).
Supomo menegaskan bahwa Indonesia punya jiwa kolektif, bukan individualistik.
Karena itu, ia ingin bentuk negara yang seperti “organisme hidup”: rakyat dan negara menyatu, tidak ada oposisi atau persaingan politik.
Jika diringkas:
Supomo tidak menolak rakyat, tetapi menolak sistem demokrasi liberal.
Ia ingin negara integralistik — pemimpin dianggap sebagai "bapak" yang mengayomi seluruh rakyat, bukan sekadar hasil hitung suara.

Komentar
Posting Komentar