Ketika Alam Bersaksi
Refleksi Qur’ani tentang Kuasa, Kerusakan, dan Amanah
Aku tumbuh dengan ingatan tentang hutan yang pelan-pelan menghilang. Bukan hanya di satu tempat, tetapi di banyak wilayah: perbukitan penyangga, kaki barisan pegunungan, hingga daerah yang dari kejauhan tampak kokoh oleh siluet gunung. Pohon-pohon besar kian jarang dijumpai. Yang tersisa singkong, jagung, atau tanaman cepat panen lain. Tanah kering, rapuh, bisa diremas dengan tangan. Saat hujan turun lebat, air membawa tanah itu pergi. Sungai berubah coklat keruh namun tetap dipakai mandi, seolah-olah semuanya masih baik-baik saja.
Sebagai anak sekolah dasar, kami diajari bahwa hutan yang gundul menyebabkan banjir. Akar pohon menahan air, tanah menyerap hujan. Ilmu itu benar. Yang tidak diajarkan adalah pertanyaan lanjutan: siapa yang menggunduli, dengan izin apa, dan untuk kepentingan siapa? Maka kami tumbuh dengan pengetahuan alam yang lurus, tetapi dengan kesadaran sosial yang dipangkas.
Transisi Kekuasaan dan Algoritma “Mumpung”
Sejarah kemudian berulang. Setiap kali terjadi transisi kekuasaan pergantian rezim, krisis ekonomi, atau kekosongan otoritas kerusakan justru melonjak. Aktor-aktornya nyaris tak berubah. Yang berubah hanya baju, jargon, dan kecepatan. Keputusan dipercepat, prosedur dipangkas, pengawasan dilonggarkan. Inilah yang dalam bahasa sehari-hari disebut aji mumpung dan dalam bahasa analitis adalah oportunisme struktural.
Masyarakat tahu. Mereka melihat pohon tua puluhan tahun dibabat dalam hitungan hari. Mereka menyaksikan hutan diganti singkong, jagung, atau sawit. Tetapi mereka juga tahu risiko berbicara. Maka yang tersisa adalah diam bukan karena bodoh, melainkan karena paham betul biaya sosialnya.
Dalam situasi seperti itu, alam selalu menjadi korban pertama. Ia diam, tak bisa membela diri, dan kerusakannya bisa ditunda dampaknya. Keuntungan datang sekarang, bencana menyusul nanti.
Al-Qur’an: Kerusakan sebagai Akibat, Bukan Kejutan
Di titik inilah pertanyaan teologis muncul: apakah Tuhan bosan dengan tingkah manusia, atau alam tidak lagi bersahabat dengan kita?
Al-Qur’an menjawabnya tanpa kemarahan teatrikal:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”(QS. Ar-Rūm: 41)
Ayat ini tidak menyebut Tuhan bosan. Tidak pula menyebut alam murka. Yang ditegaskan justru hubungan sebab-akibat: kerusakan sebagai konsekuensi perbuatan manusia, agar manusia sadar dan kembali.
Ketika Kerusakan Disebut Perbaikan
Al-Qur’an bahkan telah lama mengingatkan tentang aktor-aktor yang merusak sambil mengklaim diri sebagai penyelamat:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’” (QS. Al-Baqarah: 11)
Ayat ini terasa begitu dekat dengan kenyataan hari ini: penebangan disebut pengelolaan, perampasan disebut pembangunan, dan percepatan disebut solusi. Bahasa menjadi alat pembenaran, bukan penerangan.
Alam Tidak Memusuhi, Ia Jujur
Alam tidak membenci manusia. Ia hanya patuh pada sunnatullah hukum keseimbangan yang ditetapkan Allah. Ketika akar hilang, air mengalir tanpa rem. Ketika tanah dibuka, ia hanyut saat hujan. Ini bukan kemarahan alam, melainkan kejujuran ciptaan.
Al-Qur’an mengingatkan:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya; lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
(QS. Al-Ahzab: 72)
Kerusakan ekologis, pada akhirnya, adalah kegagalan manusia menjaga amanah.
Penutup: "Bukan Tuhan yang Berubah"
Al-Qur’an menutup peringatan ini dengan kalimat yang sunyi namun tegas:
وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Dan Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. An-Nahl: 33)
Bukan Tuhan yang bosan pada manusia. Bukan alam yang memusuhi kita. Yang berubah adalah manusia akalnya terpisah dari amanah, ilmunya tunduk pada keuntungan, dan kekuasaannya kehilangan rasa takut.
Ketika alam bersaksi melalui banjir, longsor, dan tanah yang hanyut, Al-Qur’an tidak menyebutnya murka. Ia menyebutnya peringatan agar manusia kembali, sebelum semua benar-benar habis.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar