KEMISKINAN: HARGA SEBUAH DEMOKRASI
Catatan tentang Demokrasi Sembako, Ketakutan Sistemik, dan Senyapnya Ruang Publik
Pendahuluan:
Demokrasi yang Datang Bersama Kantong Harapan dan Sanjungan
Di banyak tempat, demokrasi tidak hadir sebagai hak politik, melainkan sebagai momen distribusi. Ia datang bersama sembako, amplop, atau transfer tunai. Rakyat tidak lagi bertanya soal visi, arah kebijakan, atau keberpihakan negara. Pertanyaan yang tersisa lebih sederhana: apa yang akan kudapatkan kali ini?
Demokrasi pun menyusut maknanya.
Bukan lagi kedaulatan rakyat, melainkan manajemen kemiskinan yang dikemas dalam ritus elektoral.
Ketika pilihan politik ditentukan oleh kebutuhan perut hari ini, maka demokrasi tidak sungguh-sungguh bekerja. Ia hanya bertahan sebagai prosedur, sementara substansinya menguap.
Demokrasi Sembako:
Ketika Hak Diubah Menjadi Hadiah
Bantuan sosial atau lazis bagian sembako ataupun uang tunai pakaian adalah bagian dari negara/ lazis pada dasarnya adalah hak warga masyarakat atau warga negara, warga masyarakat. Namun dalam praktik politik elektoral, ia sering diperlakukan sebagai hadiah personal dari elite kekuasaan. Relasi negara warga atau lembaga berubah menjadi relasi pemberi penerima.
Dalam kondisi ini, masyarakat:
- tidak melihat dirinya sebagai pemilik kedaulatan,
- tidak merasa berhak menuntut,
- dan perlahan belajar bahwa diam adalah sikap paling aman.
- Demokrasi tidak dibunuh. Ia dijinakkan.
Ketakutan sebagai Infrastruktur Politik
Ketakutan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ia bekerja lebih halus:
- lewat petugas dari pusat kekuasaan hingga lorong-lorong gang sempit,
- pamong dan komisaris sebagai ujung tombak kontrol,
- informan informal yang menyaru sebagai tetangga,
- hingga medsos yang diawasi tanpa pernah diumumkan.
Cukup satu admin dipanggil, satu ancaman dilemparkan, satu kalimat disampaikan:
“Semua bisa dilacak.”- kritik menghilang,
- diskusi mati,
- yang tersisa candaan, pengumuman, dan berita lelayu untung bukan barang hilang.
Inilah represi paling efisien: tanpa larangan, tanpa pasal tertulis, tapi berhasil.
Media Sosial Internal: Ruang Publik yang Paling Rentan
Berbeda dari Facebook atau TikTok, grup WhatsApp warga adalah ruang sosial nyata. Anggotanya saling kenal, saling bertetangga, dan saling bergantung. Karena itu, ia juga ruang paling mudah diintimidasi.
Tidak perlu peretasan tak perlu bayar hacker.
Cukup biarkan beberapa “mata” masuk ke dalam grup.
Ketika satu orang disorot, yang lain belajar untuk diam.
Bukan karena setuju, tetapi karena ingin selamat.
Rakyat atau warga yang Tidak Tahu: Pendidikan atau Sistem?
Sering kali rakyat disalahkan: pendidikan rendah, mudah dibeli, apatis.
Namun ini analisis yang malas.
Masalah utamanya bukan rendahnya kecerdasan warga masyarakat,
melainkan sistem yang secara aktif mencegah rakyat belajar menjadi warga masyarakat.
Tidak ada pendidikan politik praktis.
Tidak ada pemahaman prosedural.
Tidak ada ruang aman untuk bertanya.
Yang ada hanya kepatuhan administratif dan ancaman sosial.
Epilog:
Ketika Demokrasi Direduksi Menjadi Sembako, dan Keberanian Menjadi Barang Langka
Pada akhirnya, demokrasi di banyak ruang sosial kita tidak mati dengan kudeta, tidak dibunuh dengan senjata, dan tidak digulingkan dengan tank.
Ia mati pelan-pelan, dengan cara yang rapi dan sopan.
Ia digantikan oleh sembako.
Ia ditukar dengan jabatan
Ia ditukar dengan pujian manipulatif
Ia ditenangkan oleh ketakutan administratif.
Dan ia dibungkam oleh kesenyapan kolektif yang disebut ketertiban.
Di titik ini, rakyat sbagai individu tidak lagi bertanya ke mana arah kebijakan,
tetapi kita dapat bagian apa
Demokrasi berhenti sebagai sistem politik,
dan menjelma ritual: datang, menerima, diam, lalu pulang.
Riuh rendah rapat bak "tukang pantheng" di pasar hewan
Namun kekuasaan lupa satu hal:
kesadaran tidak bisa dimatikan selamanya.
Ia tumbuh dari ketidakadilan yang berulang,
dari kebijakan yang tak berpihak,
dari ancaman yang terlalu sering,
dan dari kemiskinan yang diwariskan tanpa rasa bersalah.
Perubahan tidak lahir dari satu tokoh atau satu pemilahan pimpinan
Ia lahir dari pergeseran cara berpikir:
dari penerima menjadi pemilik hak,
dari takut menjadi paham,
dari diam menjadi bermartabat,
dari sendiri-sendiri menjadi barisan.
Selama rakyat hanya diberi jabatan, pujian tanpa pengetahuan,
tanpa kemandirian,
tanpa ruang aman berdiskusi,
dan tanpa perlindungan sosial,
maka demokrasi akan selalu dibayar dengan kemiskinan.
Dan di kejauhan, kekuasaan mungkin tersenyum puas, sambil berbisik seperti Dora penjelajah:
“Berhasil. Berhasil. Hore.”
Padahal yang berhasil bukan demokrasi,
melainkan ketakutan yang dilembagakan.
Dan tugas sejarah rakyat cepat atau lambat adalah mengingat kembali satu kebenaran sederhana yang selalu ditakuti kekuasaan:
Dem²okrasi bukan soal menerima,
tetapi soal menentukan
Penguasa yang buruk tidak pernah gelisah melihat anggota/rakyatnya hidup serba kekurangan. Kemiskinan justru menjadi alat untuk mengendalikan, karena orang yang sibuk bertahan hidup jarang sempat memikirkan bagaimana sistem bekerja. Tetapi ketika warga masyarakat mulai memahami hak, menyadari ketidakadilan, dan mulai mempertanyakan kebijakan, barulah ketakutan itu muncul. Pengetahuan memberi keberanian, dan keberanian selalu menjadi .

Komentar
Posting Komentar