NILAI SEBUAH PEMIKIRAN

 


NILAI SEBUAH PEMIKIRAN 
"dari kegamangan dan  kegelisahan nafsu"


Menata arah, bukan menunggu angin datang adalah bukan suatu kegalauan apalagi kegelisahan langkah yang akan dilaluinya. Ia tidak hanya menyerap informasi, tetapi mengolahnya menjadi pijakan untuk membangun sesuatu. Kemampuan membedakan opini dari bukti, wacana dari realita. Keberaniannya terletak pada kesanggupan bertanya pada dunia yang belum nyata menembus kemungkinan tanpa gentar pada bayangan yang selalu mengikuti. Bukan pula meletakan setumpuk angan kosong di atas meja, biar tak ada tanggungjawab yg diembannya. 

Padahal bayangan itu hanyalah fatamorgana, tercipta dari angan kosong yang berlari mendahului pikiran. Mereka yang berpikiran kuat sadar, ketakutan terbesar manusia sering bukan berasal dari kenyataan, melainkan dari ilusi yang dibesarkan oleh imajinasi tanpa kendali akal hanya nafsu keserakahan semata. 

Bagi mereka yang lurus lagi kuat, percakapan bukan sekadar suara, melainkan pijakan kemajuan dan jembatan perubahan. Panggung bukan tujuan akhir, tetapi ruang merilis ego, menata langkah, dan meniti jalan menuju keridaan yang hakiki. Mereka berbicara bukan untuk menang, tetapi untuk menyingkap kebenaran. 

Namun lihatlah riuh rendah percakapan di dunia nyata maupun maya. Ia sering hanya menjadi interaksi fitrah manusia yang berselancar di air dangkal. Obrolan berkutat pada senda gurau tanpa makna, menghabiskan waktu untuk membicarakan bahkan melemahkan orang lain. Semua itu sekadar memuaskan ketakutan, keserakahan, dan nafsu  akan tahta dan mahkota. 

Alih-alih tertarik pada pertukaran ide yang menginspirasi perkembangan dan perubahan, percakapan justru tenggelam dalam kebisingan. Ironisnya, semua ini kerap dibungkus jargon “berkemajuan”. Padahal waktu manusia terbatas, dan setiap detik yang habis dalam percakapan hampa adalah kehilangan yang tak tergantikan. 

Jika ingin menjadi lebih bijak, tingkatkan kualitas percakapanmu. Fokuslah pada solusi, bukan sekadar masalah. Pada gagasan yang memberi kehidupan, bukan ide yang hanya memuaskan ego-ego yang mempertahankan sesuatu bukan karena masih bernilai, melainkan karena ia adalah harta warisan yang telah lapuk dan kosong, namun terlalu lama disakralkan untuk dilepas. 

Bagi yang lemah adalah ketundukan tanpa proses berpikir. Ia tunduk bukan kepada kebenaran, melainkan kepada kebiasaan. Energinya habis untuk membicarakan orang lain. Gosip menjadi hiburan, ghibah menjelma cerita tanpa kata, dan kebencian hadir tanpa arah. Celaan menjadi pelarian dari keresahan batin yang tak pernah diselesaikan. 

Tak heran, suara mereka hanya muncul saat kehidupan orang lain dijadikan bahan obrolan, bukan untuk membangun, tetapi untuk menggerogoti. Bagi mereka, ruang pikir hanyalah tempat hafalan berulang, bukan ruang tumbuhnya akal apalagi kembali ke lembaran naqli. 

Di antara keduanya, berdirilah pikiran biasa.

Ia hidup dari narasi, tetapi tidak pernah melahirkan narasi. Mereka gemar membahas peristiwa, tahu apa yang sedang ramai, mampu mengulang berita, bahkan berdebat soal kejadian. Namun semuanya reaktif. Tak ada keberanian menyelami lebih dalam, apalagi mencari solusi. Beribu kata dirangkai, puluhan kalimat dijadikan alinea lalu berlalu bersama senja memerah menggulung gegap gempita siang. 

Di titik inilah akal (aqli) dan wahyu (naqli) seharusnya saling meneguhkan, bukan dipertentangkan. Akal diberi untuk menimbang, menganalisis, dan membedakan. Wahyu diturunkan sebagai penuntun arah, agar akal tidak tersesat oleh kesombongannya sendiri.

Al-Qur’an tidak memuliakan manusia karena banyak bicara, tetapi karena berpikir.

Berulang kali wahyu menegur: apakah kamu tidak menggunakan akal?

Namun akal juga diperingatkan agar tidak melampaui batas, agar tidak mengira dirinya cukup tanpa petunjuk. 

Adalah pikiran yang menggunakan akal dengan rendah hati, dan menerima wahyu dengan kesadaran. Ia kritis tanpa pongah, taat tanpa membeku. Ia berdialog dengan realitas, tetapi tak kehilangan norma. 

Pada akhirnya, kualitas manusia tercermin dari kualitas percakapannya.

Apakah ia sekadar pengulang, penggosip, dan penonton?

Ataukah penata arah yang menjadikan kata sebagai tanggung jawab? 

Karena percakapan yang berakar pada akal dan dituntun wahyu

tidak hanya mengubah cara berpikir,

tetapi mengubah cara hidup. 


Wallahu a'lam bishawab ...



Ajibarang, 24 jun '25

Sejuknya pagi  segarnya secangkir kopi pahit. dan sejuknya sore hari  bersama rintik hujan 21 dec '25


Komentar