ISLAM HILANG SEJARAHNYA



Sejarah yang Dipatahkan: Mengapa Dunia Islam Kehilangan Waktunya


Oleh: edinarco


Ada satu kebohongan paling rapi dalam sejarah modern:

bahwa dunia hanya berjalan melalui satu jalur waktu.

Jalur itu dikenal luas: Yunani melahirkan rasio, Romawi memberi hukum, Renaissance membangkitkan manusia, Pencerahan menobatkan akal, lalu demokrasi menjadi takdir akhir. Semua yang berada di luar jalur ini dianggap terlambat, tertinggal, atau gagal. Dunia Islam jika disebut hanya hadir sebagai sisipan, gangguan, atau masa lalu yang tidak selesai.

Tamim Ansary menyebut ini bukan kesalahan kecil, melainkan rekayasa narasi.

Islam dan Barat, kata Ansary, tidak pernah hidup dalam jam sejarah yang sama. Keduanya berkembang paralel sebagai dua peradaban besar, dengan visi dunia, konsep pengetahuan, dan arah hidup masing-masing. Masalahnya bukan karena Islam kalah berlomba, tapi karena perlombaan itu didefinisikan sepihak oleh Barat setelah ia menang.

Islam Bukan Bayangan Barat

Dalam narasi Barat, Islam sering diposisikan sebagai “agama” semata urusan iman pribadi yang seharusnya menjauh dari politik dan hukum. Tetapi sejak awal, Islam lahir sebagai proyek peradaban: menyatukan iman, etika, hukum, dan tata sosial. Itu bukan penyimpangan, melainkan karakter dasarnya.

Karena itu, mengukur Islam dengan pengalaman Kristen Eropa adalah kesalahan metodologis. Eropa memisahkan gereja dan negara karena trauma sejarahnya sendiri. Islam tidak pernah mengalami trauma yang sama, maka ia tidak pernah sampai pada kesimpulan yang sama.

Saat Eropa berada dalam apa yang mereka sebut Dark Ages, dunia Islam justru menyalakan lampu. Baghdad, Cordoba, Kairo, dan Bukhara menjadi simpul peradaban global. Ilmu pengetahuan berkembang bukan sebagai hobi, tapi sebagai kewajiban moral. Akal, iman, dan etika berjalan dalam satu tarikan napas.

Ironisnya, justru periode inilah yang dipotong dari ingatan kolektif dunia.

Ketika Sejarah Dibunuh Bersama Kota

Invasi Mongol bukan sekadar kehancuran politik. Pembakaran Baghdad adalah pembunuhan memori peradaban. Perang Salib bukan hanya konflik agama, tetapi titik balik psikologis: Islam berhenti memandang dirinya sebagai pusat dunia.

Kolonialisme datang menyempurnakan kehancuran itu. Tanah dijajah, ekonomi dieksploitasi, dan yang paling fatal sejarah ditulis ulang. Dunia Islam diajarkan melihat masa lalunya sebagai kegagalan, dan masa depannya sebagai tiruan Barat.

Sejak itu, umat Islam hidup dalam krisis yang tidak pernah selesai: krisis tentang siapa dirinya.

Maka lahirlah dua reaksi ekstrem yang tampak berlawanan tetapi sebenarnya sebangsa: fundamentalisme dan sekularisme. Yang satu melarikan diri ke masa lalu, yang lain menyerah pada definisi Barat tentang kemajuan. Keduanya reaktif. Keduanya lahir dari luka yang sama: kehilangan kendali atas narasi sendiri.

Modernitas yang Dirampas

Ansary tidak mengatakan Islam anti-modern. Justru sebaliknya. Islam pernah modern lebih dahulu, tetapi modernitas itu dipatahkan sebelum sempat matang secara historis. Yang tersisa kini adalah modernitas impor datang dengan bahasa asing, standar asing, dan rasa rendah diri bawaan.

Masalah dunia Islam hari ini bukan kurangnya iman atau hukum, tetapi ketiadaan kedaulatan berpikir. Kita sibuk mendebat simbol, tetapi lupa membangun kerangka. Kita berebut masa lalu, tetapi tidak berani menulis masa depan.

Membebaskan Waktu, Bukan Membenci Barat

Penting ditegaskan: membaca Ansary bukan ajakan membenci Barat. Ini bukan proyek balas dendam historis. Ini adalah upaya membebaskan waktu mengembalikan hak umat Islam untuk memahami dirinya tanpa kacamata kolonial.

Selama umat Islam hidup dalam sejarah yang ditulis orang lain, setiap kebangkitan akan selalu tampak mencurigakan, dan setiap kemajuan akan terasa seperti pengkhianatan.

Kebebasan sejati tidak dimulai dari negara, sistem, atau jargon. Ia dimulai dari kesadaran bahwa sejarah tidak netral, dan bahwa kita berhak menafsirkan dunia dengan bahasa kita sendiri.

Jika kita belum pernah mendengar sejarah dunia dari sudut pandang Islam, maka sesungguhnya kita belum selesai belajar.

Kalimat pamungkas Ansary 

“Selama kamu hidup dalam sejarah yang ditulis orang lain, kamu tidak pernah benar-benar merdeka.”

Komentar