TRADISI - WIS LUMRAHE

  


Wis Lumrahe”: Saat Yang Salah Tak Lagi Dipertanyakan

Tidak semua yang keliru lahir dari niat jahat.

Sebagian justru tumbuh dari kebiasaan—diulang, diwariskan, lalu diterima sebagai kewajaran. Dalam bahasa kampung kami disebut singkat saja: wis lumrahe.

Kalimat itu tampak ringan. Bahkan terasa menenangkan.

Ia menutup perbincangan, mengakhiri pertanyaan, mematikan kegelisahan.

Karena ketika sesuatu sudah lumrah, ia tak lagi meminta pembenaran, apalagi koreksi.

Saya tumbuh dengan cerita-cerita kecil semacam itu.

Tentang sedekah yang harus diberikan pada figur tertentu agar hidup “adem”.

Tentang amplop yang diselipkan diam-diam sebagai tanda hormat.

Tentang zakat yang tak seluruhnya sampai pada yang berhak, karena “sebagian diputar dulu”.

Tentang insentif pengurus yang tak pernah diumumkan, tapi selalu ada.

Tak ada kemarahan di sana.

Yang ada hanya gelengan kepala dan kalimat penutup:

Yo ngono kuwi wis lumrahe.”

Di titik tertentu, agama tidak lagi dipertanyakan kebenarannya, tapi cara manusia mengelolanya.

Bukan ajarannya yang bermasalah, melainkan kebiasaan yang dibungkus ajaran.

Saya teringat satu kisah lama, dari tahun-tahun ketika korupsi belum disebut terang-terangan. Ada orang berkata, "suap itu seperti hendak memetik mangga namun tangan tak sampai" begitu seperti lirik sebuah lagu, maka boleh memakai tiang bendera untuk mememtiknya. Analogi yang terdengar lugu, bahkan cerdas. Padahal di situlah persoalan bermula: akal dipakai bukan untuk membedakan benar dan salah, tapi untuk membenarkan pelanggaran.

Saat itu, yang rusak bukan sistem saja, melainkan nurani bersama.

Dalam praktik keagamaan, gejala serupa perlahan tumbuh. Doa menjadi sesuatu yang “diwakilkan”. Pahala seolah bisa dikirim lewat orang yang dianggap lebih suci. Dan uang, entah sadar atau tidak, menjadi medium yang menyertainya. Tidak pernah disebut sebagai jual beli. Tapi juga tidak sepenuhnya bebas dari rasa transaksi.

Yang miskin memberi dengan susah payah.

Yang menerima sering kali sudah cukup.

Tapi semua merasa aman, karena tidak ada yang secara eksplisit melanggar. Lagi pula, ini sudah berlangsung lama.

Wis lumrahe.

Di sinilah letak bahayanya.

Bukan karena orang-orangnya jahat, tetapi karena kebiasaan telah menciptakan zona nyaman moral. Dalam zona itu, pertanyaan dianggap tidak sopan. Kritik dianggap kurang adab. Dan keberanian untuk berkata “ini tidak tepat” dipandang sebagai ancaman harmoni.

Padahal agama, sejak awal, justru hadir untuk mengganggu kenyamanan yang menyesatkan.

Rasul tidak memulai risalah dengan memuji tradisi. Ia mempertanyakan kebiasaan.

Para nabi tidak diutus untuk menyesuaikan diri dengan yang lumrah, tetapi untuk meluruskan yang salah meski sudah diwariskan turun-temurun.

Namun dalam perjalanan sejarah, kita sering lupa:

yang paling sulit dilawan bukanlah kejahatan, melainkan kewajaran palsu.

Karena kejahatan masih bisa ditunjuk.

Tapi kewajaran yang keliru hidup dalam diam, diterima tanpa debat, dan dibela tanpa sadar.

Tulisan ini tidak sedang menunjuk siapa pun.

Ini hanya catatan kecil tentang bagaimana agama yang suci bisa terseret oleh kebiasaan manusia yang terlalu lama dibiarkan. Tentang bagaimana niat baik bisa kehilangan arah ketika tak pernah diaudit oleh nurani.

Mungkin memang tidak semua harus dilawan.

Tapi setidaknya, tidak semua harus dimaklumi.

Sebab bila setiap pelanggaran ditutup dengan “wis lumrahe”,

maka suatu hari kita akan lupa:

bahwa yang lumrah tidak selalu benar,

dan yang benar sering kali terasa tidak lumrah.

Komentar