ATAS NAMA MUHAMMADIYAH KW

 



Mengembalikan Otoritas Muhammadiyah dari Kegaduhan Simbolik

Di era media sosial, simbol sering bergerak lebih cepat daripada akal. Nama besar, logo, dan identitas organisasi mudah dijinjing ke ruang publik untuk membungkus kepentingan personal. Yang muncul bukan klarifikasi nilai, melainkan kegaduhan simbolik.

Muhammadiyah, sebagai organisasi modern dengan tradisi intelektual panjang, justru sedang diuji di titik ini: apakah ia dibiarkan berbicara dengan otoritasnya sendiri, atau terus diseret oleh suara-suara yang mengatasnamakannya tanpa mandat?

Pernyataan normatif salah satu pimpinan pusat bahwa Muhammadiyah tidak anti kritik seharusnya menjadi garis terang. Kritik bahkan yang datang dari luar diposisikan sebagai mekanisme kontrol, bukan ancaman. Dalam tradisi tajdid, kritik adalah bahan olah nalar, bukan objek kriminalisasi.

Masalah muncul ketika kritik sosial dibalas dengan reaksi legalistik yang membawa simbol organisasi. Di titik ini, terjadi pembalikan fungsi: simbol yang seharusnya memayungi nilai berubah menjadi tameng personal. Organisasi yang mestinya tenang justru tampak reaktif bukan karena sikap resminya, melainkan karena ulah representasi semu.

Media sosial memperparah keadaan. Logika viral mendorong “panjat pinang simbolik”: siapa cepat membawa nama besar, dia yang naik. Namun keuntungan sesaat ini menyisakan kerugian jangka panjang otoritas institusional terkikis, dan batas antara sikap organisasi dan ambisi individu menjadi kabur.

Lebih berbahaya lagi, reaksi semacam ini menciptakan efek gentar. Bukan hanya kepada satu pengkritik, tetapi kepada publik luas. Pesannya implisit namun jelas: berhati-hatilah mengkritik. Padahal, organisasi besar tidak tumbuh dari keheningan karena takut, melainkan dari perdebatan yang dewasa.

Muhammadiyah tidak pernah dibesarkan oleh kegaduhan. Ia hidup dari kerja sunyi, pendidikan, dan konsistensi etika. Diamnya sering disalahpahami, padahal justru di sanalah wibawa bekerja. Otoritas sejati tidak memerlukan mikrofon.

Karena itu, yang mendesak hari ini bukanlah sikap seragam, melainkan pengembalian batas: siapa berhak berbicara atas nama organisasi, dan dengan cara apa. Biarkan kritik beredar, biarkan publik menilai, dan biarkan Muhammadiyah berdiri di atas otoritasnya sendiri.

Biarlah kicauan burung dan riuh petir menjadi orkestra zaman. Orkestra akan selalu ribut mencari perhatian. Sementara Sang Surya, tanpa sensasi dan tanpa panik, tetap bersinar tepat waktu, 



Epilog

Di zaman ketika mikrofon lebih dipercaya daripada akal,
setiap kegaduhan ingin naik panggung atas nama kebenaran.
Simbol dijinjing seperti tameng, logo dipamerkan seperti jimat,
seolah otoritas lahir dari suara paling keras, bukan dari nalar paling jernih.

Muhammadiyah tidak pernah dibangun oleh tepuk tangan.
Ia tumbuh dari kerja sunyi, dari kritik yang dipikirkan,
bukan dari laporan yang dipamerkan.
Maka ketika ada yang berteriak membela sambil menyeret,
yang terbela bukan nilai melainkan ego.

Biarkan burung berkicau, biarkan petir berlatih jadi badai
(jika memang harus).
Orkestra zaman akan terus ribut mencari konduktor,
sementara Sang Surya tanpa akun, tanpa sensasi tetap terbit tepat waktu.

Dan di situlah bedanya:
yang butuh sorot adalah bayangan,
yang memancarkan cahaya tidak pernah sibuk menunjuk dirinya sendiri.


Komentar