BASMALLAH DIGANTI ALFATIKHAH

BANTAHAN ANJURAN MENGAWALI ACARA DENGAN MEMBACA SURAT AL-FĀTIḤAH DAN PENAFIAN BASMALAH

Oleh: edinarco

Abstrak

Tulisan ini mengkaji secara kritis pernyataan salah satu tokoh agama dalam sebuah video yang menyatakan bahwa suatu acara atau pertemuan tidak seharusnya diawali dengan basmalah, melainkan dengan membaca surat al-Fātiḥah. Kajian ini menggunakan pendekatan dalil naqli (Al-Qur’an dan Sunnah), kaidah ushul fiqh, serta pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah untuk menilai validitas klaim tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa anjuran tersebut tidak memiliki dasar syar‘i yang sahih, bahkan bertentangan dengan prinsip tauqīfiyyah dalam ibadah, serta berpotensi menggeser sunnah yang telah mapan.

Pendahuluan

Di antara kaidah besar dalam agama Islam adalah bahwa ibadah bersifat tauqīfiyyah, yakni tidak boleh ditetapkan kecuali berdasarkan dalil yang sahih dari Al-Qur’an dan Sunnah. Setiap penambahan atau pengkhususan ibadah tanpa dalil termasuk dalam kategori bid‘ah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا ظَهَرَتِ الْبِدْعَةُ مَاتَتِ السُّنَّةُ»
“Apabila suatu bid‘ah muncul, maka akan mati satu sunnah yang semisal dengannya.”
(Makna hadits ini diriwayatkan dalam berbagai atsar dengan penguatan makna)

Dalam konteks inilah perlu dikaji secara ilmiah pernyataan yang menyarankan meninggalkan basmalah dan menggantinya dengan pembacaan surat al-Fātiḥah sebagai pembuka acara.

Kedudukan dan Keutamaan Surat Al-Fātiḥah

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai keagungan surat al-Fātiḥah. Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ»
“Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.”
(HR. al-Bukhārī)

Keutamaan ini bersifat normatif-teologis, bukan berarti surat al-Fātiḥah boleh dikhususkan pada setiap kondisi ibadah atau mu‘amalah tanpa dalil.

Prinsip Ushul: Keutamaan Tidak Otomatis Menjadi Pensyariatan

Dalam ushul fiqh berlaku kaidah:

الفضيلة لا تستلزم المشروعية في كل موضع
Keutamaan suatu amalan tidak otomatis menjadikannya disyariatkan di setiap kondisi.

Bukti sharih atas kaidah ini terlihat dalam hadits-hadits shahih berikut:

1. Ayat Kursi setelah Shalat

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ…»
(HR. an-Nasā’ī, ath-Thabrānī; dishahihkan al-Albānī)

Padahal Ayat Kursi bukan surat paling agung.

2. Al-Mu‘awwidzāt setelah Shalat

«أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ»
(HR. Abū Dāwūd, at-Tirmidzī – shahih)

Jika al-Fātiḥah boleh ditetapkan berdasarkan logika keutamaan semata, tentu Nabi ﷺ akan lebih dahulu menetapkannya. Namun faktanya tidak demikian.

Dalil Disyariatkannya Basmalah sebagai Pembuka Amal

1. Hadits Umum

«كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ»
(Dihasankan oleh Ibnu Bāz rahimahullah)

2. Praktik Sunnah Nabi ﷺ

Basmalah atau tasmiyah dibaca saat:

  • makan dan minum
  • wudhu
  • masuk dan keluar rumah
  • masuk dan keluar masjid
  • menyembelih
  • menulis surat
  • hubungan suami istri
  • dan aktivitas penting lainnya

3. Dalil Al-Qur’an

Surat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam:

﴿إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾
(QS. an-Naml: 30)

Ijma‘ Ulama tentang Tasmiyah

Dalam al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah disebutkan:

«اتفق أكثر الفقهاء على أن التسمية مشروعة لكل أمر ذي بال»
(al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah, 8/92)

Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān menegaskan bahwa basmalah mengandung:

  • tabarruk
  • isti‘ānah
  • tauhid

Tidak Ada Contoh Membuka Pertemuan dengan Al-Fātiḥah

Tidak satu pun hadits shahih yang meriwayatkan:

  • Nabi ﷺ
  • para sahabat
  • atau tabi‘in

mengawali rapat, musyawarah, pertemuan umum dengan membaca surat al-Fātiḥah.

Padahal pertemuan Nabi ﷺ dengan para sahabat berlangsung ratusan kali.

Pernyataan Tegas Ulama Ahlus Sunnah

Ibnu Katsir rahimahullah

“Jika itu kebaikan, niscaya para sahabat telah mendahului kita.”
(Tafsir Ibnu Katsir 7/278)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Menyatakan bahwa membaca al-Fātiḥah di acara-acara khusus adalah bid‘ah mungkar jika diniatkan ibadah tanpa dalil.

Syaikh Ṣāliḥ al-Fauzān

Menegaskan bahwa membaca al-Fātiḥah pada momen-momen tertentu tanpa dalil adalah termasuk bid‘ah kontemporer.

Kesimpulan

  1. Keagungan surat al-Fātiḥah tidak otomatis menjadikannya sunnah di setiap keadaan.
  2. Basmalah memiliki dasar syar‘i yang luas, kuat, dan konsisten dalam sunnah.
  3. Mengganti basmalah dengan al-Fātiḥah sebagai pembuka acara tidak memiliki dalil sahih.
  4. Praktik tersebut termasuk bid‘ah idhāfiyyah yang berpotensi mematikan sunnah.
  5. Standar ibadah bukan akal, rasa, atau kebiasaan, melainkan dalil.

Sunnah tidak ditetapkan oleh logika, apalagi oleh tradisi, tetapi oleh wahyu.


Komentar