EKSPLOITASI KERJA DALAM PERSPEKTIF MARX, ISLAM, DAN TASAWUF
Pendahuluan: Pengalaman bekerja keras tanpa pernah mencapai kehidupan yang layak bukan sekadar persoalan individu. Ia merupakan gejala struktural. Karl Marx menyebutnya sebagai surplus value nilai lebih yang dihasilkan pekerja namun diambil oleh pemilik modal. Dalam khazanah Islam, praktik semacam ini telah lama dikenali sebagai zulm (kezaliman) dan akl amwāl al-nās bil-bāṭil (memakan harta manusia secara batil).
Tulisan ini menyatukan kritik Marx dengan sumber-sumber Al-Qur’an, Hadis, dan pandangan ulama serta sufi, untuk menunjukkan bahwa eksploitasi kerja bukan hanya masalah ekonomi-politik, tetapi juga masalah moral dan spiritual.
Surplus Value dalam Pandangan Karl Marx:
Marx menjelaskan bahwa dalam kapitalisme, tenaga kerja diperlakukan sebagai komoditas. Pekerja dibayar sekadar untuk bertahan hidup, sementara nilai lebih dari kerjanya diserap oleh kapitalis.
“The worker produces not only commodities; he produces capital… and the worker himself as a commodity.”
(Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844)
Eksploitasi tidak tampak sebagai pencurian karena dilegalkan oleh kontrak kerja. Namun secara substantif, pekerja kehilangan hak atas nilai yang ia ciptakan.
Al-Qur’an: Larangan Mengurangi Hak Pekerja
1. Larangan Mengurangi Hak
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
“Dan janganlah kamu mengurangi hak-hak manusia.”
(QS. Hūd: 85)
Ayat ini mencakup seluruh bentuk pengurangan hak, termasuk upah yang tidak sebanding dengan nilai kerja.
2. Kritik terhadap Konsentrasi Kekayaan
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ
“…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini menegaskan prinsip distribusi keadilan dan menolak akumulasi kapital pada segelintir elite.
Hadis Nabi ﷺ tentang Upah dan Kezaliman
1. Kewajiban Membayar Upah dengan Layak
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”
(HR. Ibn Mājah)
Hadis ini menegaskan kemanusiaan pekerja dan menolak relasi kerja yang eksploitatif.
2. Ancaman Langsung dari Allah
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ … وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ
“Allah berfirman: Ada tiga golongan yang Aku menjadi musuh mereka pada hari kiamat… salah satunya orang yang mempekerjakan pekerja, mengambil seluruh tenaganya, namun tidak memberinya upah.”
(HR. al-Bukhārī)
Jika Marx menyebut surplus value sebagai pencurian legal, hadis ini menyebutnya sebagai kezaliman yang akan diadili langsung oleh Tuhan.
Ulama Klasik dan Kritik Sosial-Ekonomi
1. Imam Al-Ghazali
“الظلم ليس بأخذ المال فقط، بل بالانتفاع بعمل الإنسان دون حقه.”
“Kezaliman bukan hanya merampas harta, tetapi mengambil manfaat dari kerja seseorang tanpa hak yang seimbang.”
(Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn)
2. Ibn Khaldun
“الظلم مؤذن بخراب العمران.”
“Kezaliman adalah tanda kehancuran peradaban.”
(Al-Muqaddimah)
Ibn Khaldun menegaskan bahwa eksploitasi ekonomi bukan hanya dosa moral, tetapi penyebab runtuhnya sistem sosial.
Tasawuf: Dimensi Spiritual Kritik Eksploitasi
1. Hasan al-Bashri
“ما جمع أحد مالاً إلا من شحٍ أو حقٍ ضيّعه.”
“Tidaklah seseorang menumpuk harta kecuali karena keserakahan atau karena hak orang lain yang disia-siakan.”
2. Jalaluddin Rumi
“Ketika harta menumpuk pada satu tangan, jiwa-jiwa lain dibiarkan kelaparan.”
3. Ibn ‘Arabi
“أنت لست مالكاً، إنما أنت مؤتمن.”
“Engkau bukan pemilik sejati, melainkan penjaga amanah.”
Tasawuf melihat eksploitasi sebagai penyakit hati: cinta dunia yang menyingkirkan empati.
Sintesis: Marx dan Islam Bertemu
Jika Marx membongkar eksploitasi melalui analisis ekonomi-politik, Islam membongkarnya melalui nurani, akhlak, dan pertanggungjawaban akhirat. Marx berkata: ini sistem yang menindas. Islam berkata: ini kezaliman yang akan dihisab.
Keduanya bertemu pada satu titik fundamental: kerja manusia bukan komoditas, dan kekayaan yang tumbuh dari penderitaan orang lain tidak pernah sah baik secara moral, spiritual, maupun historis.
Penutup
Kesadaran adalah langkah pertama pembebasan. Kesadaran kelas dalam Marx bertemu dengan kesadaran moral dalam Islam. Dari sinilah diskusi, perlawanan etis, dan transformasi sosial menemukan pijakannya.
“Para filsuf hanya menafsirkan dunia; yang terpenting adalah mengubahnya.”
(Karl Marx)
Dalam bahasa iman: mengubah dunia adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.

Komentar
Posting Komentar