Gagasan Plato dalam Republic
Dalam Republic, Plato tidak menuliskan satu kalimat normatif yang berbunyi persis “jika orang baik tidak berpolitik maka orang bodoh akan berkuasa.” Namun pernyataan itu adalah kesimpulan konseptual dari seluruh bangunan argumen Plato tentang negara, keadilan, dan kepemimpinan.
Plato berangkat dari asumsi bahwa negara adalah cerminan jiwa manusia (polis mirrors psyche). Negara akan adil jika dipimpin oleh rasio, dan akan rusak jika dikendalikan oleh nafsu atau ambisi. Dalam kerangka ini, pemimpin ideal bukanlah mereka yang paling berambisi berkuasa, melainkan mereka yang paling tidak tertarik pada kekuasaan, karena jiwanya telah terdidik oleh pengetahuan dan kebajikan.
Namun Plato juga menyadari paradoks besar: orang-orang terbaik justru enggan memerintah. Dalam Book VI, ia menjelaskan bahwa para filsuf memahami politik sebagai medan yang korup, penuh tipu daya, dan berisiko merusak jiwa. Karena itu, mereka lebih memilih menjauh. Akan tetapi, menjauh ini memiliki konsekuensi politik yang fatal. Kekuasaan tidak akan kosong; ia akan diisi oleh mereka yang tidak dibimbing oleh pengetahuan, melainkan oleh ambisi dan kepentingan diri.
Di titik inilah muncul kesimpulan normatif Plato: hukuman bagi orang baik yang menolak keterlibatan politik bukanlah sanksi hukum, melainkan kondisi sosial hidup di bawah pemerintahan yang lebih buruk. Dengan kata lain, apatisme bukanlah sikap netral, melainkan keputusan moral yang berdampak struktural.
Plato lalu menunjukkan akibat lanjutan dari kondisi ini dalam Book VIII–IX. Negara yang kehilangan kepemimpinan rasional akan mengalami degenerasi bertahap: dari pemerintahan oleh yang terbaik menuju kekuasaan oleh yang paling kuat secara ekonomi, lalu oleh suara massa yang mudah dimanipulasi, hingga akhirnya jatuh pada tirani. Semua itu bukan karena rakyat jahat, melainkan karena orang-orang berakal memilih mundur dari ruang kekuasaan.
Dengan demikian, kutipan populer tentang “hidup di bawah kekuasaan orang bodoh” dapat dipahami sebagai parafrasa sah dari kesimpulan filsafat politik Plato. Ia bukan kutipan tekstual, tetapi ringkasan ide yang setia pada maksud aslinya: bahwa keterlibatan orang berpengetahuan dan bermoral dalam urusan publik bukan pilihan opsional, melainkan syarat bagi keberlangsungan kehidupan bersama yang adil.

Komentar
Posting Komentar