Ketika Dakwah Kehilangan Arah
Membaca Pola, Bukan Mencari Tersangka
Dalam tradisi keilmuan, kebenaran tidak selalu hadir melalui pengakuan eksplisit. Ia justru lebih sering muncul melalui konsistensi pola. Ilmu sosial tidak bekerja dengan menunjuk siapa pelaku, melainkan dengan mengamati bagaimana sesuatu beroperasi.
Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi individu atau kelompok tertentu. Ia sekadar merekam sebuah gejala sosial-keagamaan: mengapa sebuah gerakan yang mengklaim diri sebagai dakwah justru lebih sibuk menciptakan kegaduhan intra-umat daripada menghadirkan perbaikan nyata.
Pertanyaan dasarnya sederhana, namun menentukan:
apakah ini masih layak disebut dakwah?
Dakwah dan Ukurannya dalam Tradisi Islam
Dalam sejarah Islam, dakwah tidak pernah dipahami semata sebagai aktivitas “mengoreksi”. Dakwah selalu berdiri di atas tiga pilar utama: ilmu, hikmah, dan maslahat.
Rasulullah ﷺ berdakwah bukan dengan memperbanyak musuh, melainkan dengan memperluas makna persaudaraan. Bahkan ketika koreksi dilakukan, ia hadir sebagai tahdzīb (pendidikan), bukan tahqīr (perendahan).
Karena itu, dalam uṣūl al-da‘wah, sebuah aktivitas tidak dinilai dari klaim niat, melainkan dari dampak sosialnya. Ketika suatu praktik:
- memecah jamaah,
- memproduksi saling curiga,
- dan menjadikan sesama Muslim sebagai sasaran utama,
maka secara metodologis ia patut diuji ulang:
apakah maslahatnya masih lebih besar daripada mafsadatnya?
Pola yang Terlalu Telanjang untuk Diabaikan
Jika diamati secara jernih, pola gerak yang muncul menunjukkan konsistensi yang sulit diabaikan:
- Tidak ada struktur formal, tetapi wacana seragam.
- Tidak ada organisasi, tetapi garis musuh sangat jelas.
- Tidak membangun lembaga sosial, tetapi aktif membongkar legitimasi lembaga atau organisasi Islam yang sudah ada.
- Tidak menggugat ketimpangan struktural, tetapi agresif terhadap praktik keagamaan masyarakat.
Keseragaman tanpa struktur ini bukan kebetulan. Dalam teori gerakan sosial, ia dikenal sebagai gerakan jaringan (networked movement): bekerja melalui replikasi gagasan, bukan komando terbuka. Model ini efektif untuk penyebaran cepat, namun miskin akuntabilitas.
Bukan Gerakan Ilmu, Melainkan Produksi Noise
Ilmu berkembang melalui perbedaan pendapat yang beradab. Namun yang tampak justru penyederhanaan ekstrem: seolah Islam hanya tinggal benar–salah versi satu sudut pandang.
Hadis ahad dijadikan ikon viral, khilafiyah diperlakukan sebagai penyimpangan, dan konteks dihapus demi slogan. Di titik ini, agama tidak lagi berfungsi sebagai petunjuk, melainkan sebagai alat produksi kegaduhan, saling tunjuk dan hanyalah mereka yang paling benar.
Dalam bahasa sosiologi politik, fenomena ini dikenal sebagai noise generation: menciptakan kebisingan agar energi sosial habis dalam konflik horizontal. Umat menjadi sibuk bertengkar, bukan membangun.
Relasi Aneh dengan Negara
Paradoks lain yang sulit diabaikan adalah relasi dengan negara. Di satu sisi, wacana taat kepada ulil amri dikumandangkan. Di sisi lain, produk-produk negara ditolak secara selektif. Hanya penentuan awal dan ahir bulan ramadan, pemilu, upacara bendera dan banyak lainnya adalah kafir.
Kritik keras tidak diarahkan pada struktur kekuasaan, melainkan pada sesama warga yang berbeda praktik ibadah. Pembiaran negara terhadap pola ini kerap disalahpahami sebagai dukungan. Padahal, dalam logika kekuasaan modern, pembiaran sering kali merupakan strategi stabilitas.
Selama sebuah kelompok tidak mengancam negara, bahkan justru memecah konsolidasi masyarakat, ia kerap dianggap “tidak berbahaya”.
Mengapa Secara Ilmiah Sulit Disebut Dakwah?
Dalam tradisi Islam klasik, dakwah memiliki ciri minimum:
- Tablīgh (penyampaian),
- Tarbiyah (pendidikan),
- Ta’līf al-qulūb (mendekatkan hati),
- Iṣlāḥ (perbaikan sosial).
Sementara pola yang diamati justru menunjukkan:
- orientasi tahdzīr (penyudutan),
- obsesi tabdī‘ (pelabelan),
- konflik horizontal intra-umat,
- minim kontribusi sosial-struktural.
Dalam uṣūl al-da‘wah, ketika mafsadat lebih dominan daripada maslahat, maka aktivitas tersebut keluar dari kategori dakwah, meskipun menggunakan bahasa agama.
Kekasaran Pola sebagai Indikator Fungsi
Pola ini “sangat vulgar”. Itu tepat. Dalam teori political communication, dakwah murni cenderung:
- persuasif,
- gradual,
- kontekstual.
Sebaliknya, gerakan instrumental ditandai oleh:
- gaya frontal,
- repetisi slogan,
- penyederhanaan ekstrem,
- dan produksi musuh permanen.
Kekasaran pola bukan kebetulan. Ia adalah jejak fungsi. Dakwah tidak membutuhkan musuh abadi. Gerakan instrumental justru hidup darinya.
Mengapa Sasaran Justru Sesama Muslim?
Secara sosiologis:
- Gerakan pembaruan menyerang struktur kemungkaran,
- Gerakan instrumentalis menyerang komunitas sejajar.
Mengapa? Karena konflik horizontal bersifat:
- murah,
- aman dari negara,
- dan efektif memecah solidaritas.
Dalam istilah dingin ilmu politik: low-risk, high-yield conflict.
Meredup Tanpa Ditiup
Menariknya, belakangan daya gaung pola ini meredup dengan sendirinya. Bukan karena dibungkam, melainkan karena kehilangan relevansi sosial.
Umat semakin imun, literasi keagamaan meningkat, konflik lama tidak lagi laku dijual barang dagangan cuman "bid'ah", dan generasi baru tidak tertarik pada dakwah yang hanya berisi larangan tanpa solusi.
Dalam sejarah, gerakan yang hidup dari konflik jarang runtuh oleh serangan luar. Ia biasanya mati oleh kejenuhan sosial ketika masyarakat berhenti bereaksi.
Penutup: Membaca Fungsi, Bukan Slogan
Apa yang dilakukan di sini bukan menuduh, melainkan:
- membaca irama,
- mencocokkan langkah,
- dan menyimpulkan fungsi.
Dalam ilmu sosial, fungsi selalu lebih jujur daripada slogan.
Epilog:
Dakwah yang Lupa Tujuan
Sejarah tidak pernah mengingat siapa yang paling lantang,
tetapi siapa yang paling berdampak.
Dakwah yang kehilangan arah tidak runtuh karena diserang,
melainkan karena kehilangan alasan untuk didengar.
Ketika agama lebih sibuk menunjuk kesalahan daripada merawat luka sosial,
saat itulah ia berhenti menjadi petunjuk dan berubah menjadi kebisingan.
Tidak semua yang mengutip dalil sedang berdakwah.
Sebagian hanya sedang mengelola konflik.
Dan konflik, betapapun dibungkus ayat dan hadis, tetaplah konflik ia tidak menyelamatkan iman, hanya menguras energi umat.
Pada akhirnya,
kebenaran tidak perlu dijaga dengan teriakan.
Ia tumbuh dalam keteladanan,
bekerja dalam sunyi, dan bertahan karena memberi makna, bukan ketakutan.
Dakwah yang benar tidak menciptakan musuh abadi,
karena misinya bukan menang dalam perdebatan, melainkan menghidupkan nurani.
Ketika sebuah gerakan hanya dikenang karena kegaduhannya,
bukan manfaatnya, sejarah akan mencatatnya dengan satu kalimat singkat namun kejam:
"ia pernah ada, tetapi tidak pernah diperlukan".

Komentar
Posting Komentar