Agama atau Kepasrahan yang Dipelihara

 


Agama atau Kepasrahan yang Dipelihara?

Jika agama benar-benar membuat manusia miskin, maka yang pertama runtuh seharusnya adalah nurani para penindas. 

Faktanya, yang paling rajin berbicara tentang takdir justru  mereka yang hidup dari ketimpangan.

Kolonialisme tidak hanya merampas tanah dan tenaga, tetapi juga menanamkan satu keyakinan paling berbahaya: bahwa penderitaan adalah nasib yang harus diterima. 

Ketika keyakinan ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan bahasa agama, moral, dan stabilitas maka penjajahan sejatinya belum pernah benar-benar berakhir.

Tidaklah agama dijadikan musuh. Ia memusuhi kebodohan  yang dipelihara, kepasrahan yang diproduksi, dan kesadaran yang dibunuh atas nama Tuhan. Iman tanpa akal hanyalah alat kekuasaan, dan agama yang dipisahkan dari keadilan sosial tak lebih dari doa yang lupa pada manusia.

Maka pertanyaannya bukan: apakah agama candu?
Melainkan: siapa yang diuntungkan ketika rakyat diajari untuk pasrah?


Komentar