BELAJAR PADA NU:
SAATNYA ULAMA MUHAMMADIYAH MEMBANGUN KEKUATAN KULTURAL
Pendahuluan
Dalam dinamika perkembangan umat Islam di Indonesia, setiap organisasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Sikap yang bijak adalah mampu mengambil hal-hal baik dari pihak lain, sekaligus melakukan evaluasi kritis terhadap diri sendiri.
Dalam konteks ini, penting untuk melihat bagaimana Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama membangun kekuatan masing-masing baik secara struktural maupun kultural.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan secara konfrontatif, melainkan sebagai refleksi konstruktif agar kekuatan yang sudah ada dapat disempurnakan.
I. Problematika Struktural Muhammadiyah
Para ulama di Muhammadiyah umumnya berstatus sebagai:
- pegawai atau karyawan
- bagian dari struktur organisasi
Konsekuensinya:
- tidak memiliki pesantren sendiri
- tidak memiliki halaqah tetap
- tidak memiliki santri binaan
- legitimasi keulamaan sering berbasis SK dan jabatan struktural
Ketika masa jabatan selesai:
- pengaruh ikut meredup
- kembali menjadi warga biasa tanpa basis jamaah
Hal ini menunjukkan bahwa:
"otoritas keilmuan belum sepenuhnya berdiri di atas sanad dan komunitas, tetapi masih bergantung pada struktur".
II. Kekuatan Kultural NU sebagai Pembanding
Sebaliknya, di Nahdatul 'Ulama :
- setiap kyai memiliki pesantren
- memiliki halaqah dan santri
- mengkaji kitab secara berkelanjutan
- memiliki basis jamaah yang hidup
Implikasinya:
- ketokohan tidak bergantung jabatan
- pengaruh tetap kuat sebelum, saat, dan setelah posisi struktural
NU berhasil mengkonsolidasi:
kekuatan kultural sebagai fondasi kekuatan organisasi
Dengan:
- ideologi Aswaja sebagai pemersatu
- jaringan pesantren yang luas
- kemandirian kurikulum dan visi pendidikan
III. Realitas Lapangan: Studi Kasus Pondok & Sekolah
1. Dinamika Pembangunan dan Kepercayaan
Pembangunan pondok dan lembaga pendidikan seperti:
- Pondok Pesantren Al-Mumtazah
- Mahadia Tower (MIM)
- SMP Muhammadiyah
- Madrasah Diniyah (MadinMu)
berjalan cepat secara fisik.
Namun:
kecepatan pembangunan tidak otomatis diikuti kecepatan kepercayaan publik.
Hal ini terlihat dari:
- lambannya rekrutmen santri
- minimnya dukungan riil warga
Padahal:
- Mahadia sudah meluluskan beberapa angkatan
- banyak diterima di sekolah favorit tingkat kabupaten
- SMP menurun mulai beberapa dekade
- Madrasah Diniyah, sangat disayangkan tidak membuka klas umum.
Artinya:
modal reputasi sudah ada, tetapi belum terintegrasi.
2. Tantangan Ekosistem Kompetitif
Dalam radius yang sama terdapat:- Pondok Pesantren Zamzam Muhammadiyah Cilongok
- Pondok Pesantren ZIIS Cilongok
- Pondok Pesantren Al-Azhari Lesmana
- SMP dan Mts. Ma'arif di sekitar Ajibarang
Dengan karakter:
- Zamzam, kuat secara institusi dan reputasi nasional
- ZIIS, kuat secara figur dan kemandirian
- Al-Azhari berbasis Kultural Tokoh/kyai NU.
- SMP dan Mts, basis akar rumput yang kuat
Sehingga:
lembaga baru akan selalu dibandingkan dengan yang sudah mapan
3. Keterbatasan Basis Internal
Fakta penting:
- jumlah MI Muhammadiyah
- tidak semua lulusan MI melanjutkan ke SMP Muhammadiyah
- banyak siswa SMK Muhammadiyah justru berasal dari luar warga Muhammadiyah
Ini menunjukkan:
ketergantungan pada basis internal tidak cukup menopang jenjang menengah dan pondok
4. Perbandingan dengan Ma’arif NU
Sekolah Ma’arif NU:
- MI tersebar sampai desa
- SMP/MTs terkonsentrasi di kota
Yang terjadi:
aliran siswa terbentuk secara alami dari bawah
Berbeda dengan Muhammadiyah:
- setiap jenjang harus “dipilih ulang”
- tidak ada aliran otomatis
IV. Masalah Inti yang Teridentifikasi
Dari seluruh uraian, dapat dirumuskan:
- Basis hulu (MI/SD) terbatas
- Aliran siswa tidak terintegrasi
- Daya tarik eksternal belum kuat
- Figur ulama berbasis komunitas masih minim
- Orientasi masih terlalu struktural
V. Arah Solusi Strategis
1. Integrasi Sistem Pendidikan
MI – SMP – Pondok harus menjadi:
jalur kaderisasi berkelanjutan
Dengan:
- kurikulum berjenjang
- aliran siswa terarah
- narasi pendidikan terpadu
2. Penguatan Daya Tarik Eksternal
Tidak cukup mengandalkan warga sendiri.
Harus:
- membuka pasar umum
- menampilkan keunggulan nyata
- menonjolkan output lulusan
Sebagaimana keberhasilan SMK Muhammadiyah:
hidup dari kepercayaan publik, bukan hanya basis internal
3. Diferensiasi Lembaga
Tidak bisa menjadi “versi kedua” dari yang sudah ada.
Harus jelas:
- identitas
- keunggulan
- arah lulusan
4. Revitalisasi Peran Ulama
Perlu didorong:
- ulama memiliki halaqah
- membina jamaah
- membangun otoritas berbasis ilmu
Bukan hanya berbasis jabatan.
5. Penguatan Kultur “Sengkuyung”
Ungkapan Jawa:
“sengkuyung pada gawe njenang, kanggo anggawe jeneng”
Maknanya:
- kerja bersama menghasilkan kualitas
- kualitas melahirkan reputasi
Dalam konteks pendidikan:
- “jenang” = proses pembinaan dan kualitas
- “jeneng” = kepercayaan publik
VI. Landasan Konseptual
Secara teoritis, analisis ini sejalan dengan:
-
Teori Modal Sosial (Social Capital – Robert Putnam)
kekuatan komunitas menentukan keberlanjutan institusi -
Teori Reproduksi Kultural (Pierre Bourdieu)
lembaga kuat jika mampu mewariskan nilai dan habitus (pola pembentukan lingkungan). -
Konsep Pendidikan Islam Klasik
sanad, halaqah, dan keberlanjutan ilmu menjadi inti otoritas
Penutup
Kondisi yang ada bukan kegagalan, melainkan:
fase transisi dari kekuatan struktural menuju kebutuhan akan kekuatan kultural
Jika Muhammadiyah mampu:
- mempertahankan kekuatan institusinya
- sekaligus membangun ekosistem ulama dan pesantren yang hidup
maka akan lahir bentuk kekuatan baru:
struktur yang kokoh, ditopang kultur yang hidup
Dan pada akhirnya:
yang menentukan bukan banyaknya lembaga, tetapi kualitas yang diolah bersama karena dari situlah lahir nama, kepercayaan, dan keberlanjutan.

Komentar
Posting Komentar