CERDAS tak CERMAT : Catatan Feodalisme Pendidikan

 


Ketika Juara Sudah Ditentukan

Catatan Tentang Feodalisme Tersembunyi dalam Dunia Perlombaan Pendidikan

Ada pengalaman hidup yang tampaknya kecil, tetapi sesungguhnya membuka tabir besar tentang bagaimana sebuah sistem bekerja. Salah satunya adalah dunia perlombaan pendidikan: cerdas cermat, pidato, menyanyi, tari, musik, hingga festival kreativitas pelajar.

Di atas panggung, semuanya tampak indah. Ada tepuk tangan, seragam rapi, dewan juri terhormat, dan slogan sportivitas. Namun di balik layar, tidak jarang tersimpan kenyataan yang berbeda.

Banyak orang lapangan memahami bahwa dalam beberapa perlombaan, pemenang sering kali telah “dibaca” sejak awal. Tinggal bagaimana skenario dibangun agar tampak alamiah.

Bentuknya halus. Tidak vulgar. Tidak pernah tertulis. Tetapi terasa.

Dalam lomba-lomba yang berbasis penilaian subjektif, selalu tersedia ruang abu-abu yang bisa dipakai untuk memainkan nilai:

  • artikulasi,
  • intonasi,
  • ekspresi,
  • penghayatan,
  • fals,
  • kurang not,
  • kurang komunikatif,
  • kurang tegas,
  • dan berbagai istilah lain yang tampak ilmiah.

Semua istilah itu sebenarnya sah dalam dunia penilaian. Persoalannya muncul ketika istilah dipakai bukan untuk menjaga kualitas, tetapi menjadi alat legitimasi untuk menaikkan atau menurunkan nilai sesuai arah yang diinginkan.

Ketika peserta yang bagus harus dikalahkan, alasan akan dicari. Dan alasan paling aman adalah sesuatu yang abstrak, yang sulit dibuktikan.

“Artikulasinya kurang jelas.”

Kalimat ini terdengar akademis, tetapi sering kali justru menjadi benteng subjektivitas.

Padahal Indonesia adalah negeri dengan keragaman dialek dan fonetik yang luar biasa. Cara orang Jawa mengucapkan huruf berbeda dengan orang Sumatera, Bugis, Madura, Sunda, Betawi, atau Papua. Bahkan dalam beberapa daerah, huruf tertentu secara alami berubah tekanan bunyinya.

Tetapi semua keragaman itu kadang disederhanakan oleh satu standar pusat yang merasa dirinya paling benar.

Yang lebih ironis, anak-anak peserta lomba sering kali belum memahami bahwa mereka sedang masuk ke arena yang tidak sepenuhnya netral. Mereka datang membawa semangat belajar, kejujuran, dan idealisme. Namun kadang berhadapan dengan sistem yang telah memiliki “hierarki tak tertulis”.

Pengalaman sebagai guru pendamping memperlihatkan kenyataan itu secara lebih nyata.

Dalam sebuah lomba tingkat nasional di TVRI, sebelum acara berlangsung, seorang pimpinan pusat pernah berkata kepada guru pendamping:

“Jangan harap sekolah swasta akan juara satu. Juara dua atau tiga tidak apa-apa. Yang penting sudah menunjukkan kemampuan sampai tingkat nasional.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat telanjang.

Artinya, sebelum perlombaan dimulai, batas kemenangan sudah digariskan. Kompetisi bukan sepenuhnya arena mencari yang terbaik, tetapi arena menjaga struktur tertentu:

  • negeri di atas swasta,
  • pusat di atas daerah,
  • yang memiliki akses di atas yang hanya memiliki kemampuan.

Di titik inilah pendidikan mulai bersentuhan dengan feodalisme modern.

Feodalisme hari ini tidak lagi berbentuk singgasana dan mahkota. Ia hadir dalam bentuk otoritas panel juri, institusi, birokrasi, dan legitimasi formal. Semua tampak prosedural, tetapi arah akhirnya kadang telah ditentukan.

Dulu praktik seperti ini sulit dipersoalkan karena masyarakat tidak memiliki alat pembanding. Rekaman video mahal. Dokumentasi terbatas. Keputusan juri menjadi “suara Tuhan” yang tak bisa diuji ulang.

Hari ini keadaan berubah. Teknologi memungkinkan publik memutar ulang suara, membaca ekspresi juri, membandingkan jawaban peserta, bahkan menganalisis inkonsistensi keputusan.

Karena itu masyarakat mulai menyadari satu hal penting:

kadang masalahnya bukan pada kualitas peserta, tetapi pada mekanisme penentuan kualitas itu sendiri.

Yang paling berbahaya sebenarnya bukan kekalahan peserta.

Anak-anak bisa menerima kalah bila prosesnya adil.

Yang merusak mental adalah ketika mereka melihat:

  • jawaban sama dinilai berbeda,
  • alasan berubah-ubah,
  • otoritas saling menyambung pembenaran,
  • dan keputusan dipertahankan meski logikanya lemah.

Di situlah pendidikan diam-diam mengajarkan pelajaran yang jauh lebih dalam daripada isi buku pelajaran:

bahwa dalam sistem tertentu, kebenaran dapat dikalahkan oleh kewenangan.

Inilah yang membuat banyak generasi muda tumbuh sinis. Mereka belajar bahwa kerja keras belum tentu cukup. Bahwa kemampuan kadang kalah oleh jaringan, citra institusi, atau arah kepentingan.

Padahal perlombaan pendidikan seharusnya menjadi ruang paling steril dari manipulasi semacam itu. Sebab di sanalah anak-anak belajar tentang kejujuran, keberanian, sportivitas, dan penghargaan terhadap kemampuan.

Ketika ruang pendidikan mulai terkontaminasi feodalisme, maka yang rusak bukan sekadar hasil lomba, tetapi cara generasi muda memandang keadilan.

Dan mungkin inilah tragedi terbesarnya:

bukan ketika anak gagal menjadi juara, tetapi ketika anak mulai percaya bahwa keadilan hanyalah dekorasi panggung.


Komentar