DAWAH MUBALIGH MUHAMMADIYAH

 



Dakwah Muhammadiyah: Antara Kekuatan Tarjih dan Seni Komunikasi Dakwah

Telaah Sosial-Pedagogis terhadap Retorika Mubaligh dan Psikologi Jamaah

Abstrak

Tulisan ini membahas hubungan antara kekuatan metodologis  Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan efektivitas komunikasi dakwah di lingkungan . Secara metodologis, Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah memiliki kekuatan ilmiah karena lahir dari proses ijtihad kolektif, pengujian dalil, dan musyawarah para ahli. Namun dalam realitas sosial, kekuatan metodologi tidak selalu berbanding lurus dengan daya pengaruh dakwah di tengah jamaah. Sebagian kelompok dakwah tekstual mampu menarik jamaah melalui penyederhanaan narasi, simbol identitas, dan retorika komunikatif berbasis slogan “kembali kepada salafus shalih”. Tulisan ini menggunakan pendekatan sosial-pedagogis untuk menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan isi, tetapi juga oleh kemampuan mubaligh dalam memahami psikologi jamaah, teknik komunikasi, dan seni retorika dakwah. Kajian ini menegaskan bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan bukan pada lemahnya manhaj tarjih, tetapi pada bagaimana tarjih diterjemahkan secara komunikatif, emosional, dan pedagogis tanpa kehilangan kedalaman ilmiahnya.

Kata Kunci: Muhammadiyah, Tarjih, Dakwah, Retorika, Psikologi Jamaah, Pedagogi Islam.

Pendahuluan

Dalam perkembangan dakwah Islam kontemporer di Indonesia, muncul fenomena menarik terkait hubungan antara otoritas keilmuan dan efektivitas komunikasi dakwah. Secara metodologis, Muhammadiyah memiliki salah satu perangkat ijtihad modern paling sistematis melalui Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Produk tarjih tersebut lahir dari:

  • pengkajian dalil,
  • perdebatan ilmiah,
  • kritik metodologis,
  • dan musyawarah kolektif para ahli.

Namun dalam praktik sosial, sebagian jamaah justru lebih mudah tertarik pada dakwah tekstual yang sederhana, tegas, dan komunikatif, meskipun sering hanya bersandar pada rujukan fikih terbatas yang diasosiasikan dengan “manhaj salaf”.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting:

Mengapa produk tarjih yang matang secara metodologis kadang kalah kuat pengaruh sosialnya dibanding dakwah tekstual yang lebih sederhana?

Tulisan ini berupaya menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan sosial-pedagogis dengan menelaah:

  1. kekuatan metodologi tarjih Muhammadiyah,
  2. psikologi jamaah,
  3. retorika mubaligh,
  4. dan seni komunikasi dakwah.

Landasan Normatif Dakwah dan Tarjih

Muhammadiyah sejak awal menegaskan orientasi dakwah pada:

  • Al-Qur’an,
  • Sunnah,
  • tajdid,
  • dan ijtihad.

Keputusan tarjih bukan lahir dari otoritas personal seorang ustadz, melainkan dari mekanisme kolektif yang melibatkan banyak ahli.

Allah SWT berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”

(QS. Asy-Syura: 38)

Prinsip syura ini menjadi dasar penting bagi konsep ijtihad jama‘i dalam Muhammadiyah.

Dalam konteks dakwah, Al-Qur’an juga menegaskan:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”

(QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya persoalan isi, tetapi juga:

  • hikmah,
  • metode,
  • dan pendekatan komunikasi.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, dakwah Islam sejak awal mengandung dimensi:

  • normatif,
  • psikologis,
  • dan pedagogis sekaligus.

Tarjih Muhammadiyah sebagai Produk Ijtihad Kolektif

Himpunan Putusan Tarjih merupakan produk intelektual penting dalam tubuh Muhammadiyah. Keunggulannya terletak pada:

  • pengujian dalil secara kolektif,
  • keterbukaan terhadap kritik,
  • penggunaan metodologi ushul fikih,
  • dan pertimbangan kemaslahatan.

Muhammadiyah tidak membangun otoritas agama di atas figur tertentu, melainkan pada:

mekanisme tarjih yang terinstitusionalisasi.

Karena itu Muhammadiyah relatif tidak mudah goyah oleh kontroversi personal tokoh dakwah.

Namun secara sosial, pendekatan tarjih memiliki tantangan tersendiri:

  • lebih kompleks,
  • kurang sederhana,
  • dan membutuhkan tingkat literasi tertentu.

Sebaliknya, sebagian dakwah tekstual menawarkan:

  • jawaban cepat,
  • identitas tegas,
  • dan slogan sederhana seperti “mengikuti salafus shalih”.

Secara psikologis, slogan tersebut sangat kuat karena memberi kesan:

  • paling dekat dengan Nabi,
  • paling murni,
  • dan paling aman.

Padahal secara ilmiah, istilah salafus shalih sendiri bersifat historis dan tidak tunggal dalam penafsiran fikih.

Psikologi Jamaah dan Penyederhanaan Agama

Mayoritas jamaah bukan peneliti hukum Islam. Mereka datang ke pengajian untuk:

  • memperoleh ketenangan,
  • mendapatkan tuntunan praktis,
  • dan memperbaiki kehidupan sehari-hari.

Karena itu jamaah cenderung lebih mudah menerima dakwah yang:

  • sederhana,
  • komunikatif,
  • dan emosional.

Terlalu banyak membuka:

  • silang dalil,
  • khilafiyah,
  • atau metodologi kompleks,

justru dapat membuat jamaah:

  • bingung,
  • lelah,
  • dan kehilangan pegangan.

Dalam konteks ini, fungsi tarjih sebenarnya adalah:

menyaring kerumitan menjadi tuntunan yang matang.

Namun proses penyaringan tersebut sering kurang diterjemahkan ke dalam bahasa komunikasi publik yang efektif.

Retorika Mubaligh dan Seni Komunikasi Dakwah

Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan isi, tetapi juga kemampuan mubaligh dalam:

  • membaca audiens,
  • mengelola emosi jamaah,
  • membangun ritme,
  • dan menciptakan keterlibatan psikologis.

Pengalaman dakwah Muhammadiyah era 1980–1990-an menunjukkan adanya sejumlah mubaligh yang mampu memikat jamaah melalui:

  • intonasi,
  • ritme bicara,
  • interaksi komunikatif,
  • dan kedekatan emosional.

Beberapa mubaligh bahkan memiliki gaya komunikasi yang dipengaruhi pengalaman interaksi dengan lingkungan Kristen, khususnya model khotbah pastoral yang:

  • ritmis,
  • persuasif,
  • dan komunikatif.

Di sisi lain, banyak alumni pondokbanyak dikenal memiliki kemampuan public speaking yang baik karena sistem pendidikan mereka menekankan:

  • muhadharah,
  • pidato,
  • kepemimpinan,
  • dan keberanian tampil.

Hal ini menunjukkan bahwa:

komunikasi dakwah merupakan keterampilan yang harus dilatih, bukan kemampuan otomatis.

Problem Pedagogi Dakwah Muhammadiyah

Dalam banyak forum kajian Muhammadiyah hari ini, perhatian besar diberikan pada:

  • materi,
  • metodologi,
  • dan transfer pengetahuan.

Namun aspek:

  • retorika,
  • teknik komunikasi,
  • psikologi jamaah,
  • dan pedagogi dakwah,

sering belum menjadi perhatian utama.

Akibatnya sebagian mubaligh tampil sebagai:

pengajar materi, tetapi belum tentu sebagai: komunikator dakwah.

Padahal materi agama pada era digital dapat dipelajari sendiri melalui:

  • buku,
  • video,
  • internet,
  • dan kecerdasan buatan.

Yang semakin penting justru:

  • kemampuan menyampaikan,
  • membaca audiens,
  • dan membangun pengalaman belajar yang hidup.

Dalam konteks pedagogi modern, penguasaan materi tidak identik dengan kemampuan mengajar.

Sebagaimana seseorang tidak otomatis mampu mengemudi hanya karena memahami teori mesin mobil, mubaligh tidak otomatis efektif hanya karena menguasai banyak dalil.

Tantangan Dakwah Muhammadiyah Kontemporer

Sebagian anak muda yang tertarik pada manhaj tekstual sebenarnya bukan karena menolak Muhammadiyah, tetapi karena:

  • tidak tersentuh kaderisasi secara utuh,
  • mencari identitas agama yang tegas,
  • dan memperoleh jawaban instan melalui media digital.

Sementara Muhammadiyah membangun manusia melalui proses panjang:

  • pendidikan,
  • organisasi,
  • pengkaderan,
  • dan pembiasaan sosial.

Karena itu tantangan Muhammadiyah hari ini bukan hanya mempertahankan kekuatan tarjih, tetapi juga:

menghidupkan tarjih dalam bahasa dakwah yang komunikatif dan menyentuh jiwa generasi muda.

Kesimpulan

Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah merupakan produk ijtihad kolektif yang sangat kuat secara metodologis dan ilmiah. Namun kekuatan metodologi tidak otomatis menghasilkan daya pengaruh sosial apabila tidak disertai kemampuan komunikasi dakwah yang efektif.

Keberhasilan sebagian dakwah tekstual terletak bukan hanya pada isi, tetapi pada:

  • kesederhanaan narasi,
  • kekuatan identitas,
  • dan kemampuan retorika mubaligh.

Karena itu dakwah Muhammadiyah memerlukan integrasi antara:

  • kekuatan tarjih,
  • hikmah dakwah,
  • pedagogi komunikasi,
  • dan pemahaman psikologi jamaah.

Dengan demikian, tarjih tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, tetapi benar-benar hidup sebagai tuntunan yang:

  • dipahami,
  • diterima,
  • dan diamalkan oleh masyarakat luas.

Penutup

Pada akhirnya, persoalan utama dakwah Muhammadiyah bukan terletak pada kurangnya dalil, lemahnya metodologi, atau miskinnya khazanah keilmuan. justru merupakan salah satu warisan intelektual paling berharga dalam tradisi Islam modern Indonesia.

Masalah yang sering muncul adalah bagaimana hasil tarjih itu hadir di tengah jamaah.

Tarjih dibuat bukan untuk membingungkan warga dengan tumpukan perdebatan, melainkan untuk:

  • menyaring,
  • mematangkan,
  • dan menghadirkan tuntunan yang lebih kuat serta lebih aman diamalkan.

Karena itu ketika proses tarjih telah dilakukan secara kolektif melalui:

  • pengkajian dalil,
  • kritik riwayat,
  • musyawarah,
  • dan pertimbangan para ahli,

maka yang dibutuhkan jamaah pada umumnya bukan lagi membuka seluruh silang pendapat dari awal, tetapi:

mendapatkan pegangan yang matang, jelas, dan menenangkan.

Di sinilah dakwah Muhammadiyah memerlukan keseimbangan antara:

  • kekuatan metodologi,
  • ketegasan pendirian,
  • dan hikmah komunikasi.

Moderasi bukan berarti kebimbangan.
Keterbukaan bukan berarti kehilangan arah.
Dan menghargai perbedaan bukan berarti meniadakan keputusan tarjih.

Sebab bila setiap persoalan terus dikembalikan kepada seluruh perdebatan tanpa ujung, maka jamaah akan bertanya:

“Kalau begitu, apa fungsi tarjih?”

Tarjih hadir justru agar warga tidak dibebani seluruh kerumitan “dapur ijtihad”.
Sebagaimana jamaah menikmati makanan yang telah matang, demikian pula mereka berharap mendapatkan tuntunan yang telah ditimbang secara ilmiah dan dipertanggungjawabkan secara kolektif.

Karena mayoritas jamaah tidak mencari kerumitan metodologi, tetapi:

  • ketenangan dalam beragama,
  • kejelasan dalam beramal,
  • dan bimbingan yang membumi.

Maka tantangan dakwah Muhammadiyah ke depan bukan sekadar menjaga kekuatan ilmiah tarjih, tetapi juga menghadirkannya melalui mubaligh yang:

  • matang ilmunya,
  • matang komunikasinya,
  • memahami psikologi jamaah,
  • dan mampu menghidupkan tarjih sebagai tuntunan yang dekat dengan kehidupan manusia.

Dengan demikian, tarjih tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, melainkan benar-benar menjadi:

cahaya tuntunan yang dipahami, diterima, dan dihidupi jamaah.


Komentar