RESENSI BUKU : Darurat Salafisme di Muhammadiyah
Book Club
Menjaga Nalar Berkemajuan di Tengah Arus Salafisme
Judul Buku : Darurat Salafisme di Muhammadiyah
Penulis : Dr. Sholihul Huda, M.Fil.I.
Penerbit : Galena Press
Cetakan : I, 2026
Tebal : xiv + 200 halaman
Peresensi : Maulida Pujiayu Kristanti, S.Keb.
(Ketua Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Masangan Wetan Sidoarjo dan Bidan RS PKU Muhammadiyah Surabaya)
Buku Darurat Salafisme di Muhammadiyah karya Dr. Sholihul Huda hadir sebagai diskursus krusial di tengah pergeseran peta ideologi Islam kontemporer di Indonesia. Karya ini bukan sekadar catatan kritis, melainkan sebuah alarm intelektual bagi organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, untuk meninjau kembali arah kompas ideologisnya. Penulis memotret fenomena penetrasi paham Salafisme yang mulai merambah ruang-ruang dakwah Muhammadiyah, yang jika dibiarkan berpotensi menggerus identitas asli gerakan ini sebagai pengusung "Islam Berkemajuan".
Secara metodologis, Sholihul Huda berhasil membedah perbedaan fundamental antara Muhammadiyah dan Salafisme. Meski keduanya bertemu dalam jargon "Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah", penulis menunjukkan adanya jurang epistemologis yang dalam. Muhammadiyah menggunakan Manhaj Tarjih yang mengintegrasikan wahyu dengan rasionalitas dan konteks sosial (maqashid syariah). Sebaliknya, Salafisme cenderung terjebak pada pendekatan literalistik yang rigid. Perbedaan inilah yang membuat Muhammadiyah bersifat inklusif dan adaptif, sementara corak Salafisme sering kali menjadi eksklusif dan mudah melabeli pihak lain dengan tuduhan bid'ah.
Sistematika buku ini disusun dengan rapi untuk membantu pembaca memahami akar masalah secara bertahap. Penulis memulai dengan mengukuhkan kembali fondasi Islam Berkemajuan sebagai sintesis antara wahyu dan etos modernitas. Selanjutnya, ia memetakan genealogis Salafisme secara objektif, membaginya ke dalam spektrum puritan, haraki, hingga jihadi. Penjelasan ini penting agar pembaca tidak terjebak dalam generalisasi sempit, melainkan memahami bahwa Salafisme adalah gerakan dengan beragam wajah.
Salah satu poin paling tajam dalam buku ini adalah analisis mengenai peran media sosial. Sholihul Huda menyoroti bagaimana algoritma digital dan konten dakwah instan telah menjadi pintu masuk utama Salafisme ke kalangan generasi muda Muhammadiyah. Ketika kader muda lebih memilih ceramah daring yang normatif daripada pengajian ideologis yang sistematis, terjadi erosi budaya tabayyun yang digantikan oleh klaim kebenaran tunggal. Bagi penulis, ancaman terbesar bukanlah kekerasan fisik, melainkan perubahan cara berpikir yang perlahan mematikan tradisi dialog.
Dari perspektif gender, buku ini memberikan catatan penting bahwa puritanisme yang terlalu tekstual berpotensi membatasi ruang gerak perempuan. Sebagai organisasi yang lama memperjuangkan emansipasi melalui 'Aisyiyah, infiltrasi ideologi konservatif dapat menjadi langkah mundur bagi partisipasi perempuan di ruang publik.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa catatan. Penggunaan kata "Darurat" pada judul memberikan nuansa alarmistik yang mungkin terasa terlalu dramatis bagi sebagian pihak. Penulis juga cenderung sangat konfrontatif dalam menilai Salafisme, sehingga akan lebih kokoh jika argumennya diperkuat dengan data lapangan yang lebih luas, seperti survei empiris di institusi pendidikan Muhammadiyah.
Sebagai kesimpulan, Darurat Salafisme di Muhammadiyah adalah bacaan wajib bagi aktivis, akademisi, dan kader Muhammadiyah. Sholihul Huda mengingatkan kita bahwa menjaga moderasi bukan berarti bersikap lemah, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan Islam tetap menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil 'alamin). Buku ini adalah ajakan reflektif untuk pulang ke rumah besar Islam Berkemajuan yang inklusif, mencerahkan, dan berorientasi pada peradaban.
■ @diq
MATAN, Edisi 239, Juni 2026, hlm. 50

Komentar
Posting Komentar