DAUR ULANG KRISIS ETIKA : Dalam Peradaban
Jurnal
DAUR ULANG KRISIS ETIKA DALAM PERADABAN
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, membentuk opini, dan membangun relasi sosial. Namun kemajuan tersebut tidak serta-merta mengubah watak dasar manusia. Berbagai persoalan moral yang telah dikenal sejak zaman kuno, seperti hasad, ghibah, fitnah, namimah, dan tajassus, terus muncul dalam bentuk yang berbeda sesuai perkembangan zaman. Tulisan ini mengkaji fenomena tersebut melalui pendekatan humaniora dengan menghubungkan perspektif agama, filsafat, psikologi sosial, dan kearifan lokal. Kajian ini menunjukkan bahwa teknologi bukanlah sumber utama kerusakan sosial, melainkan sarana yang memperbesar dampak kecenderungan manusia yang telah ada sejak lama. Oleh karena itu, nilai-nilai etika yang diwariskan agama, filsafat, dan tradisi kebijaksanaan tetap relevan sebagai fondasi peradaban di era digital.
Kata kunci: hasad, ghibah, fitnah, etika sosial, humaniora, persepsi, peradaban digital.
Pendahuluan
Peradaban modern menghadapi sebuah paradoks. Di satu sisi, manusia mencapai kemajuan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan tata kelola sosial. Di sisi lain, masyarakat justru menghadapi krisis kepercayaan, polarisasi sosial, penyebaran kebencian, disinformasi, serta pertarungan narasi yang semakin intens.
Di tengah situasi tersebut muncul sebuah ungkapan yang sering terdengar:
"Fakta bisa dikalahkan oleh persepsi."
Ungkapan ini menggambarkan keadaan ketika apa yang dipercaya masyarakat tidak selalu ditentukan oleh kebenaran objektif, melainkan oleh kekuatan narasi, pengulangan informasi, dan kemampuan memengaruhi emosi publik.
Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa persoalan yang telah diperingatkan agama, filsafat, dan para bijak selama ribuan tahun tetap muncul dalam kehidupan manusia modern?
Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa kemajuan teknologi tidak mengubah hakikat dasar manusia. Yang berubah adalah medium dan skalanya. Sementara hasad, kesombongan, ketamakan, ghibah, dan fitnah tetap menjadi bagian dari dinamika kemanusiaan.
Hasad sebagai Akar Kerusakan Sosial
Dalam banyak tradisi keagamaan dan filsafat, hasad dipandang sebagai salah satu akar kerusakan moral.
Hasad bukan sekadar keinginan memiliki apa yang dimiliki orang lain. Hasad adalah ketidakrelaan melihat orang lain memperoleh kebaikan. Dari sinilah muncul kecenderungan untuk menjatuhkan, merendahkan, atau mengurangi nilai orang lain demi memulihkan harga diri sendiri.
Menariknya, hasad sering berawal dari hal-hal yang tampak kecil:
- keinginan yang tidak terpenuhi,
- rasa tidak dihargai,
- kecemburuan sosial,
- kegagalan menerima kenyataan,
- atau perasaan kalah dalam persaingan hidup.
Pada tahap awal, perasaan tersebut bersifat personal. Namun ketika dibiarkan berkembang, ia berubah menjadi energi sosial yang destruktif.
Dari hasad lahir kebencian.
Dari kebencian lahir pembenaran.
Dari pembenaran lahir tindakan untuk merusak pihak yang dianggap sebagai penyebab ketidakpuasan.
Ghibah, Fitnah, Namimah, dan Tajassus sebagai Instrumen Sosial
Ketika hasad memasuki ruang sosial, ia membutuhkan sarana untuk menyebarkan pengaruhnya.
Dalam tradisi Islam dikenal beberapa bentuk penyimpangan sosial yang berkaitan dengan lisan dan informasi:
- Ghibah, yaitu membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya meskipun benar.
- Fitnah, yaitu menyampaikan sesuatu yang tidak benar tentang seseorang.
- Namimah, yaitu mengadu domba dengan memindahkan informasi dari satu pihak kepada pihak lain untuk menimbulkan permusuhan.
- Tajassus, yaitu mencari-cari kesalahan atau aib orang lain.
Keempat perilaku tersebut memiliki satu kesamaan: membentuk persepsi tentang seseorang tanpa menghadirkan orang yang dibicarakan secara adil.
Dalam masyarakat tradisional, dampaknya mungkin terbatas pada lingkungan tertentu. Namun dalam masyarakat digital, daya rusaknya meningkat secara eksponensial.
Dari Obrolan Warung ke Industri Persepsi
Pada masa lalu, ghibah dan fitnah umumnya berlangsung dalam lingkup kecil.
Di teras rumah.
Di pasar.
Di warung kopi.
Di lingkungan keluarga.
Namun perkembangan teknologi digital telah mengubah pola tersebut secara mendasar.
Saat ini persepsi dapat diproduksi secara sistematis melalui:
- media sosial,
- algoritma digital,
- influencer,
- buzzer,
- jaringan media,
- dan dukungan pendanaan yang besar.
Akibatnya, pembentukan opini publik tidak lagi selalu berlangsung secara alami.
Narasi dapat dirancang.
Emosi dapat diarahkan.
Perhatian publik dapat dikendalikan.
Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan lagi sekadar mencari kebenaran, tetapi sering kali mencari pembenaran.
Apa yang berulang-ulang disampaikan cenderung dipercaya.
Apa yang viral dianggap penting.
Apa yang dominan dalam ruang digital dianggap mewakili kenyataan.
Padahal dominasi informasi tidak identik dengan kebenaran informasi.
Ketidaksinkronan Moral dalam Kehidupan Publik
Masyarakat modern juga menghadapi persoalan lain, yaitu ketidaksinkronan antara nilai yang diajarkan dan praktik yang dipertontonkan.
Dalam keluarga, anak diajarkan:
- berkata jujur,
- menjaga lisan,
- menghormati orang lain,
- tidak memfitnah,
- dan tidak mencari-cari kesalahan.
Namun dalam ruang publik, masyarakat sering menyaksikan praktik yang bertolak belakang dengan nilai tersebut.
Fenomena ini memunculkan krisis keteladanan.
Lebih jauh lagi, muncul pertanyaan apakah nilai moral hanya berlaku bagi individu biasa atau juga berlaku bagi mereka yang memegang kekuasaan.
Secara etis, tidak ada alasan untuk memisahkan keduanya.
Amanah publik seharusnya merupakan perluasan dari amanah pribadi.
Karakter yang baik dalam keluarga seharusnya tetap baik dalam jabatan.
Kejujuran yang berlaku dalam kehidupan pribadi seharusnya tetap berlaku dalam kehidupan publik.
Agama, Filsafat, dan Kearifan Lokal: Sebuah Titik Temu
Menariknya, berbagai tradisi kebijaksanaan manusia bertemu pada kesimpulan yang hampir sama.
Tradisi Islam mengajarkan:
- tabayyun,
- amanah,
- keadilan,
- pengendalian hawa nafsu,
- dan penjagaan lisan.
Filsafat Stoik mengajarkan:
- pengendalian diri,
- fokus pada hal yang berada dalam kendali,
- serta pembebasan diri dari dorongan emosional yang destruktif.
Kearifan Jawa mengajarkan:
- eling lan waspada,
- ajining diri saka lathi,
- aja adigang, adigung, adiguna,
- dan sepi ing pamrih rame ing gawe.
Meskipun lahir dari konteks budaya yang berbeda, semuanya mengarah pada tujuan yang sama: membentuk manusia yang mampu mengendalikan dirinya sebelum berusaha mengendalikan orang lain.
Mengapa Nasihat Lama Selalu Relevan?
Sebagian orang menganggap ajaran moral kuno tidak lagi relevan dalam dunia modern.
Pandangan ini mengabaikan satu kenyataan penting:
Teknologi berubah jauh lebih cepat daripada watak manusia.
Media berubah.
Sarana komunikasi berubah.
Sistem ekonomi dan politik berubah.
Namun manusia tetap berhadapan dengan:
- ego,
- ambisi,
- ketamakan,
- kecemburuan,
- hasad,
- dan keinginan untuk berkuasa.
Karena itulah agama, filsafat, dan kebijaksanaan tradisional terus mengulang pesan yang sama dari generasi ke generasi.
Bukan karena manusia tidak cerdas.
Melainkan karena manusia mudah lupa.
Kesimpulan
Peradaban digital bukanlah pencipta penyakit sosial baru. Ia hanya memperbesar dan mempercepat penyebaran penyakit lama yang telah menyertai manusia sepanjang sejarah.
Hasad berkembang menjadi kebencian.
Kebencian berkembang menjadi ghibah dan fitnah.
Ghibah dan fitnah berkembang menjadi polarisasi sosial.
Polarisasi sosial berkembang menjadi krisis kepercayaan dan konflik yang lebih luas.
Dalam situasi demikian, tantangan terbesar manusia modern bukan sekadar memperoleh informasi, melainkan menjaga kejernihan akal, kebersihan hati, dan kedewasaan moral.
Pada akhirnya, peradaban tidak runtuh pertama kali karena kemiskinan, kelemahan militer, atau keterbelakangan teknologi. Peradaban mulai retak ketika hasad dianggap kewajaran, fitnah dianggap strategi, ghibah dianggap hiburan, tajassus dianggap kecerdasan, dan kekuasaan digunakan untuk membenarkan semuanya.
Ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya kebenaran, melainkan juga kepercayaan, adab, dan kemanusiaan yang menjadi fondasi utama kehidupan bersama.

Komentar
Posting Komentar