KAJIAN JUM'AT PAGI : Ghibah, Fitnah, Namimah, Tajassus
Masjid Al-Ikhlas Pasar Ajibarang
LIDAH LEBIH TAJAM DARI PEDANG: Ghibah, Fitnah, Tajassus dan Etika Berbahasa
Pendahuluan
Dalam hampir semua peradaban manusia, ucapan dipandang sebagai kekuatan yang mampu membangun sekaligus menghancurkan. Jika pedang melukai tubuh, maka kata-kata dapat melukai kehormatan, harga diri, dan hubungan antarmanusia. Oleh karena itu lahirlah berbagai pepatah seperti:
"Lidah lebih tajam daripada pedang."
Pepatah ini bukan sekadar ungkapan retoris, melainkan hasil pengamatan panjang terhadap realitas sosial. Sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik, permusuhan, bahkan peperangan bermula dari ucapan, kabar burung, fitnah, atau hasutan. Dalam perspektif Islam, fenomena ini dikenal melalui konsep ghibah, fitnah, tajassus, namimah (adu domba), dan berbagai bentuk penyimpangan lisan lainnya.
Kajian humaniora memandang persoalan tersebut bukan hanya sebagai masalah agama, tetapi juga sebagai persoalan etika, psikologi, budaya, dan relasi sosial.
Hakikat Ghibah dan Fitnah
Dalam pemahaman masyarakat awam, ghibah sering disamakan dengan fitnah. Padahal keduanya berbeda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟
قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ:
ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟
قَالَ:
إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Artinya:
"Tahukah kalian apa itu ghibah?"
Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Beliau bersabda:
"Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka."
Ditanya:
"Bagaimana jika apa yang saya katakan itu memang ada padanya?"
Beliau menjawab:
"Jika benar ada padanya, maka engkau telah mengghibahinya. Jika tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya."
Dari definisi ini dapat dipahami:
- Ghibah adalah membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya, meskipun benar.
- Fitnah adalah membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak benar.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya kebohongan, melainkan juga persoalan kehormatan manusia. Seseorang dapat menjadi korban bukan hanya karena dusta, tetapi juga karena informasi yang benar namun disampaikan tanpa hak dan tanpa manfaat.
Larangan Ghibah dalam Al-Qur'an
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
(QS. : 12)
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara prasangka, tajassus, dan ghibah. Ghibah digambarkan sebagai memakan bangkai saudara sendiri, sebuah perumpamaan yang sangat keras untuk menunjukkan beratnya dosa tersebut.
Maksiat Lisan yang Sering Tidak Disadari
Dalam masyarakat, istilah "maksiat" sering dikaitkan dengan perjudian, perzinaan, mabuk, atau kesyirikan. Padahal dalam perspektif syariat, setiap pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah termasuk maksiat.
Dengan demikian:
- Ghibah adalah maksiat.
- Fitnah adalah maksiat.
- Adu domba adalah maksiat.
- Dusta adalah maksiat.
- Membuka aib orang lain adalah maksiat.
Ironisnya, maksiat lisan sering dianggap ringan karena tidak meninggalkan bekas fisik yang terlihat. Padahal dampaknya dapat menjalar luas dan bertahan lama.
Tajassus: Mencari-cari Kesalahan Orang
Masih dalam ayat yang sama Allah berfirman:
وَلَا تَجَسَّسُوا
Artinya:
"Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain."
Ayat ini menjadi dasar larangan membuka aib, memata-matai, dan membongkar kesalahan pribadi seseorang yang telah Allah tutupi.
Kisah yang mendapati seseorang sedang bermaksiat di dalam rumahnya sering dijadikan contoh.
Riwayat yang populer itu umumnya hanya menyebut bahwa Umar mendapati seseorang sedang melakukan sesuatu yang beliau anggap sebagai kemaksiatan di dalam rumahnya. Namun ketika ditelusuri dalam sumber-sumber adab dan sejarah, rincian kemaksiatannya tidak selalu sama.
Dalam beberapa versi riwayat disebutkan Umar mendengar suara gaduh dan nyanyian dari sebuah rumah pada malam hari. Ketika masuk, beliau mendapati seorang laki-laki sedang minum khamar. Lalu terjadilah dialog tentang tiga kesalahan Umar bin Khathab ra.
"Ketika Umar hendak menegurnya, orang itu mengingatkan bahwa Umar telah melakukan tiga hal: tajassus, masuk bukan dari pintu, dan masuk tanpa izin serta salam. Umar menerima koreksi tersebut. Kisah ini menunjukkan bahwa Islam melarang kemaksiatan, tetapi juga melarang mencari-cari kemaksiatan yang tersembunyi".
Perspektif Humaniora: Mengapa Manusia Suka Membicarakan Orang Lain?
Dari sudut psikologi sosial, kebiasaan membicarakan orang lain muncul karena berbagai faktor:
- Keinginan memperoleh pengakuan sosial.
- Rasa ingin tahu terhadap kehidupan orang lain.
- Keinginan merasa lebih baik dibanding orang lain.
- Kebutuhan menjadi bagian dari kelompok.
- Mengisi kekosongan percakapan.
Karena itu ghibah sering muncul bukan dari niat jahat yang disengaja, melainkan dari kebiasaan sehari-hari yang dianggap wajar.
Ungkapan seperti:
"Saya cuma cerita."
"Saya cuma menyampaikan fakta."
"Ini kan kenyataannya."
"Lebih satir lagi, kulak jere adon ndean."
Sering kali menjadi pembenaran bagi perilaku yang sesungguhnya termasuk ghibah.
Stoikisme dan Pengendalian Lisan
Para filsuf Stoik sejak ribuan tahun lalu telah memperingatkan bahaya terlalu sibuk membicarakan orang lain.
menekankan pentingnya mengarahkan perhatian kepada perbaikan diri daripada menghabiskan waktu memikirkan kesalahan orang lain.
Sementara mengajarkan bahwa manusia seharusnya memusatkan energi pada hal-hal yang berada dalam kendalinya. Kehidupan dan kekurangan orang lain berada di luar kendali kita, sedangkan karakter dan ucapan kita berada dalam kendali kita sendiri.
Dalam perspektif Stoik, kebiasaan membicarakan orang lain menunjukkan kegagalan seseorang dalam mengendalikan pikirannya sendiri.
Kebijaksanaan Jawa dan Budaya Menjaga Lisan
Nilai-nilai serupa juga ditemukan dalam tradisi Jawa.
Ajining diri saka lathi.
Kehormatan seseorang tercermin dari lisannya.
Demikian pula nasihat:
Aja rumangsa bisa, nanging bisa'a rumangsa.
Jangan merasa paling mampu, tetapi milikilah kepekaan dan kesadaran diri.
Budaya Jawa juga mengenal prinsip empan papan, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tidak semua yang diketahui harus diucapkan, dan tidak semua yang benar harus disebarluaskan.
Fitnah Lebih Besar Bahayanya
Allah SWT berfirman:
وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ
(QS. : 217)
Artinya:
"Fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan."
Ayat ini menunjukkan betapa dahsyatnya kerusakan sosial yang dapat ditimbulkan oleh fitnah. Nama baik yang hancur, kepercayaan yang runtuh, dan persaudaraan yang retak sering kali sulit dipulihkan.
Menutup Aib Sesama Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya:
"Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat."
Hadits ini menunjukkan bahwa sebagaimana Allah menutupi banyak kekurangan manusia, manusia pun diperintahkan untuk tidak gemar membuka aib sesamanya.
Luka Sosial yang Ditimbulkan oleh Lidah
Pedang dapat melukai tubuh, tetapi luka akibat ucapan sering kali lebih sulit disembuhkan.
Fitnah dapat:
- menghancurkan reputasi,
- merusak keluarga,
- memutus persaudaraan,
- menimbulkan konflik berkepanjangan.
Sementara ghibah perlahan-lahan mengikis kepercayaan sosial. Ketika seseorang mengetahui dirinya sering dibicarakan, lahirlah kecurigaan, ketidaknyamanan, dan jarak emosional dalam masyarakat.
Karena itu muncul pepatah:
"Luka oleh pedang dapat sembuh, luka oleh lidah sulit sembuh."
Menjaga Lisan sebagai Fondasi Peradaban
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
Dan beliau juga bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Artinya:
"Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, yang ia anggap sepele, namun Allah mengangkat derajatnya karenanya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, yang ia anggap sepele, namun karenanya ia terjerumus ke dalam neraka."
Salah satu ciri masyarakat yang beradab adalah kemampuan menjaga kehormatan sesama manusia. Tidak setiap kekurangan perlu diumbar, tidak setiap aib perlu dibuka, dan tidak setiap informasi perlu disebarluaskan.
Istighfar
Salah satu sunnah Rasulullah ﷺ setelah salam dari shalat adalah membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ
"Aku memohon ampun kepada Allah."
Istighfar setelah shalat mengandung pelajaran penting bahwa seorang hamba menyadari ibadahnya masih terdapat kelalaian, kurang khusyuk.
Rasulullah Muhammad saw bersabda
"Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari."
(HR. Sahih Bukhari)
Seorang manusia yang maksum saja beristighfar, maka kita lebih membutuhkannya.
Para ulama juga menjelaskan bahwa sebesar apa pun ibadah manusia, tetap tidak akan mampu membalas nikmat Allah yang tak terhingga. Maka istighfar setelah ibadah adalah bentuk tawadhu dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan-Nya.
Karena itu ada ungkapan hikmah:
Istighfar setelah maksiat adalah taubat, sedangkan istighfar setelah ibadah adalah adab."
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, biasanya semakin sedikit ia melihat amalnya dan semakin banyak ia beristighfar, karena ia menyadari bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada seluruh amal yang dimilikinya.
Penutup
Ghibah dan fitnah bukan sekadar persoalan ucapan, melainkan persoalan kemanusiaan. Islam memandangnya sebagai dosa, filsafat memandangnya sebagai kegagalan pengendalian diri, sementara humaniora melihatnya sebagai ancaman bagi kohesi sosial.
Di tengah era media sosial, ketika setiap orang dapat menjadi penyebar informasi dalam hitungan detik, pesan lama itu justru semakin relevan:
"Ketajaman pedang hanya mampu melukai tubuh, tetapi ketajaman lidah mampu melukai hati, menghancurkan kehormatan, dan memecah persaudaraan."
Rangkaian ayat dan hadits di atas memperlihatkan satu mata rantai yang saling berhubungan:
Prasangka → Tajassus → Ghibah → Fitnah → Rusaknya Persaudaraan.
Sebaliknya, Islam mengajarkan:
Husnuzan (berbaik sangka), Tabayun (klarifikasi), Satrul 'Uyub (menutup aib), dan Hifzhul Lisan (menjaga lisan).
Karena pada akhirnya, peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan manusia, tetapi juga oleh kematangan lisan, kejernihan hati, dan keluhuran adab dalam memperlakukan sesama manusia.
"Beristghfarlah sesungguhya manusia adalah mahluq lemah".
Baca Juga :
DAUR ULANG KRISIS ETIKA PERADABAN

Komentar
Posting Komentar