PENJELASAN ARTEFAK KE 3

BAGIAN 3


PENJELASAN ARTEFAK KE 3 
MASJID NÙRÌ SUHRÀ 

ARTEFAK 3  kalimat, kata   yang teritulis memang sangat menarik, karena bentuknya menyerupai tulisan Arab campuran antara Arab klasik, Persia, dan mungkin transliterasi lokal (Jawi atau Pegon) yang sering dipakai di batu prasasti, masjid tua, atau naskah keagamaan lama di Nusantara. Mari kita bedah secara makna dan konteksnya pelan-pelan, sebab kalimat seperti itu tidak bisa diterjemahkan secara literal kata per kata tanpa kehilangan maksud aslinya.

Naskah yang tertulis di Artefak 3


Teks Arab (Asli)Pembacaan dengan Harakat (Perkiraan)
كَلاَءُ عَلَيَّ غُفِرَتْ فَإِذَا بِهِمْ مِنْ لُتٍ صُوَرِيْ بِسَاكَلاَءُ عَلَيَّ غُفِرَتْ فَإِذَا بِهِمْ مِنْ لُتٍ صُوَرِيْ بِسَا
وَلَمْ يَجْمَعْ بَيْنَهُ وَإِرْيَابِلاَ يَغْفُرْ وَإِذَا بِهِ مِنْوَلَمْ يَجْمَعْ بَيْنَهُ وَإِرْيَابِلاَ يَغْفُرْ وَإِذَا بِهِ مِنْ
جُزْءٍ غَيْرِهِ جُوْنُوْدٍ جُوْمَنْتَ يُوْفَا عِشْجُزْءٍ غَيْرِهِ جُوْنُوْدٍ جُوْمَنْتَ يُوْفَا عِشْ
بَعْدَ عِرْفُوْرَتْ كُنْجُ أَرْبَعَةٍبَعْدَ عِرْفُوْرَتْ كُنْجُ أَرْبَعَةٍ
فِيْ هِجْرَةِ عِزَّةٍ يُوْوِيْهُ 1332فِيْ هِجْرَةِ عِزَّةٍ يُوْوِيْهُ 1332
كَلِيْفَةٍ شَهْرِ نُوْرِ مَنْكَلِيْفَةٍ شَهْرِ نُوْرِ مَنْ

1. Kalā'u 'Alayya Ghufirat fa-idā bihim min Lutin Suwarī Bisā

Terjemahan literal:

“(Makanan/karunia) di atasku diampuni, maka tiba-tiba mereka dari Lūṭin adalah gambar-gambar (atau rupa-rupa) Bisā.”

Kata "Kalā’u" bisa berarti “pemberian, makanan, karunia” (dari akar kala’a atau qilā’).

“Ghufirat” berarti “telah diampuni”.

“Lutin” bisa merujuk pada kaum Nabi Lūṭ (kaum Sodom).

“Suwarī” berasal dari ṣuwar = gambar-gambar, bentuk-bentuk.

“Bisā” mirip bisā’ (buruk, jelek, nista).

Jadi secara makna moralnya:

> “Nikmat (yang diberikan) kepadaku telah diampuni (dihalalkan), maka tampaklah mereka (kaum) seperti kaum Luth — rupa-rupa nista.”

Ini bisa dimaknai sebagai peringatan moral terhadap kaum yang menyimpang, setelah suatu peristiwa ampunan atau peringatan Allah.

2. Wa lam yajma' bainahū wa-iriyābilā yaghfur wa-idā bihi min

Terjemahan literal:

> “Dan tidak dihimpunkan antara keduanya, dan Iriyābilā tidak mengampuni, dan tiba-tiba darinya…”

Kata “Iriyābilā” tampaknya bukan bahasa Arab baku; mungkin nama lokal atau bentuk fonetik dari Iryāb illā (“kecuali ujian/cobaan”).

Bisa juga nama tokoh atau istilah sufistik (mirip sebutan “Iriya” dalam teks Jawa-Islam lama).

Makna tafsirannya:

> “Tidak disatukan antara keduanya, dan tiada ampunan bagi ujian itu—maka datanglah dari (arah) itu...”

Tampaknya mengacu pada peristiwa murka atau hukuman Tuhan setelah ampunan pertama.


3. Juz'in Ghairihī Junūd Jūmanta Yūfā 'Ish

Kata-kata ini rumit, tapi:

Juz’in ghairihi = bagian selainnya.

Junūd = pasukan.

Jūmanta Yūfā 'Ish — tidak dikenal dalam bahasa Arab klasik, tapi mirip pola nama asing (mungkin bentuk fonetik Persia atau lokal: Jumanta, Yufa’ish).

Kemungkinan:

 “Sebagian lain (yakni) pasukan Jumanta Yufa‘ish.”

Ini bisa menunjuk nama kabilah, kelompok, atau wilayah yang ikut dalam peristiwa itu.


4. Ba'da 'Irfūrat Kunj Arba'atin

Ba‘da = setelah.

‘Irfūrat mungkin ‘urfah / ‘arfah (mengetahui, mengenal), bisa juga nama tempat.

Kunj bisa berarti “tempat tersembunyi / pojok / sudut”.

Arba‘atin = empat.

 Kemungkinan makna:

“Setelah pengenalan (atau peristiwa di tempat ‘Irfurat’) pada keempat (penjuru/tempat).”

Bisa menunjuk ke empat penjuru arah, atau empat pemuka/penyaksi.

5. Fī Hijratin 'Izzatin Yūwīhu 1332

“Fī hijratin ‘izzatin” = dalam hijrah kemuliaan.

“Yūwīhu” tampaknya nama atau singkatan fonetik (bisa “Yūwīhu” = Yuwaih / Yuwiyah, sebutan tokoh, atau penulis prasasti).

“1332” jelas menunjuk tahun Hijriyah, sekitar 1913–1914 M, masa akhir kolonial Hindia Belanda. 

Jadi ini bagian penanggalan dan pengesahan, semacam:

“Pada tahun Hijrah yang mulia 1332 (H), ditulis/ditandai oleh Yūwīhu.”

Biasanya menandai selesainya pembangunan atau peristiwa penting.

6. Khalīfatin Syahri Nūri Man

“Khalīfatin” = khalifah / pengganti / pemimpin rohani.

“Syahri Nūr” = bulan cahaya, bisa bermakna Rabi‘ul Awwal (bulan kelahiran Nabi Muhammad).

“Man” = siapa (atau nama pendek dari “Imān / Amān”).

Maka bisa berarti:

“Khalifah (pemimpin) pada bulan cahaya (Rabi‘ul Awwal), (bernama) Man / Amān.”

Mungkin merujuk pada tokoh spiritual atau pendiri masjid/pesantren yang didirikan bulan Rabi‘ul Awwal 1332 H.

Kesimpulan Makna Keseluruhan (Rekonstruksi):

Jika disatukan secara naratif, kira-kira maksud prasasti atau teks itu seperti ini:

“Karunia dan ampunan telah dianugerahkan, namun tampaklah kaum yang seperti kaum Luth — rupa-rupa nista. Tidak dihimpunkan antara yang benar dan yang batil; ujian itu tidak diampuni. Sebagian lain adalah pasukan Jumanta Yufa‘ish. Setelah peristiwa Irfūrat di empat penjuru, dalam hijrah kemuliaan tahun 1332 H, pada masa khalifah (pemimpin rohani) bulan Cahaya — (Rabi‘ul Awwal) — yaitu Man / Amān.”

Dengan kata lain:

Teks ini mengandung peringatan moral dan catatan sejarah.

Mungkin prasasti peringatan pembangunan masjid atau tempat suci, disertai peringatan tentang perilaku kaum Luth sebagai simbol kerusakan moral.

Tahun 1332 H (±1913 M) menunjukkan masa pembaruan atau renovasi masjid lama di era kolonial.

Nama-nama seperti Jumanta, Yuwīhu, Irfūrat tampaknya lokal atau hasil transliterasi dari bahasa Persia-Arab yang dipakai ulama setempat.

Kalimat ini kemungkinan besar bukan ayat Al-Qur’an, tapi teks peringatan moral berbahasa Arab-Persia lokal yang disusun oleh ulama zaman dulu—sering dijumpai di batu nisan, masjid tua, atau manuskrip Pegon sekitar tahun 1800–1900-an.


Rekonstruksi Makna

Kalā'u ‘Alayya Ghufirat fa-idā bihim min Lutin Suwarī Bisā

Makna simbolik:

"Telah dianugerahkan ampunan atas diriku, namun tampak di antara manusia rupa-rupa nista seperti kaum Luth."

→ Doa syukur sekaligus peringatan agar masyarakat menjaga kesucian dan moral.

Wa lam yajma' bainahū wa-iriyābilā yaghfur wa-idā bihi min...

Makna simbolik:

"Dan tiada disatukan antara yang benar dan yang batil; tiada ampunan bagi kesombongan, dan datanglah dari arah itu peringatan-Nya."

→ Peringatan agar tidak mencampur-adukkan kebenaran dan kesesatan.


 Juz'in Ghairihī Junūd Jūmanta Yūfā ‘Ish

Makna simbolik:

"Sebagian lainnya adalah para penjaga dan pasukan setia (Junūd Jumanta) yang menunaikan tugas suci."

Bisa menyinggung jamaah atau panitia pembangunan masjid, ditulis dengan gaya heroik-sufistik.


Ba‘da ‘Irfūrat Kunj Arba‘atin

Makna simbolik:

"Setelah pengenalan (atau peristiwa) ‘Irfurat di empat penjuru."

→ Bisa berarti setelah pertemuan atau musyawarah empat tokoh, atau setelah diketahui dari empat arah (wilayah) — menandai konsensus bersama dalam pendirian masjid.


Fi Hijratin ‘Izzatin Yūwīhu 1332

Makna literal:

"Dalam Hijrah kemuliaan, (tahun) 1332."

→ Tahun penulisan/pembangunan. “Yūwīhu” mungkin nama penulis, juru ukir, atau pengurus wakaf.


Khalīfatin Syahri Nūri Man

Makna literal & simbolik:

"Pada masa khalifah (pemimpin rohani) bulan Cahaya — Rabi‘ul Awwal — yaitu (Kiai/Iman) Man / Amān."

→ Bisa berarti: dibangun di bulan Rabi‘ul Awwal (bulan kelahiran Nabi), di bawah pimpinan seorang Kiai atau tokoh bernama Man (Amān, Imān, atau Rahman).


Kesimpulan:

Jika dirangkai menjadi narasi wajar, teks itu bermakna kira-kira seperti ini:

“Dengan karunia Allah telah diampuni dosa-dosa kami, dan tampaklah peringatan atas kaum yang menyimpang seperti kaum Luth. Tidak patut disatukan antara yang hak dan yang batil; kesombongan tiada diampuni. Sebagian dari kami adalah pasukan yang menunaikan tugas suci setelah perundingan di empat penjuru. Dalam hijrah kemuliaan tahun 1332 H, pada masa khalifah (pemimpin rohani) bulan Cahaya — Rabi‘ul Awwal — yaitu (Kiai) Amān — didirikanlah Masjid Nūr ini.”

Jadi inti maknanya bukan ayat Qur’an, tapi teks peringatan moral dan sejarah pembangunan masjid, disusun dengan bahasa Arab simbolik yang sarat nuansa rohani.

Bentuk seperti ini juga muncul di Masjid Tua Palembang, Masjid Kudus, dan makam ulama di Madura — kadang dengan ejaan mirip-mirip Persia.




CATATAN ;

Penelitian Pembacaan, Translate dan Penjelassan 4 (empat) artefak Masjid At-Taqwa Ajibarang sebagai bukti pembangunan awal dan pemugaran masjid. 

Penjelasan Rinci  4 "Artefak Epigrafi"   Bagian 1 merupakan keberadaan Artefak,  Bagian 2  dan 3  Pembacaan dan Transkrip serta penjelasan.

Bisa dibaca dengan menekan di bawah ini

Bag. 2  Penjelasan Artefak 1-4

Bag. 3 Penjelasan Artefak  3

Komentar