MASJID AT'-TAQWA AJIBARANG 1866

BAGIAN 1




Menelusuri Sejarah   Masjid At-Taqwa Ajibarang 

Berdiri Sejak Tahun 1866 M - 1283H


ISLAM datang menyebar di Jawa melalui jalur perdagangan maritim yang menghubungkan Semenanjung Arabia, Persia, India, dan Tiongkok. Pedagang Arab, Persia, dan India.

Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa. Setelah Demak, penyebaran berlanjut ke Banten, Cirebon, dan wilayah pesisir utara lainnya, serta ke pedalaman Jawa.  

Akulturasi Budaya Islam disebarkan melalui pendekatan sosial-budaya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya situs-situs bersejarah yang menunjukkan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam, seperti arsitektur masjid.

Pengaruh tasawuf juga berperan besar dalam menyebarkan Islam melalui jalur spiritual. Sufisme membantu mempercepat penerimaan Islam di kalangan masyarakat Jawa.

Sebegitu ramah dengan keikhlasan para sufi Jawa menapakan kaki di Ajibarang. Mendirikan masjid di pusat kota tepat di sebelah barat alun-alun (tamkot). Sebagai catatan (tamkot sekarang) dulunya  tanah kosong dengan pepohonan rindang pohon pakis aji, pohon pule dan lainnya menjadi tempat persinggahan para musafir unruk menaruh barang bawaan dan kudanya. Dengan petunjuk autentik artefak  membuka "jendela"  sejarah panjang masjid besar At-Taqwa yang sekarang  dikenal.  Cetho wela-welo menuju sejarah panjang dan spiritualitas pendahulu kita. Dalam Aksara Pegon—gaya penulisan Arab yang digunakan untuk bahasa lokal (Jawa/Melayu)—inskripsi ini menceritakan kisah pendirian, para ulama, dan tanggal-tanggal penting yang membentuk warisan masjid.

Berikut adalah narasi yang terangkum dari pesan-pesan artefak bersejarah tersebut:

1. Nama dan Fondasi Spiritual

Masjid yang dibangun dengan mengindikasikan nama spiritual masjid yakni Masjidu Nūri Suhrā (Masjid Cahaya Suhra).

Mssjidil Nurì Suhrà menyingkap fondasi ajaran yang mendasari masjid, dengan menyebutkan istilah-istilah seperti:

"Sufi Jawa Jawaban"

"Dengan fatwa Sufi Surūq"

Hal ini menunjukkan bahwa masjid ini didirikan di atas landasan tradisi keilmuan Islam, khususnya aliran Sufisme (Tasawuf) yang berkembang pesat di tanah Jawa atau Melayu. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran ajaran spiritual dan fatwa keagamaan.


2. Tahun Pendirian dan Sang Pendiri

Informasi krusial mengenai pendiri dan tanggal penting pendirian masjid dengan jelas.

"Didirikan masjidnya oleh Sufi Zuhri Rambudi Junud pada tahun 1283 Hijriyah."

Angka 1283 H diperkirakan bertepatan dengan tahun 1866 M, menandai momen awal berdirinya bangunan suci ini. Sosok Sufi Zuhri Rambudi Junud dicatat sebagai inisiator atau tokoh utama di balik pembangunan. Ia juga disifati sebagai "Zuhri at-Ta'līm" (Zuhri Sang Pengajar), menekankan perannya sebagai ulama yang berfokus pada pendidikan dan syiar Islam.


3. Peristiwa Penting dan Kronologi Lanjutan

Inskripsi yang memperkuat catatan kronologis dengan tanggal yang sangat spesifik, kemungkinan merujuk pada peresmian, renovasi, atau peristiwa penting lainnya:

"Mencapai pertengahan bulan Rajab di sisi Mānūs 'Ainul Jundi, 8 Februari 1874 Masehi."

Tanggal 8 Februari 1874 M ini jatuh beberapa tahun setelah tahun pendirian 1283 H, memberikan titik sejarah lain yang jelas, memungkinkan keterkaitan dengan peresmian penggunaan, perluasan, atau wafatnya sang pendiri. Namun lebih condong ke renovasi pembangunan masjid mengingat masjid sudah berumur lk 40 tahun.  Dimungkinkan perkembangan bertambahnya jumlah jama'ah.

Sementara itu,  tanggal Hijriyah lanjutan, 1332 H (sekitar 1914 M). Teks  ini bersifat lebih filosofis dan kompleks, sering ditemui dalam catatan sejarah yang menandai:

Pembaruan atau Renovasi Besar: Menarik garis sejarah dari era 'Aīnul Jundī ke era Khalifah pada tahun 1332 H.

Peringatan Penting: Pengingat spiritual yang dicatat pada bulan Rabi'ul Awwal (Syahru Nūr/Bulan Cahaya) sebagai penutup sejarah lisan tersebut.


Kesimpulan 

Ini adalah harta karun sejarah yang membuktikan betapa dinamisnya kehidupan keagamaan di daerah ini. Masjid ini bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah monumen hidup yang telah berdiri kokoh setidaknya sejak tahun 1866 M, didirikan oleh seorang Sufi alim, dan terus melayani umat melalui berbagai zaman dan pergantian kepemimpinan, hingga mencapai tahun 1914 M dan seterusnya.

Kepada pembaca yang budiman mengundang Anda untuk merenungkan warisan ini dan menghargai nilai sejarah yang terkandung dalam setiap ukiran kaligrafi ini. Seyogyanya "artefak" yang ada dipelihara dan ditempatkan di dalam mesjid di depan tempat imam shalat seperti semula.

Tahun 1866 M (1283 H): Pendirian awal oleh Sufi Zuhri Rambudi Junud. 8 Februari 1874 M: Peristiwa penting yang tercatat di pertengahan bulan Rajab. 1914 M (1332 H): Kemungkinan renovasi atau pemugaran menjadi masjid modern. Berbahan batu,  adukan bata merah, kapur dan pasir sebagai a titik balik sejarah baru Tahun 1332 H (1913 M) — masa akhir Hindia Belanda, saat banyak masjid direnovasi dengan ukiran bertulis Arab–Persia.

Bentuk bahasa memadukan Arab klasik (seperti ghufirat, junūd, hijrah), serapan Persia (seperti kunj = sudut/tempat sunyi), dan bentuk lokal fonetik (nama seperti Jumanta, Yūwīhu, ‘Irfūrat). Ini khas naskah keagamaan Melayu–Jawi–Pegon abad ke-19.

Kandungan isi moral-spiritualnya adalah doa syukur dan peringatan, bukan ayat Al-Qur’an, melainkan nasihat simbolik tentang taubat, kemurnian, dan perjuangan membangun rumah Allah. Kata “Khalīfatin Syahri Nūr” menandai bulan Rabi‘ul Awwal, bulan lahirnya Rasulullah SAW, waktu yang dianggap berkah untuk mendirikan masjid.


Daftar Pustaka:

1. Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. (Kencana, 2004).

2. L. W. C. van den Berg. Le Hadramout et les colonies arabes dans l’archipel indien. (1886).

3. Ricklefs, M. C. Islamisation and Its Opponents in Java: A Political, Social, Cultural, and Religious History. (NUS Press, 2012).

4. T. H. Pigeaud. Literature of Java, Volume I: Catalogue of Javanese Manuscripts. (The Hague, 1967).

5. Johns, A. H. “Malay Sufism and the Historical Background of the Malay Mystic Tradition.” Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, Vol. 30, No. 2 (1957).

6. Khalid, M. Nor. Epigrafi Islam di Nusantara: Kajian Inskripsi Arab dan Jawi Abad ke-18–20 M. (UI Press, 1999).

7. Hassan, Ahmad. Pegon dan Perkembangan Tulisan Arab di Jawa. (Balai Pustaka, 1985).

8. Qur’an dan Tafsir Klasik, khususnya tafsir al-Qurṭubī pada kisah Nabi Luth.


CATATAN ;

Penelitian Pembacaan, Translate dan Penjelassan 4 (empat) artefak Masjid At-Taqwa Ajibarang sebagai bukti pembangunan awal dan pemugaran masjid. 

Penjelasan Rinci  4 "Artefak Epigrafi"   Bagian 1 merupakan keberadaan Artefak,  Bagian 2  dan 3  Pembacaan dan Transkrip serta penjelasan.

Bisa dibaca dengan menekan di bawah ini

Bag. 2  Penjelasan Artefak 1-4

Bag. 3 Penjelasan Artefak  3



Komentar